Human Interest Story
Cerita Junus Buhari Hafid, Mahasiswa UNG Gorontalo saat Ikut Seleksi Beasiswa Bank Indonesia
Junus Buhari Hafid, mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) mengungkapkan rasa syukurnya ketika dia lolos menjadi beasiswa Bank Indonesia.
Penulis: Prailla Libriana Karauwan | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Junus-Buhari-Hafid-mahasiswa-Universitas-Negeri-Gorontalo-UNG.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Junus Buhari Hafid, mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) bersyukur lolos sebagai penerima beasiswa Bank Indonesia (BI).
Awalnya dia berpikir bahwa beasiswa merupakan program yang diperuntukkan bagi mahasiswa yang berasal dari keluarga tidak mampu.
Hal itu yang menyebabkan dirinya hingga saat ini enggan menerima bantuan berupa beasiswa tersebut di kampus.
"Saya pikir awalnya beasiswa itu diperuntukkan bagi kalangan yang kurang mampu, makanya saya enggan mengikuti," ujarnya kepada TribunGorontalo.com, Kamis (4/1/2024).
Pria yang kerap disapa Buhari ini mengatakan awalnya dia mengikuti program beasiswa dari BI ini karena beasiswa ini memang tidak dikhususkan bagi mahasiswa yang kurang mampu, tapi dikhususkan bagi mahasiswa yang berprestasi.
"Di BI itu sebenarnya hanya ingin mencoba, mumpung tidak dikhususkan bagi kurang mampu," lanjutnya.
Buhari pun menceritakan awal mula saat dirinya mengikuti program beasiswa Bank Indonesia yang didapati dari jalur seleksi di tahun 2022.
Saat itu, dirinya sedang menjadi mahasiswa semester enam dan juga pandemi Covid-19 sedang ada dimana-mana sehingganya seleksi full online.
"Mulai dari penginputan berkas hingga menjawab soal-soal yang diberikan secara online," kata Buhari.
Baca juga: Viral! Detik-detik Pembongkaran di Wisata Pantai Botutonuo Gorontalo, Ada Warga Kena Lemparan Batu
Pada saat seleksi ini, Buhari mengungkapkan bahwa dirinya tidak mengetahui bahwa dia lolos ke seleksi berikutnya. Dan pada saat itu batas waktu untuk mengisi formulir untuk seleksi berikutnya juga telah selesai.
Dirinya pun tidak patah semangat, berharap ada perpanjangan pengisian formulir, namun lagi-lagi dirinya tidak mendapatkan informasi soal itu. Ia baru mendapatkan informasi di waktu yang tersisa lima menit akan berakhir.
Dengan waktu dan situasi yang tidak mumpuni akhirnya dia pasrah. Namun masih tetap berharap adanya perpanjangan waktu.
Dirinya pun mencoba kembali membuka website program beasiswa tersebut walaupun sudah melebihi waktu yang ditentukan yakni setelah di lima menit kemudian. Websitenya masih bisa dibuka dan masih bisa mengikuti seleksi.
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan tanpa pikir panjang dirinya langsung mengikuti seleksi awal di warung makan tempat persinggahannya ketika di perjalanan pulang dari desa ke rumah.
"Yah sudah, ikut seleksi di warung makan," lanjutnya.