Berita Nasional
Memasuki Panen Jagung, Kementan Kunci Kran Impor Demi Jaga Stabilitas Harga
Keputusan ini diumumkan oleh Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman setelah Rapat Koordinasi tentang jagung di Kantor Pusat Kementan pada Kami
Penulis: Redaksi | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/ILUSTRASI-Panen-jagung.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM -- Kementerian Pertanian (Kementan) mengunci impor jagung untuk menjaga stabilitas harga jagung di tengah panen raya.
Keputusan ini diumumkan oleh Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman setelah Rapat Koordinasi tentang jagung di Kantor Pusat Kementan pada Kamis (14/3/2024).
"Kami akan mengunci impor jagung. Kami tidak akan lagi melakukan rekomendasi," kata Mentan, Andi Amran Sulaiman.
Selain mengunci impor, pihaknya juga bersinergi dengan Bulog melakukan penyerapan dengan harga yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Harganya 4.200/kilogram (kg).
Sebelumnya, Menteri Pertanian telah mengadakan rapat dengan Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar), Satgas Pangan, dan Pemerintah Daerah untuk merencanakan langkah-langkah yang diperlukan guna menjaga stabilitas harga jagung.
Saat ini, panen jagung sedang berlangsung di berbagai sentra produksi jagung di Indonesia seperti Jawa Tengah, Medan, dan Lampung.
Diperkirakan, panen jagung di wilayah Jawa Timur dan Sulawesi akan segera dimulai.
Stok jagung yang melimpah di lapangan telah menyebabkan penurunan harga jagung di pasaran.
Karena itu, pemerintah berencana untuk menerapkan Harga Acuan Pembelian (HAP) guna menstabilkan harga jagung.
Selain itu, langkah selanjutnya adalah melakukan penyerapan surplus jagung oleh para pemangku kepentingan.
Menteri Pertanian bekerjasama dengan GPMT, Pinsar, dan Pemerintah Daerah untuk menjalankan program hilirisasi jagung dan penyerapan stok.
"Mimpi kita adalah petani untung, pedagangnya juga tersenyum, kemudian GPMT bahagia dan peternaknya juga senang. Kita menjaga keseimbangan sehingga semua pihak merasa untung," ucap Menteri Pertanian.
Perwakilan GPMT, Johan Roy, menyatakan bahwa saat ini penyerapan jagung dilakukan secara maksimal, terutama di masa puncak panen.
"Di puncak-puncak panen kita akan menyerap sampai 800 ribu dari biasanya 600-700 ribu. Kita juga pernah menyetok hingga paling tinggi 1,2 juta per bulan," kata Johan.
Para pemangku kepentingan, seperti Pinsar dan Satgas Pangan, juga menyambut baik kebijakan pemerintah untuk menghentikan impor jagung sementara.