Rabu, 11 Maret 2026

Pilpres 2024

Film Dirty Vote Viral, Dandhy Laksono Ungkap Alasan Dokumenternya Dirilis di Masa Tenang Pemilu 2024

Film Dirty Vote tayang tanggal 11 Februari bertepatan hari pertama masa tenang pemilu dan disiarkan pukul 11.00 WIB di kanal Youtube.

Tayang:
Editor: Nandaocta
zoom-inlihat foto Film Dirty Vote Viral, Dandhy Laksono Ungkap Alasan Dokumenternya Dirilis di Masa Tenang Pemilu 2024
Capture Instagram
Film Dirty Vote yang tayang tanggal 11 Februari bertepatan hari pertama masa tenang pemilu dan disiarkan pukul 11.00 WIB di kanal Youtube. 

TRIBUNGORONTALO.COM - Saat ini tengah viral dan begitu ramai diperbincangkan di media sosial terkait hadirnya film dokumenter berjudul Dirty Vote.

Film dokumenter Dirty Vote ini dirilis oleh Koalisi Masyarakat Sipil di tengah masa tenang Pemilu 2024.

Terkait hal tersebut, sang sutradara Film dokumenter Dirty Vote, Dandhy Laksono mengungkapkan alasan pemilihan waktu perilisannya.

Dirty Vote diketahui tayang mengambil momentum 11.11, yaitu tanggal 11 Februari bertepatan hari pertama masa tenang pemilu dan disiarkan pukul 11.00 WIB di kanal Youtube.

Dipaparkan Dandhy Laksono, karya besutannya itu akan menjadi tontonan yang reflektif di masa tenang pemilu.

Ia mengharapkan di tiga hari krusial menjelang hari H pencoblosan, film ini bisa memberikan edukasi kepada masyarakat melalui ruang dan forum diskusi yang digelar.

 

 

"Ada saatnya kita menjadi pendukung capres-cawapres. Tapi hari ini, saya ingin mengajak setiap orang untuk menonton film ini sebagai warga negara." paparnya dalam keterangan tertulis yang diterima, Senin (12/2).

Dandhy menjelaskan, film ini berbeda dengan film-film dokumenter sebelumnya yang berada di bawah bendera WatchDoc dan Ekspedisi Indonesia Baru.

Pasalnya, dokumenter Dirty Vote lahir dari kolaborasi lintas CSO.

Ketua Umum SIEJ sekaligus produser, Joni Aswira memaparkan, dokumenter ini sebenarnya juga memfilmkan hasil riset kecurangan pemilu yang selama ini dikerjakan koalisi masyarakat sipil.

Dijelaskannya, biaya produksi pembuatan film ini dihimpun melalui crowd funding, sumbangan individu dan lembaga.

“Biayanya patungan. Selain itu Dirty Vote juga digarap dalam waktu yang pendek sekali sekitar dua minggu, mulai dari proses riset, produksi, penyuntingan, hingga rilis. Bahkan lebih singkat dari penggarapan End Game KPK (2021),” kata Joni.

20 lembaga lain yang terlibat kolaborasi dalam film ini ialah: Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Bangsa Mahardika, Ekspedisi Indonesia Baru, Ekuatorial, Fraksi Rakyat Indonesia, Greenpeace Indonesia, Indonesia Corruption Watch, Jatam, Jeda Untuk Iklim, KBR, LBH Pers, Lokataru, Perludem, Salam 4 Jari, Satya Bumi, Themis Indonesia, Walhi, Yayasan Dewi Keadilan, Yayasan Kurawal, dan YLBHI.

Film ini dibintangi oleh Zainal Arifin Mochtar, Bivitri Susanti, dan Feri Amsari.

Dalam film ini ketiganya mencoba mengulik sejumlah instrumen kekuasaan yang digunakan untuk memenangkan pemilu sekalipun menabrak tatanan demokrasi.

Koalisi masyarakat sipil mengatakan, penjelasan ketiga ahli hukum ini berpijak atas sejumlah fakta dan data. Bentuk-bentuk kecurangannya diurai dengan analisa hukum tata negara.

Pesan di Film Dirty Vote

Pakar hukum tata negara Bivitri Susanti menyebut, film dokumenter Dirty Vote menjadi rekaman sejarah tentang rusaknya demokrasi Indonesia saat ini.

"Kekuasaan disalahgunakan terbuka oleh orang-orang yang dipilih melalui demokrasi itu sendiri," kata dia, dalam keterangan tertulis yang diterima, Senin.

Dalam karya besutan Dandhy Laksono ini ada dua pesan yang ingin diangkat.

Pertama, tentang demokrasi yang tak bisa dimaknai sebatas terlaksananya pemilu, tapi bagaimana proses pemilu berlangsung, apakah keseluruhan proses pemilu dilaksanakan dengan adil dan sesuai nilai-nilai konstitusi.

 

 

Kedua, tentang kekuasaan yang disalahgunakan karena nepotisme yang haram hukumnya dalam negara hukum yang demokratis.

"Sikap publik menjadi penting dalam sejarah ini. Apakah praktik lancung ini akan didiamkan sehingga demokrasi yang berorientasi kekuasaan belaka akan menjadi normal yang baru?," ujar Bivitri.

Baginya, semua orang berhak bersuara lantang dan bertindak agar republik ini terus hidup dan bertumbuh.

"Pilihan Anda menentukan,” ucap dia.

Pesan yang sama disampaikan oleh Feri Amsari. Menurutnya, esensi pemilu adalah rasa cinta tanah air, sehingga membiarkan kecurangan merusak pemilu sama saja merusak bangsa ini.

“Dan rezim yang kami ulas dalam film ini lupa bahwa kekuasaan itu ada batasnya. Tidak pernah ada kekuasaan yang abadi. Sebaik-baiknya kekuasaan adalah, meski masa berkuasa pendek, tapi bekerja demi rakyat. Seburuk-buruknya kekuasaan adalah yang hanya memikirkan diri dan keluarganya dengan memperpanjang kuasanya,” jelas Feri.

Dokumenter ini dibintangi Zainal Arifin Mochtar, Bivitri Susanti, dan Feri Amsari yang dirilis diawal masa tenang yakni pada Minggu (11/2).

Diharapkan melalui film ini akan menjadi tontonan yang rekleftif di masa tenang pemilu.

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Rina Ayu

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Alasan Dandhy Laksono Rilis Film Dirty Vote di Masa Tenang Pemilu dan judul Ini Pesan yang Ingin Diungkap Bivitri dan Feri Amsari dalam Film Dirty Vote

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved