Hari Patriotik Gorontalo
Tidak Banyak yang Tahu, Ternyata Ini Nama Asli Nani Wartabone sang Pejuang Kemerdekaan Gorontalo
Hal itu diungkapkan langsung oleh cucu Nani Wartabone, Kris Wartabone pada momen Hari Patriotik Gorontalo Ke 82, Selasa (23/1/2024).
Penulis: Husnul Puhi | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/2212024_Patung-Pahlawan-Nasional-Nani-Wartabone.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM – Nani Wartabone merupakan pahlawan nasional.
Pejuang kemerdekaan Gorontalo itu ternyata memiliki nama panggilan yang tidak diketahui banyak orang.
Hal itu diungkapkan langsung oleh cucu Nani Wartabone, Kris Wartabone pada momen Hari Patriotik Gorontalo Ke 82, Selasa (23/1/2024).
Menariknya, Kris baru mengetahui nama panggilan kakeknya itu sejak tiga tahun terakhir.
"Saya juga baru tahu dari sepupu kami, yaitu cucu dari adiknya Nani Wartabone," ucapnya.
Kris menjelaskan nama asli Nani Wartabone adalah Abdullah Wartabone.
Menurut Kris, nama Abdullah ialah nama yang memiliki makna sangat baik.
Ia juga tak menampik bahwa nama Nani bukanlah nama asli dari pahlawan nasional ini.
Nama Nani Wartabone, kata Kris, sama sekali tak diriwayatkan oleh generasi penerus Nani Wartabone.
"Saya pun sampai hari ini belum mendapatkan satu data yang valid. Kenapa kakek saya ini bernama Nani yang populer di masyarakat? sedangkan Abdullah tidak ada yang tahu," jelasnya.
Terlepas dari masalah nama kakeknya, Kris mewakili keluarga Wartabone, berharap masyarakat bisa melestarikan nilai semangat para pejuang terdahulu.
Semangat pejuang itu harus terpatri dalam hati masyarakat Gorontalo.
Ia ingin nilai-nilai perjuangan para pahlawan Gorontalo bisa diteruskan pemimpin saat ini.
Wakil Ketua DPRD Provinsi Gorontalo itu meminta siapa pun pemimpin wajib menyejahterakan rakyatnya.
"Gorontalo saat ini masih berada di posisi yang cukup tinggi angka kemiskinannya. Sehinggga di momen bersejarah ini bisa menjadi spirit bagi seluruh pengambil kebijakan untuk menuju kesejahteraan," tandasnya.
Baca juga: Kondisi Terkini Rujab Kantor Pos dan Telegraf, Saksi Bisu Proklamasi Kemerdekaan Gorontalo
Peristiwa Sebelum Proklamasi Kemerdekaan Gorontalo
Pada hari Jumat, 23 Januari 1942, Pasukan Rimba pimpinan Nani Wartabone bergerak menuju pusat pemerintahan Belanda di Gorontalo.
Pasukan ini berhasil menarik simpati masyarakat yang dilaluinya, mulai dari tanah Suwawa, hingga akhirnya berhasil mengajak ribuan orang dari berbagai daerah untuk ikut bersama-sama menyerbu pusat kota pemerintahan Belanda.
Pendang Kalengkongan dan Ardani Ali dari unsur Kepolisian lokal pun akhirnya ikut bergabung dengan pasukan rakyat untuk merebut kemerdekaan.
Hingga akhirnya mereka tiba di Kota Gorontalo, tepatnya di kompleks pemerintahan kolonial Belanda.
Pasukan Rimba bersama rakyat kemudian mulai menguasai markas atau tangsi polisi hingga melakukan penangkapan terhadap para pejabat pemerintah Belanda, orang-orang Belanda, serta aparat Kepolisian Belanda di Gorontalo.
Dalam catatan sejarah, operasi perebutan kekuasaan oleh Pasukan Rimba bersama rakyat Gorontalo setidaknya berhasil menangkap 15 orang anggota pemerintah kolonial Belanda.
Setibanya di depan Kantor Pos Gorontalo, Bendera Merah Putih pun dikibarkan sebagai pertanda Gorontalo telah dibebaskan dari penjajah Belanda, bebas dan merdeka, serta menjadi bagian dari Negara Indonesia.
Pada momen ini, lagu kebangsaan Indonesia Raya pun turut dinyanyikan oleh seluruh rakyat Gorontalo yang begitu riuh dan ramai memenuhi halaman Kantor Pos, tempat digelarnya proklamasi kemerdekaan tersebut.
Selanjutnya, naskah proklamasi pun dibacakan oleh Nani Wartabone. Dalam pidatonya tersebut, Nani menegaskan bahwa rakyat Gorontalo sudah merdeka dan lepas dari penjajah Belanda.
Pada hari itu juga, Gorontalo telah menyatakan ikut bergabung menjadi bagian Negara Indonesia dengan Merah Putih sebagai bendera Negara dan Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan negara.
Selepas seluruh pejabat pemerintah kolonial Belanda ditangkap, maka dibentuklah Pucuk Pimpinan Pemerintahan Gorontalo (PPPG) yang juga terdiri dari 12 orang anggota Komite Dua Belas, dengan Nani Wartabone sebagai Kepala Pemerintahan Gorontalo.
PPPG ini bertujuan untuk menjalankan roda pemerintahan di Gorontalo yang telah ditinggalkan oleh penjajah Belanda.
Peristiwa Patriotik 23 Januari 1942 merupakan momen bersejarah bagi rakyat Gorontalo dalam memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Peristiwa ini terjadi tiga tahun lebih awal dari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jakarta tahun 1945.
Peristiwa ini juga menunjukkan semangat patriotisme dan nasionalisme yang tinggi dari rakyat Gorontalo dalam melawan penjajah Belanda.
Peristiwa ini menjadi bukti bahwa rakyat Gorontalo telah siap untuk berdiri di atas kakinya sendiri sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.