Pemkot Gorontalo

Gorontalo Masuk Percontohan CRIC di Indonesia, Begini Respons Wali Kota Gorontalo

Kota Gorontalo masuk sebagai satu dari 10 kota percontohan Climate Resilient and Inclusive Cities (CRIC) di Indonesia.

Penulis: Andika Machmud | Editor: Fadri Kidjab
Humas Pemkot Gorontalo
Wali Kota Gorontalo, Marten Taha, memberikan sambutan pada kegiatan CRIC di Hotel Novotel Makassar Grand Shayla dari Selasa (05/3/2024). 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Kota Gorontalo masuk sebagai satu dari 10 kota percontohan Climate Resilient and Inclusive Cities (CRIC) di Indonesia.

Wali Kota Gorontalo, Marten Taha, menjelaskan bahwa di Kota Gorontalo telah ada early warning system yang dipasang di beberapa tempat.

"Kira-kira sudah enam tahunan karena gorontalo adalah salah satu daerah yang merupakan rawan bencana di Indonesia," ungkap Marten saat memberi sambutan pada kegiatan CRIC, Rabu (06/3/2024).

Kegiatan ini dilangsungkan di Hotel Novotel Makassar Grand Shayla dari Selasa (05/3/2024) dan akan berakhir besok, Kamis (07/3/2024).

Marten menjelaskan Gorontalo adalah tempat pertemuan dua lempeng.

Dua lempeng tersebut terletak dan bertemu di Teluk Tomini.

Baca juga: Paris Jusuf hingga Meyke Camaru, Inilah Petahana yang Kembali Bertugas di DPRD Provinsi Gorontalo

Namun Marten mengaku bahwa Kota Gorontalo sudah siap menghadapi situasi yang tidak diharapkan.

Ada 10 potensi bencana yang diperkirakan sebagai masalah utama di Kota Gorontalo, yaitu: gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor, kebakaran hutan, kebakaran lahan, kekeringan, cuaca ekstrim, gelombang ekstrim dan abrasi.

Selain itu ada tiga kecamatan di Kota Gorontalo yang berada di garis patahan dan sesar gempa.

Tiga kecamatan tersebut adalah Kecamatan Dumbo Raya, Kecamatan Hulonthalangi, dan Kecamatan Kota Timur.

Marten menjelaskan jika Gorontalo diapit oleh dua sungai besar dan empat sungai kecil yang bermuara di Kota Gorontalo.

"Oleh karena itu kegiatan seperti ini sangat penting untuk kami laksanakan agar dalam melaksanakan pembangunan, kita tahu apa yang harus kita laksanakan dalam menangani masalah-masalah bencana," ungkapnya.

Marten menjelaskan jika ada beberapa hal yang sudah dan yang akan dilakukan ke depannya.

Ada penyusunan dokumen rencana simulasi penanggulangan bencana, rencana penanggulangan tanggap darurat, penyusunan dokumen pasca bencana, sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, pembentukan relawan bencana, forum pengurangan risiko bencana, hingga sekolah pendidikan aman bencana.

"Sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, itu yang paling penting," jelasnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved