Minggu, 8 Maret 2026

Berita dari Gorontalo

Tiga Persoalan Ini jadi Masalah Petani Sawah Gorontalo, dari Hama, Pupuk dan Air

Muhammad Nunta, salah seorang petani sawah di Kabupaten Bone Bolango mengatakan hama menjadi biang kerok dari produksi sawah ini menurun.

Tayang:
Penulis: Prailla Libriana Karauwan | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Tiga Persoalan Ini jadi Masalah Petani Sawah Gorontalo, dari Hama, Pupuk dan Air
TribunGorontalo.com/Prailla
Muhammad Nunta, petani sawah Bone Bolango. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Hama, pupuk dan air menjadi persoalan bagi petani sawah di Gorontalo.

Ketiga persoalan ini memicu produksi panen beras pada musim panen menjadi terkendala.

Dalam sekali panen, petani bisa mengumpulkan hingga 10 karung lebih padi.

Baca juga: Tiga Kabupaten di Gorontalo Lampu Kuning Siaga Bencana

Namun sekarang petani hanya mampu memanen hingga 5-6 karung saja.

Muhammad Nunta, salah seorang petani sawah di Kabupaten Bone Bolango mengatakan hama menjadi biang kerok dari produksi sawah ini menurun.

Hama tersebut kata Nunta meningkat dari hari ke hari sebab cuaca di Kabupaten Bone Bolango hingga hari ini cukup cerah.

"Ulat, burung putih, itu banyak sekali apalagi saat pertumbuhan padi begini apalagi kondisinya sedang panas-panasnya (cuacanya)," ujarnya kepada TribunGorontalo.com. Senin (19/10/2024).

Hama tersebut kata Nunta bisa dicegah dengan pemberian obat-obatan dan juga pupuk.

Tapi, mekanisme pengambilan pupuk di toko pertanian kata Nunta juga sudah ketat.

Baca juga: Mendengar Cerita Unang Latif Petani Kangkung Gorontalo

"Harus perlu KTP atau surat kuasa dari desa. Salah satu tidak ada, tidak bisa," lanjutnya.

Kata Nunta, Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang digunakan juga harus jelas Nama dan Nomor Induk Kependudukan.

"Kalau buram, mereka tidak terima," imbuhnya.

Selain pupuk, air yang mengairi area sawah milik ayahnya pun hanya sedikit.

Kata Nunta, air memang tersedia tapi untuk bisa sampai ke lahan milik ayahnya harus memutar dulu ke sawah milik orang lain.

"Ada air, tapi susah," ucapnya mantap.

Hingga kini, Nunta hanya bergantung pada hujan yang turun agar area persawahan milik ayahnya bisa dapat asupan air.(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved