Pemilu 2024

Meski Beranggotakan Artis-artis, Nyatanya PAN Bukanlah Partai Populer, Kenapa?

Hal ini terlihat dari hasil survei beberapa lembaga survei yang menunjukkan elektabilitas PAN masih di bawah ambang batas parlemen, yaitu 4 persen.

|
Penulis: Redaksi | Editor: Wawan Akuba
WartaKota
Dari kiri, Ketua DPW Partai Amanat Nasional (PAN) DKI Jakarta, Eko Hendro Purnomo atau Eko Patrio, aktor yang juga kader PAN, Verrell Bramasta, Wakil Ketua Umum PUAN AMANAT, Putri Zulkifli Hasan, dan Wakil Ketua Umum DPP PAN, Viva Yoga Mauladi berfoto bersama pada acara perkenalan kader baru PAN di Kantor DPP PAN, Jakarta Selatan, Kamis (9/2/2023). Verrell Bramasta resmi menjadi kader PAN dan akan maju sebagai calon legislatif pada Pemilu 2024. WARTA KOTA/YULIANTO (WARTA KOTA/YULIANTO). 

TRIBUNGORONTALO.COM -- Meski kerap merekrut artis-artis untuk menjadi kadernya, Partai Amanat Nasional (PAN) masih belum bisa menjadi partai yang populer di kalangan masyarakat.

Hal ini terlihat dari hasil survei beberapa lembaga survei yang menunjukkan elektabilitas PAN masih di bawah ambang batas parlemen, yaitu 4 persen.

Wakil Ketua Umum DPP PAN Viva Yoga Mauladi mengakui bahwa partainya kerap dijuluki "Nasakom" atau partai yang nasibnya satu koma.

Namun, dia menegaskan bahwa PAN selalu konsisten untuk lolos ke parlemen.

"Pemilihan umum 2024 mendatang, kami semakin yakin PAN sudah melebihi persyaratan minimal parliamentary threshold dan kami akan maksimalkan lagi agar bisa dua digit," kata Viva.

Menurut Viva, PAN tidak menjadikan artis sebagai vote getter, tetapi sebagai kader yang harus memenangkan kursi di parlemen.

"Seluruh caleg dengan background apapun, apakah dia profesional, artis, akademisi, sarjana hukum, dan lain sebagainya, diwajibkan berkompetisi maksimal dan harus menang," katanya.

Untuk mendekati pemilih muda, PAN membentuk tim biru yang terdiri dari artis, kaum profesional, dan generasi Z.

Tim ini bertugas untuk memberikan pendidikan politik kepada kaum muda.

"PAN ini adalah blue squad (tim biru). Blue squad itu adalah tim dari PAN. Ada artis, ada kaum profesional, ada gen Z di situ," kata Viva.

Artis Betah di PAN

Viva menjelaskan alasan artis memilih PAN lantaran ketua umum, Zulkifli Hasan adalah seseorang yang humble, non-birokrasi.

"Dan kami tidak membedakan kader lama, kader baru, pengurus lama, pengurus baru. Kami bersaudara semuanya, ada rasa egaliter (sederajat), rasa nyaman ketika masuk partai politik yang kelihatannya seram. Jadi menyenangkan, bahagia, dan menyehatkan setelah mencerdaskan. Jadi bagi kami, memposisikan artis itu sama dengan kader yang lain," kata Viva dikutip dari wawancaranya dengan TribunNews. 

Menurut Viva, perbedaan PAN zaman dulu dan sekarang itu sangat besar. Jika dulu membuat program berdasarkan kemauan partai, kini berdasarkan riset. 

"Sejak Zulkifli Hasan menjadi ketua umum, kami melakukan reset dan ternyata seluruh program PAN itu berdasarkan hasil reset. Apa maunya pasar, apa maunya konstituen. Itu yang kami elaborasi tapi tetap untuk ideologi politik, partai, selalu menjadi landasan dalam setiap program-program," katanya. 

Karena itu makin lama kata dia, PAN sudah semakin merasakan program yang dibawa sangat dibutuhkan masyarakat. 

"Jadi kami di samping tetap membina basis konstituen yang sudah ada, kami memfokuskan kepada pemilih kaum milenial dan generasi yang 56 persen itu. Biasanya program untuk mendekati mereka dengan cara, bahasa, gaya, dan metode mereka," ucapnya.  (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved