Tausiyah Ramadan
Tausiyah Ramadan oleh Moh Rifian Panigoro: Fenomena Bulan Ramadan
Program yang berjudul Tausiyah Ramadan ini merupakan kolaborasi tribungorontalo.com dan Masjid Sabiilurrasyaad UNG.
Penulis: Redaksi | Editor: Wawan Akuba
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Ustad H. Moh. Rifian Panigoro, membawakan Tausiyah, di Masjid Sabiilurrasyaad UNG, Jum'at (15/3/2024)
Program yang berjudul Tausiyah Ramadan ini merupakan kolaborasi tribungorontalo.com dan Masjid Sabiilurrasyaad UNG.
Program ini ditayangkan di YouTube dan Facebook TribunGorontalo.com setiap hari pukul 19.30 sesudah sholat Isya.
Pada kali ini, giliran Ustad H. Moh. Rifian Panigoro S.Ud. MA yang akan membawakan Kultum.
Berikut adalah Tausiyahnya yang berjudul: Fenomena Bulan Ramadan
***
Jama'ah sholat Isya, yang insya Allah dirahmati dan diberkahi oleh Allah swt.
Pada malam hari ini, Allah masih memudahkan kita untuk bersama-sama mengerjakan Amaliyah pada bulan suci Ramadan 1445 H.
Mudah-mudahan semangat ini akan sampai pada akhir Ramadan.
Kemudian sholawat serta salam kepada baginda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam, yang insyaallah melimpahkan rahmat sampai kepada umatnya yang terus berusaha selalu istiqomah dan menjalankan sunnah-sunnah beliau.
Jama'ah sekalian yang di rahmati Allah, kita tentu sangat berbahagia karena telah memasuki bulan suci Ramadan.
Yang kita ketahui pada bulan suci ini ialah, buka puasa bersama, Tarawih bersama, Sahur bersama, dan berbagai aktifitas yang ada di bulan suci Ramadan.
Ada sebuah tulisan yang berjudul "Fenomena Bulan Suci Ramadan"
Ketika tulisan tersebut di baca, dan fenomena pertama orang kenal, yang dulunya ramai dan berangsur-angsur sedikit di sebutkan.
Fenomena tersebut merupakan ucapan-ucapan "Selamat Marhaban ya Ramadan" menandai bahwa ia siap dan bersemangat menjalani ibadah di bulan suci Ramadan.
Namun seiringnya waktu, semangat tersebut berangsur-angsur hilang.
Oleh sebab itu, kita berupaya bagaimana agar membuat Ramadan menjadi sesuatu yang terus-menerus sebagai mana kita seharusnya senang beribadah di bulan suci Ramadan.
Jama'ah yang dirahmati oleh allah, makanya hal ini akan menjadi ketika kita membaca satu-satunya tentang puasa, yaitu Al-Baqarah ayat 183 :
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
yâ ayyuhalladzîna âmanû kutiba ‘alaikumush-shiyâmu kamâ kutiba ‘alalladzîna ming qablikum la‘allakum tattaqûn
Artinya : Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.
Jama'ah yang di rahmati oleh Allah, ternyata ada sebuah analisa tentang kata "Iman" di dalam ayat tersebut.
Ternyata kata "Iman" memiliki 3 jenjang.
1. Jenjang keimanan yang tinggi, sehingga orang tersebut ketika memasuki Ramadan, orang itu sudah terbiasa dengan Takbirnya, dan dia sudah terbiasa dengan tuhannya, sehingga atmosfer Ramadan yang tinggi, menjadi lebih tinggi lagi.
2. Jenjang keimanan medium, merupakan orang yang terbiasa shalat 5 waktu, namun ketika datangnya bulan Ramadan, atmosfer Ramadan mengantarkan ia menjadi orang yang suka sholat Dhuha dan sudah mulai sholat tahajjud.
3. Dan kemudian ada jenjang keimanan yang bisa disebut rendah, orang-orang seperti ini, hanya pada saat memasuki bulan Ramadan, keimanan mereka akan menyentuh keimanan yang disebut keimanan medium tadi.
Jama'ah yang dirahmati oleh Allah, bisa kita lihat bahwa Ramadan adalah sebuah hadiah yang diberikan oleh allah kepada kita untuk dapat meningkatkan keimanan kita.
Sehingga keimanan yang tinggi, menjadi lebih tinggi lagi, yang medium menjadi tinggi, dan yang rendah menjadi medium.
Maka keimanan tersebut bisa di sebut kromatis, seseorang yang kromatis beriman di bulan suci Ramadan, adalah seseorang yang senang beribadah di bulan suci Ramadan.
Dan ia berharap keimana tersebut bisa bertahan sampai akhir Ramadan, dan ia berharap dapat dibawa di luar dari Ramadan.
Jama'ah sekalian, sesungguhnya Ramadan diciptakan agar semua orang itu mendapatkan kenikmatan beribadah.
Karena apabila tdak ada hal tersebut diciptakan oleh Allah swt. Maka manusia akan terlena dengan kehidupannya sehari-hari.
Maka dari itu, Allah menghadirkan Ramadan agar manusia dapat menyadari bahwa beribadah itu merupakan hal yang menyenangkan.
Sehingga kita sering menemukan alumni-alumni bulan suci Ramadan, yang sukses pada Ramadan dan keimanan mereka bertambah hingga bertahan hingga bulan suci Ramadan berikutnya.
Jama'ah yang di rahmati Allah, ada sebuah ayat Al-Qur'an yang berbunyi :
اَوَلَمۡ يَرَوۡا اِلَى الطَّيۡرِ فَوۡقَهُمۡ صٰٓفّٰتٍ وَّيَقۡبِضۡنَؕؔ ۘ مَا يُمۡسِكُهُنَّ اِلَّا الرَّحۡمٰنُؕ اِنَّهٗ بِكُلِّ شَىۡءٍۢ بَصِيۡرٌ
Awalam yaraw ilat tairi fawqahum saaaffaatinw wa yaqbidn; maa yumsikuhunna illaar rahmaan; innahuu bikulli shai im basiir
Artinya : Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pengasih. Sungguh, Dia Maha Melihat segala sesuatu. (QS. Al-Mulk :19)
Ayat ini adalah ayat yang sederhana, menceritakan sebuah burung yang terbang di langit, kemudian berkata "Luar biasa burung itu, ia bisa terbang dengan menggunakan sayapnya".
Lalu di lanjutkan dengan ayat selanjutnya مَا يُمۡسِكُهُنَّ (Sesungguhnya tidak ada yang dapat menahannya), اِلَّا الرَّحۡمٰنُؕ (kecuali dia) Allah swt.
Di balik seekor burung yang terbang tinggi itu, ternyata allah tidak ingin ia jatuh ke bumi saat ia terbang.
Jama'ah yang dirahmati Allah, Kekaguman itu bisa kita tarik dari orang-orang di sekitar kita yang masyaallah ibadahnya di luar bulan Ramadan, hingga memasuki bulan Ramadan yang sangat luar biasa.
Ketika menanam kekaguman kita kepada mereka, dapat kita tarik apakah yang membuat ketaatan mereka sebegitu besar, dan ternyata atas izin Allah SWT. sehingga membuat mereka menjadi taat kepada Allah.
Kenapa penglihatan kita terhadap burung itu, tidak terbawa dalam kehidupan kita sehari-hari, sehingga kita berdoa "ya Allah, jadikanlah aku hamba yang taat, sebagai mana kamu memberikan ketaatan kepada orang-orang yang taat itu".
Bisa jadi ketaatan kita selama ini adalah ketaatan kita yang kita laksanakan dengan akal manusia kita seperti kita akan bangun Sahur namun ketiduran, setelah itu kita sholat Subuh ternyata malas.
Namun apabila semua hal kita sandarkan kepada Allah, hal tersebut akan lebih mudah, sama halnya yang di berikan oleh burung tersebut.
Jama'ah yang di rahmati oleh Allah, mudah-mudahan hanya ini yang dapat memberikan sedikit manfaat untuk kita semua yang di sayangi oleh Allah swt.
Demikian,
وابالله التوفيق والهداية
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Penulis: Shaf Suma, Magang
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.