Malaria Gorontalo
Pertambangan Liar di Pohuwato Ancam Kesehatan Masyarakat, Bahaya Malaria Mengintai
Kubangan-kubangan bekas galian tambang menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk Anopheles, vektor utama penyakit malaria.
Penulis: Rahman Halid | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Potret-pertambangan-di-Kabupaten-Pohuwato-Gorontalo.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Aktivitas pertambangan liar di Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, kian marak dan membawa dampak negatif bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Kubangan-kubangan bekas galian tambang menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk Anopheles, vektor utama penyakit malaria.
Ketua Asosiasi Penambang Rakyat Indonesia (APRI) Gorontalo, Limonu Hippy, menyatakan keprihatinannya atas situasi ini.
Sejak 2023, APRI telah mengingatkan para penambang untuk menjaga lingkungan, namun peringatan tersebut tidak diindahkan.
"Kelestarian lingkungan erat kaitannya dengan kesehatan masyarakat. Kita harus hentikan pertambangan liar ini," tegas Limonu.
Baca juga: Waspadai DBD dan Malaria di Gorontalo Saat Musim Penghujan, Ini 4 Tips Dinkes
APRI terus mengedukasi masyarakat dan mendorong mereka melaporkan kondisi lingkungan yang berpotensi menyebabkan penyebaran malaria.
Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Kabupaten Pohuwato, Roys Gonibala, menjelaskan bahwa Dinas Kesehatan sedang gencar melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di 13 kecamatan.
"PSN ini untuk menekan kasus malaria di Kabupaten Pohuwato. Kami ingin mencapai nol kasus," ungkap Roys.
Program ini melibatkan Puskesmas di seluruh kecamatan dan desa. Pencegahan penyakit harus dilakukan bersama-sama, dengan partisipasi aktif dari semua pihak.
Baca juga: Kota Gorontalo Raih Kembali Penghargaan Adipura 2023
Dinas Kesehatan juga melakukan skrining di setiap pintu masuk desa dan area tambang untuk memastikan masyarakat lingkar tambang tidak terinfeksi malaria.
Puskesmas bekerjasama dengan Dinkes Pohuwato melakukan sosialisasi 3M (Menguras, Menutup, Mengubur) setiap dua pekan sekali untuk mencegah dini penyebaran malaria.
Masyarakat diimbau untuk membantu menekan penyebaran malaria dengan melakukan 3M di lingkungan tempat tinggal.(*)