Rabu, 18 Maret 2026

Viral Puskesmas Telaga

Viral Nur Hayati Tak Ditolong Puskemas Telaga, Dinkes Gorontalo: Nakes Wajib Standby di UGD

Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo menegaskan tenaga kesehatan (nakes) tidak diperkenankan meninggalkan ruang Unit Gawat Darurat (UGD)

Tayang:
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Aldi Ponge
zoom-inlihat foto Viral Nur Hayati Tak Ditolong Puskemas Telaga, Dinkes Gorontalo: Nakes Wajib Standby di UGD
TRIBUNGORONTALO/HERJIANTO TANGAHU
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gorontalo 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo- Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo menegaskan tenaga kesehatan (nakes) tidak diperkenankan meninggalkan ruang Unit Gawat Darurat (UGD)

Artinya tenaga kesehatan harus standby guna melakukan pelayanan.

Ketentuan itu merupakan standar operasional prosedur (SOP) yang diberlakukan di seluruh puskesmas Kabupaten Gorontalo.

Seksi Pelayanan Dinas Kesehatan (Dikes) Kabupaten Gorontalo Marjen Ayuba, menjelaskan bila ketentuan itu merupakan hal mutlak yang telah menjadi SOP.

"Iya petugas harus standby dan harga mati," terangnya, Rabu (6/12/2023).

Katanya, sedikitnya ada enam puskesmas di Kabupaten Gorontalo yang memiliki pelayanan rawat inap, dari total 23 puskesmas.

"Ada 6 puskesmas yang memiliki tambahan pelayanan berupa rawat inap. Puskesmas tersebut diantaranya Puskesmas Batudaa, Tibawa, Boliyohuto, Tolangohula, Tilango, termasuk Puskesmas Telaga," rincinya.

Meski begitu, seluruh puskesmas tetap memberlakukan aturan dan SOP yang sama.

"Karena SOP tersebut bagi kami merupakan upaya dalam meningkatkan standar mutu pelayanan," terang Marjen.

Marjen membeberkan jika saat ini di Puskesmas Telaga, setidaknya ada 60 petugas. 

"Sudah include disitu ada dokter, bidan, perawat dan nakes lainnya yang bertugas untuk pelayanan administrasi dan lain sebagainya," ungkapnya.

Namun dari petugas nakes tersebut, sebagiannya merupakan tenaga abdi.

"Baik tenaga abdi maupun kontrak, tetap pakai aturan yang sama," jelasnya.

Khusus untuk nakes bidan dan perawat, berdasarkan SOP ada empat orang yang standby sesuai shift kerjanya.

"Dimulai dari pukul 08.00-14.00, 14.00-19.00 dan 19.00-08.00," beber Marjen.

Waktu-waktu tersebut lanjutnya, merupakan ketentuan yang telah lama diberlakukan.

Marjen menjelaskan jika tugas dan fungsi puskesmas ada dua, yakni upaya kesehatan masyarakat (UKM), seperti posyandu,  dan upaya kesehatan perorangan dalam gedung berupa kuratif.

"Pada dasarnya harus menjabarkan empat tupoksi utama, promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif," rincinya.

Insiden di Puskesmas Telaga lanjut Marjen, adalah hal yang patut dijadikan pelajaran oleh setiap puskesmas.

"Bila ada kelalaian kecil saja, bisa fatal nantinya. Sehingga dengan ini kita akan terus berbenah guna meningkatkan kualitas pelayanan," tandasnya

Viral Warga Gorontalo Meninggal

Sebelumnya, Kasus meninggalnya Nur Hayati Pipii (27), tengah menjadi perbincangan di tengah masyarakat Gorontalo.

Nur wafat setelah dilarikan ke RS. Islam Kota Gorontalo pada 28 November 2023.

Hal itu diduga karena Nur terlambat mendapat penanganan dari pihak Puskesmas Telaga.

Sang suami, Arif Ismail sempat meluapkan emosinya di media sosial. Unggahan berisi kekecewaan terhadap Puskesmas Telaga yang tak sempat melayani istrinya, Nur Hayati.

Arif menceritakan istrinya Nur Hayati beberapa hari sebelumnya baru saja selesai persalinan cesar. Namun kondisi Nur tak kunjung membaik.

Puncaknya, sekira pukul 01.30 Wita, Arif melarikan sang istri ke Puskesmas Telaga. Sepengetahuan dirinya, puskesmas tersebut buka 1x24 jam.

Alangkah kecewa Arif ketika sampai di puskesmas ia tak menemukan satu pun petugas nakes di sana.

Melihat sendal di depan pintu, Arif mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban dari orang di dalam ruangan.

Dalam kondisi istrinya mengerang kesakitan itu, Arif memutuskan untuk membawa istrinya ke RS Islam.

"Saya berusaha sendiri mengangkat istri saya ke atas bentor, tapi tidak bisa karena saat itu saya sendiri," kata Arif menggunakan aksen Gorontalo.

Beruntung ada seorang tukang bentor dan seorang laki-laki yang dalam kondisi mabuk, membantunya. Putus asa, Arif pun melarikan istrinya ke RS Islam di Kota Gorontalo.

Tiba di RS Islam, jantung istrinya ketika dicek sudah melemah, hingga kemudian meninggal dunia.

"Kita pe istri dorang dokter deng perawat ada periksa dokter bilang kita pe istri so meninggal dunia (Istri saya ketika diperiksa dinyatakan meninggal)," tulis Arif pada postingannya.

Arif membagikan curhatannya itu dengan mengunggah pula foto depan puskesmas tersebut. Saat dikutip TribunGorontalo.com, postingannya sudah dikomentari 4 ribu pengguna fb, dan dibagikan 6.9 ribu kali. 

"Mohon kpda dinas kesehatan kab.gorontalo & DPRD KABUPATEN GORONTALO untuk di tindak lanjuti kasus ini jgn sampai ada korban lagi seperti istri saya," tutup Arif dalam postingannya.

Kepala Puskesmas Telaga, dr. Meliana Panter menggambarkan kondisi puskesmas di malam itu. 

Menurutnya, sesuai jadwal piket jaga, ada 4 tenaga kesehatan (nakes) yang berjaga. Terdiri dari bidan 2 orang dan perawat 2 orang. 

“Tidak benar petugas tidak ada karena di kita itu ada jadwal piket pada malam itu ada 4 petugas,” katanya kepada TribunGorontalo, Sabtu (02/12/2023).

Hanya saja, ketika korban datang, 4 petugas ini dalam kondisi sibuk. 

Meliana menyebutnya “di waktu yang tidak tepat”. Saat korban datang bersama suaminya, petugas yang mestinya berjaga di UGD, sedang mengambil tabung oksigen di ruang belakang puskesmas. 

Jaraknya, menurut Meliana cukup jauh dari UGD, sehingga bisa saja saat suami korban berteriak, suaranya tidak terdengar. 

“Kalaupun informasinya yang bersangkutan berteriak, mungkin kalau dia berteriak di depan, tidak akan sampai ke belakang suaranya, apalagi depan jalan raya,” ungkapnya. (JIAN/WAWAN)

 

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved