Topi Cerdas DeWave, Inovasi Terbaru UTS Bisa Baca Pikiran Pakai AI
Informasi yang dirangkum TribunGorontalo.com, Sabtu (16/12/2023), topi ini dilengkapi dengan kecerdasan buatan (AI) dan menggunakan teknologi elektroe
Penulis: Redaksi | Editor: Wawan Akuba
TRIBUNGORONTALO.COM -- Peneliti di University of Technology Sydney (UTS) berhasil mengembangkan inovasi terbaru berupa topi cerdas bernama DeWave.
Informasi yang dirangkum TribunGorontalo.com, Sabtu (16/12/2023), topi ini dilengkapi dengan kecerdasan buatan (AI).
Jangan salah, meski bentuknya seperti topi renang, tapi menggunakan teknologi elektroensefalografi (EEG) untuk membaca pikiran pengguna.
DeWave bekerja menerjemahkan secara kasar proses pemikiran internal menjadi teks dan ucapan tanpa perlu pelacakan mata atau input tambahan.
Meskipun masih memiliki beberapa kekurangan, kemampuannya ini nyatanya menuai kesan yang mengesankan, meski agak menakutkan.
Sistem ini terdiri dari dua komponen utama: topi pembaca EEG dan model bahasa besar (LLM).
Pengguna hanya perlu mengenakan topi yang dilengkapi dengan elektroda EEG non-invasif.
Elektroda tersebut bekerja dengan menangkap aktivitas mental pengguna melalui impuls listrik yang berjalan melalui otak.
Gelombang otak yang terdeteksi kemudian disalurkan ke DeWave LLM, yang dibangun oleh tim UTS berdasarkan dataset bernama ZuCo.
Dataset ini mencocokkan pola pelacakan mata dan EEG dengan tugas membaca alami.
Setiap pola kemudian dipasangkan dengan kata atau frasa untuk membentuk kalimat yang dibaca secara diam-diam oleh pengguna.
Melalui serangkaian eksperimen dengan melibatkan 29 partisipan, DeWave berhasil mencapai skor akurasi maksimum sebesar 42,8 persen berdasarkan metrik terjemahan mesin BLEU-1.
Dalam makalah pra-cetak yang dibagikan di arXiv, para peneliti mencatat bahwa DeWave lebih unggul dalam mencocokkan kata kerja daripada kata benda.
Namun, terkadang kata benda diterjemahkan menjadi pasangan sinonim.
Sebagai contoh, pengguna mungkin berpikir "edisi," sementara DeWave menggunakan kata "versi."
"Pemikiran awal kami menunjukkan dua penyebab potensial untuk ini," tulis para peneliti.
Pertama, ketika otak memproses kata-kata ini, kata-kata yang semantisnya mirip mungkin menghasilkan pola gelombang otak yang mirip.
Kedua, volume pasangan EEG-ke-teks yang tersedia untuk pelatihan jauh lebih kecil daripada untuk terjemahan bahasa tradisional.
Karena itu, beberapa tingkat kesalahan dalam menerjemahkan kata benda atau kalimat yang belum pernah dilihat bisa diharapkan.
Meskipun DeWave idealnya diharapkan memiliki skor akurasi 90 persen atau lebih, namun penggunaan teknologi "membaca pikiran" hanya dengan EEG sudah dianggap sebagai langkah maju.
Apalagi jika harus dibandingkan metode serupa seperti pelacakan mata atau Neuralink milik Elon Musk.
Terutama topi ini bisa sangat berguna untuk para penyintas stroke atau pasien dengan lateral amiotrofi sklerosis (ALS).
Para ALS tidak harus belajar menggunakan antarmuka pelacakan mata, DeWave memberikan kemudahan karena tidak memerlukan pelatihan khusus.
Cukup membaca atau berpikir, dan DeWave akan melakukan sisanya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Potret-Topi-Cerdas-DeWave.jpg)