Berita Nasional
Bayi Demam Tinggi Ditolak Puskesmas, Alasan tak Ada Alat Pemeriksaan
Panik, orang tuanya membawanya ke Puskesmas Arosbaya, Bangkalan. Namun, alih-alih mendapat pertolongan, mereka ditolak dengan alasan kamar penuh dan t
Penulis: Redaksi | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/ILUSTRASI-Bayi-ditolak-perawat-lantaran-tak-ada-alat.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM -- Ahmad Arsa Dirgantara, yang berusia kurang dari dua tahun, mengalami demam tinggi di tengah malam.
Panik, orang tuanya membawanya ke Puskesmas Arosbaya, Bangkalan. Namun, alih-alih mendapat pertolongan, mereka ditolak dengan alasan kamar penuh dan tidak ada peralatan.
Rifki Arifuddin, ayah sang bayi, menceritakan kronologi kejadian yang mencekam ini. Istrinya membawa bayi mereka ke Puskesmas Arosbaya sekitar pukul 02.00 WIB.
Namun, setelah menunggu beberapa lama, sang istri menerima pesan bahwa puskesmas penuh dan disarankan untuk pergi ke Puskesmas Tongguh yang berjarak 1,5 KM.
Baca juga: Identitas Sepasang Kekasih di Luar Pernikahan Aborsi dan Kubur Janin di Pekarangan Warga
Rifki panik. Istrinya hanya ditemani sepupu perempuan dan mengendarai sepeda motor. Mengingat kondisi bayi yang demam tinggi dan situasi dini hari yang rawan, Rifki khawatir akan keselamatan mereka.
Ia mencoba berbicara dengan perawat, memohon agar bayinya diperiksa terlebih dahulu. Awalnya perawat mengiyakan, namun kemudian kembali menolak dengan alasan tidak ada peralatan.
"Kok bisa alat medis tidak ada? Setahu saya Puskesmas tidak begitu. Kalau semisal BPJS tidak bisa, saya akan bayar asal kondisi anak saya diketahui. Minimal ada tindakan diagnosa," kata Rifki kecewa.
Putus asa, Rifki meminta istrinya untuk membawa bayi mereka ke klinik di dekat puskesmas.
Pj Bupati Bangkalan Turun Tangan
Kegaduhan ini sampai ke telinga Pj Bupati Bangkalan, Arief M Edie. Ia menyampaikan terima kasih atas informasi yang disampaikan keluarga pasien dan berjanji untuk menindaklanjutinya.
"Bukan pasien ditolak, dia mengantri kebetulan pemeriksaan banyak, bukan ditolak (pemeriksaan). Kalau ditolak rawat iya, karena bed-nya tidak ada, pemeriksaan memang antri saat itu. Tetapi telah saya perintahkan semuanya harus merawat," tegas Arief.
Arief juga memerintahkan penataan ulang di Puskesmas Arosbaya, termasuk menambah jumlah tenaga medis dan dokter piket.
Selain itu, Pemkab Bangkalan juga tengah berupaya meningkatkan kapasitas daya tampung di beberapa puskesmas.
"Sebentara lagi kami akan melakukan perluasan beberapa puskesmas supaya diperbesar ruang rawat inapnya," jelas Arief.
Ia juga mengimbau kepada para kepala puskesmas dan dokter praktek untuk memberlakukan nomor antrian agar tidak ada kesan pasien ditelantarkan.
"Mohon maaf kalau kurang maksimal karena memang kondisi saat ini banyak yang sakit, terima kasih informasinya dan akan kami ingatkan," pungkas Arief.
Kasus ini menjadi sorotan publik dan menimbulkan pertanyaan tentang kualitas layanan kesehatan di Puskesmas Arosbaya.
Bagaimana menurut Anda? Apakah penolakan pasien dengan alasan kamar penuh dan tidak ada peralatan dapat dibenarkan?