Kabar Artis

Begini Kondisi Fuji Pasca Dikabarkan Alami Gangguan Mental ADHD

Fuji merupakan sosok yang positif dan tangguh. Ia tidak menganggap ADHD sebagai suatu kekurangan, melainkan sebagai suatu kelebihan. Hal ini menjadi i

Penulis: Redaksi | Editor: Wawan Akuba
DOC Instagram @fuji
Selebgram Fuji saat ini dikabarkan mengalami Attention Deficit Hyperactivity Disorder atau ADHD. 

TRIBUNGORONTALO.COM -- Fuji, influencer Tanah Air yang namanya begitu dikenal oleh publik, baru-baru ini diketahui mengalami gangguan mental ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder).

Gangguan ini membuat Fuji mengalami beberapa gejala seperti mudah lupa, sulit fokus hingga menjadi hiperaktif.

Menanggapi pengakuannya tersebut, Fuji menegaskan bahwa ia tidak menganggap ADHD sebagai penyakit atau aib.

Ia bahkan mengambil sisi baik dan positif dari gangguan tersebut.

Fuji merasa jika dirinya menjadi sosok yang lebih kreatif.

Selain itu, ia merasa diuntungkan dengan lebih cepat melupakan komentar buruk yang didapatkannya.

"Sebenarnya itu bukan hal yang buruk kok. Aku ngelihatnya itu hal yang baik," ungkap Fuji, Rabu (27/12/2023). 

Menurutnya, dengan gangguang mental ADHD, sebetulnya ia malah menjadi lebih kreatif.

"Aku jadi mikir terus, jadi nggak terlalu ngambil pusing omongan orang. Karena aku gampang lupa," ujar Fuji An.

Instagram Fuji.
Instagram Fuji. (Instagram Fuji)

Tak hanya itu, Fuji yang menjadi tak henti berfikir dan selalu kreatif pun menjadikannya sebagai suatu kelebihan untuk profesinya sebagai seorang content creator.

Karena itu, Fuji lebih fokus mengambil sisi baik dari gangguan yang dialaminya ini.

"Jadi, nggak ada yang perlu disedihin karena itu menurut aku bukan penyakit, bukan aib. Aku ambil itu sebagai berkah," tandasnya.

Baca juga: Kelakuan Fans Bikin Fuji Diserang Fans BTS, ARMY Ngamuk karena Ini

Fuji sendiri sempat menceritakan awal mula dirinya mengetahui soal gangguan ADHD dari sang psikolog yang dikunjunginya.

Ia lantas berusaha mencari tahu lebih lanjut dengan banyak membaca mengenai gangguan tersebut.

Kini, ia pun berusaha menghindari asupan gula berlebih yang menjadi salah satu pemicu hiperaktif sebagai gejala gangguan ADHD tersebut.

Apa itu ADHD?

Attention Deficit Hyperactivity Disorder atau ADHD adalah istilah medis untuk gangguan mental berupa perilaku impulsif dan hiperaktif.

Gejala ADHD membuat anak-anak kesulitan untuk memusatkan perhatian pada satu hal dalam satu waktu. 

Meski lebih rentan terjadi pada anak, gejala yang muncul bisa bertahan hingga usia remaja bahkan dewasa. ADHD terbagi menjadi 3 subtipe, yaitu:

Dominan hiperaktif-impulsif. Tipe ini biasanya muncul dengan masalah hiperaktivitas bersamaan dengan perilaku impulsif.  

Dominan inatentif. Tipe ini memiliki ciri sulit untuk menaruh perhatian penuh pada satu hal dalam satu waktu. Anak-anak dengan kondisi ini cenderung tidak bisa memperhatikan dengan baik. 

Kombinasi hiperaktif-impulsif dan inatentif. Jenis ini menunjukkan ciri hiperaktif, impulsif, dan tidak dapat memperhatikan dengan baik.

Penyebab ADHD

Para ahli masih belum mengetahui apa yang menjadi penyebab ADHD secara pasti sampai saat ini.

Namun, masalah kesehatan mental ini bisa muncul karena ketidakseimbangan senyawa kimia (neurotransmitter) dalam otak.

Ahli menduga, beberapa kondisi berikut ini bisa memicu terjadinya kondisi ini pada anak: 

1. Genetika

Sampai saat ini, genetik menjadi satu-satunya penyebab utama terjadinya ADHD. Selain itu, kondisi ini cenderung menurun dalam keluarga.

Dalam banyak kasus, para ahli menduga bahwa gen dari salah satu atau kedua orang tua merupakan faktor penting dalam berkembangnya kelainan ini. 

2. Fungsi dan struktur otak

Studi telah mengidentifikasi beberapa kemungkinan perbedaan dalam otak seseorang dengan berkembangnya ADHD dari mereka yang tidak memiliki kondisi tersebut. Penelitian tersebut menggunakan pemindaian otak.

Hasilnya, area otak tertentu mungkin lebih kecil ukurannya pada seseorang dengan ADHD, sedangkan area lainnya bisa jadi lebih besar. 

Studi lain juga menunjukkan bahwa seseorang dengan kondisi ini mungkin memiliki ketidakseimbangan dalam tingkat neurotransmitter pada otak.

Selain itu, dugaan lain menyatakan bahwa bahan kimia pada otak tersebut bisa jadi tidak berfungsi dengan baik.

3. Paparan neurotoksin selama kehamilan

Selain itu, para ahli juga menduga bahwa ada hubungan antara ADHD dengan bahan kimia neurotoksin tertentu, seperti timbal dan beberapa jenis pestisida.

Paparan timbal pada anak dapat memengaruhi tingkat pendidikan mereka. Hal tersebut berkaitan dengan kurangnya perhatian, hiperaktif, dan impulsif.

Sementara itu, paparan pestisida organofosfat juga berkaitan dengan kelainan mental tersebut. Ini adalah bahan kimia yang banyak digunakan pada rumput dan produk pertanian.

Studi menyebutkan, bahan kimia organofosfat berpotensi memberikan efek negatif pada perkembangan saraf anak. 

4. Merokok dan mengonsumsi alkohol selama kehamilan

Menjadi perokok aktif atau pasif selama kehamilan juga berkaitan dengan perilaku anak dengan kondisi ADHD.

Selain itu, anak yang terpapar alkohol serta obat-obatan ketika masih berupa janin dalam kandungan juga lebih mungkin mengalami kondisi serupa.(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved