Hari Patriotik Gorontalo
Hari Patriotik Gorontalo Bakal Masuk Pelajaran Sejarah Sekolah Kepolisian
Hal ini diungkapkan Kapolda Gorontalo, Irjen Pol Angesta Romano Yoyol usai mengikuti upacara Hari Patriotik Ke 82 Gorontalo di makam pahlawan
Penulis: Husnul Puhi | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Kapolda-Gorontalo-Angesta-Romano-Yoyol-memberikan-penghormatan.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Hari Patriotik Gorontalo bakal masuk dalam pelajaran Sejarah di Sekolah Kepolisian.
Hal ini diungkapkan Kapolda Gorontalo, Irjen Pol Angesta Romano Yoyol usai mengikuti upacara Hari Patriotik Ke 82 Gorontalo di makam pahlawan Nani Wartabone, Selasa (23/1/2024).
"Nanti akan saya masukkan di program pembelajaran sejarah di sekolah polisi kita," ungkap Angesta.
Angesta mengaku baru mengetahui Gorontalo lebih dahulu merdeka ketimbang Indonesia.
Ia menilai momen Hari Patriotik dapat dijadikan contoh dan pantas diketahui generasi muda penerus bangsa.
Muda-mudi, kata Angesta, wajib mengenal sejarah Gorontalo beserta para pejuang kemerdekaan.
Berbicara pemuda, saat ini Polda Gorontalo memprioritaskan putra-putri asli daerah dalam perekrutan anggota kepolisian.
"Untuk perubahannya, kita lihat sekarang ini bahwa anggota polisi yang kita didik itu 80 persen berasal dari Gorontalo asli bukan pendatang lagi," jelasnya.
Baca juga: Tidak Banyak yang Tahu, Ternyata Ini Nama Asli Nani Wartabone sang Pejuang Kemerdekaan Gorontalo
Hari Patriotik Gorontalo
Peristiwa 23 Januari 1942 atau Hari Patriotik Gorontalo menandai perlawanan rakyat Gorontalo terhadap penjajah Belanda.
Hal itu diawali ketika Pemerintah Belanda berencana membumihanguskan daerah jajahannya termasuk Gorontalo.
Itu merupakan bagian dari propaganda Belanda sebagai bentuk antisipasi serangan Jepang ke Indonesia.
Namun propaganda tersebut diketahui oleh Saripa Rahman Hala yang ditugaskan untuk menyelidiki Pemerintah Belanda.
Mengetahui informasi tersebut sangat penting, Saripa bergegas melaporkan rencana Pemerintah Belanda kepada Kaharu dan Ahmad Hippy. Lalu diteruskan ke Kusno Danupoyo dan Nani Wartabone.
Ketika informasi itu sampai ke telinga Nani Wartabone, ia langsung teringat kekejaman Pemerintah Belanda di kampung halamannya, Suwawa.