Minggu, 22 Maret 2026

Human Interest Story

Merri Numberi Selesaikan Kuliah di Gorontalo, Tiga Tahun tak Pernah Pulang Papua

Meski wisuda kali ini tidak ditemani oleh orang tua, Merri tetap bahagia dan merayakan hal tersebut bersama teman-temannya dalam satu beasiswa.

Tayang:
Penulis: Andika Machmud | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Merri Numberi Selesaikan Kuliah di Gorontalo, Tiga Tahun tak Pernah Pulang Papua
TribunGorontalo.com
Merri Numberi selama kuliah di Gorontalo mengaku kesulitan menyesuaikan bahasa. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Merri Numberi mahasiswa asal Kota Serui, Jayapura, Papua menyelesaikan studinya di Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Rabu (21/2/2024). 

Selama berkuliah, Merri menjelaskan ia mendapatkan banyak pembelajaran tentang hidup.

Meski wisuda kali ini tidak ditemani oleh orang tua, Merri tetap bahagia dan merayakan hal tersebut bersama teman-temannya dalam satu beasiswa.

Baca Selanjutnya: Fitrianti djauhari rela jualan es teler asal bisa kuliah di Poligon Gorontalo

Ia menjelaskan alasan utama dibalik pemilihannya merantau ke daerah Gorontalo salah satunya karena direkomendasikan oleh orang lain.

"Saya pilih UNG karena ibu kepala sekolah SMA (Sekolah Menengah Atas) saya berasal dari UNG, jadi dia alumni dari sini," ucapnya kepada TribunGorontalo.com, Rabu (21/02/2024).

Selain itu, ia melakukan perantauan karena Merri saat ini mendapatkan beasiswa Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADik).

ADik adalah beasiswa khusus untuk putra daerah dari wilayah Papua.

Di UNG, Merri tertarik mengambil jurusan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA).

"Di MIPA saya ambil matematika," ungkap Merri.

Baca juga: Jasa Photobooth Laris Manis di Wisuda Universitas Negeri Gorontalo, Segini Tarifnya

Kesulitan yang sering dialami oleh Merri tidak jauh dari tutur bahasa yang berbeda.

Merri mengaku jika saat berkuliah di UNG, ia kesulitan untuk bisa menyesuaikan dengan logat yang berada di Gorontalo.

Untuk bisa menyesuaikan diri dengan baik, kata Merri, ia baru bisa mengikuti logat di daerah Gorontalo setelah dua sampai tiga tahunan berada di Serambi Madinah ini.

Kemudian, Merri juga ternyata tidak pernah pulang ke kampung halamannya semenjak memulai perkuliahan hingga dirinya wisuda.

"Saya tidak pernah pulang ke kampung halaman karena mahalnya tiket pesawat," ucapnya.

Selain itu, akibat dari mahalnya tiket pesawat, kata Merri, ia harus rela jika orang tuanya tidak bisa untuk datang ke perayaan wisudanya.

"Merantau buat saya seperti tantangan, karena susah pulang," ucapnya.

Saat ditemui TribunGorontalo.com, Merri hanya merayakan wisudanya dengan teman-temannya.

Merri mengaku saat awal merantau, ia sering mengalami homesick saat 1-2 bulan pertama.

"Saya awalnya 1-2 bulan merantau itu suka balik lagi ke daerah," ungkapnya.

Namun dibalik itu semua, Merri merasa jika masyarakat Gorontalo sangat baik untuk menerima mahasiswa perantau dari luar daerah.

Sekarang ia merasa di perantauan ini banyak mendapatkan pembelajaran hidup.

Merri saat ini berencana untuk pulang ke kampung halamannya untuk mengabdi di tempat kelahiran.

Baca juga: Amplop Berisi Gaji Seorang Anggota KPPS Gorontalo Tercecer di Jalan, Padahal untuk Biaya Wisuda Anak

Ia berpesan kepada adik-adiknya yang berada di Papua untuk tidak perlu takut memulai sesuatu.

"Jangan takut mulai sesuatu dan semangat karena setiap orang punya proses masing-masing," ungkapnya.

Ia yakin dengan perantauannya di Gorontalo selalu mempunyai arti tersendiri.

"Saya yakin, ditempatkan disini berarti Tuhan punya rencana untuk semuanya," ungkapnya.

Teman Merri, Monika Sokoy, mengatakan jika mereka saling mendukung satu sama lain.

"Kami saling support satu sama lain," ucapnya.

Mahasiswa Administrasi Publik ini mengaku jika mereka sering berkumpul jika ada acara-acara tertentu.

Wanita asal Papua Jayapura ini mengharapkan agar bisa tetap menjadi keluarga yang saling mendukung.

"Tetaplah jadi keluarga, saling mendukung," tutupnya.

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved