Kabar Pohuwato
Melipir ke Banuroja Pohuwato, Bukti Nyata Toleransi dan Kerukunan Antar Umat Beragama di Gorontalo
Sebab, tiga agama berbeda hidup rukun di desa ini. Bahkan, rumah ibadah umat Islam, Kristen, maupun Hindu, dibangun berdampingan.
Penulis: Rahman Halid | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/2024-02-17_Tempat-ibadah-umat-Hindu-di-Desa-Banuroja.jpg)
Di antaranya ada suku Bali, Jawa, Lombok, Gorontalo, Minahasa, Sunda, Bugis, Flores dan Toraja, Batak, Ambon dan Sangihe,
Rony Handri Koyansow, Kepala Desa Banuroja menjelaskan, kebergaman agama dan suku yang ada di Desa Banuroja karna arus transmigrasi warga.
Perjalanan itu pada 1980-an di mana masyarakat dari pulau Jawa harus berpindah tempat ke Sulawesi.
"Di Jaman Orde baru diterapkan mode arus transmigrasi warga, akhirnya banyak yang berdatangan dan bermukim di desa ini," jelasnya.
Lanjut Rony, total keseluruhan warga di Desa Banuroja mencapai 1.117 jiwa, yang terbagi dengan beberapa etnis suku dan agama
"Ada Bali 459 jiwa, Lombok 300 jiwa, Jawa 293 jiwa, Minahasa 28 jiwa, Flores 3 jiwa, Toraja 2 jiwa, Batak 11 jiwa), Bugis 8 jiwa, Ambon 10 jiwa, dan Sangihe 3 jiwa," pungkasnya.
Dari jumlah itu, paling banyak berprofesi sebagai petani dan memiliki kebun masing-masing.
"Banuroja juga terkenal dengan buahnya, ada buah Naga, Lemon dan Alpukat. Sehingga banyak warga di desa ini yang menggeluti profesi sebagai petani buah," tutupnya (*)