Kasus Prostitusi Gorontalo

3 Hal yang Berperan Penting Cegah Perdagangan Orang di Gorontalo

Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) mulai marak terjadi di Provinsi Gorontalo

|
Penulis: Prailla Libriana Karauwan | Editor: Fadri Kidjab
TribunGorontalo.com/Wawan Akuba
3 dari 7 yang digerebek dalam operasi TPPO bermodus prostitusi Michat ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Gorontalo, Selasa (11/10/2023). 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) mulai marak terjadi di Provinsi Gorontalo. 

Mulai dari warga berusia remaja hingga dewasa terlibat ke dalam TPPO ini. Beberapa tersangka sudah diamankan oleh pihak kepolisian.

Menurut Asriyati Nadjamuddin, anggota organisasi Salampuan yang fokus pada isu anak, perempuan dan keluarga mengatakan korban dari kasus ini kadang tidak mengetahui bahwa dia masuk ke dalam lingkaran tersebut.

"Era disrupsi saat ini mendorong pola baru dalam kejahatan, termasuk human trafficking. Kejahatan lama, tapi polanya lebih modern bahkan korban bisa saja tidak menyadari terjerat dalam lingkaran kejahatan tersebut," ujarnya kepada TribunGorontalo.com, Jumat (13/10/2023).

Bukan tanpa sebab, seseorang dengan mudahnya masuk kedalam human Traffcking (TPPO) ini. Kurangnya pendidikan dan juga literasi menjadi salah satu penyebab seseorang bisa masuk kedalam lingkup tersebut.

Pendidikan yang cenderung rendah dan literasi yang kurang memadai membuat siapa saja sulit untuk mengatakan kata "tidak".

Peran orangtua dalam mendidik anaknya pun berpengaruh, orangtua dengan tingkat pendidikan yang rendah dan juga desakan ekonomi keluarga membuat mereka bersedia melakukan apa saja yang bisa meningkatkan taraf hidupnya termasuk menjual anak mereka sendiri.

"Ini fakta yang kita temui di beberapa daerah, semoga di Gorontalo tidak ada orangtua yang begini," harapnya.

Adapun cara atau upaya yang dapat dilakukan seseorang agar terhindar dari human trafficking ini.

Salah satunya adalah dengan memberi pengetahuan, penyuluhan dan sosialisasi kepada seluruh masyarakat mengenai masalah human trafficking ini secara terus menerus sehingga masyarakat akan mengetahui bahayanya masalah ini, dan bagaimana solusinya.

"Ini dilakukan secara simultan, bukan hnya di kelompok menengah ke atas, tapi kelompok bawah yang penting, karena rentan terjadi perdagangan orang dengan latar desakan kebutuhan ekonomi," ungkapnya.

Asriyati Nadjamuddin, anggota Organisasi Salampuan
Asriyati Nadjamuddin, anggota Organisasi Salampuan (TribunGorontalo.com)

Baca juga: Wanita Hamil di Gorontalo Jadi Saksi Kasus TPPO Bermodus Prostitusi Michat

Selain itu, upaya saling mengingatkan antar sesama juga perlu dilakukan agar terhindar dari kasus ini. Sesama masyarakat harus saling mengingatkan khususnya kepada orang yang berpotensi terjaring dalam perdagangan orang

"Kita tidak tahu bisa jadi ada korban atau pelaku di sekitar kita. Makanya harus selalu mengingatkan," ujarnya.

Lalu, upaya yang bisa dilakukan adalah dengan aktif melakukan pencegahan TPPO. Ada banyak cara yang bisa dilakukan, salah satunya melaporkan kasus yang diketahui kepada pihak yang berwajib.

Peran Orangtua

Orangtua juga bisa mengarahkan anak, keponakan atau anak muda lain untuk selalu lebih berhati-hati dalam berteman di dalam situs jejaring sosial.

"Kita bisa berperan aktif dengan cara melaporkan kasus yang kitaketahui kepada yang berwajib. bisa juga mengarahkan anak, keponakan, atau anak muda lain yang gemar beraktivitas di situs jejaring sosial untuk lebih berhati-hati dalam berteman," jelasnya.

Peran Media

Faktor kunci lainnya dalam mengatasi masalah perdagangan orang ini adalah peran media. Media dapat menjadi alat yang efektif dalam membangun kepedulian masyarakat. Masyarakat harus mengerti dampak yang ditimbulkan dari perdagangan orang untuk membantu menjalankan perannya.

Peran Pemerintah

Asriyati berharap agar pemerintah khususnya Pemerintah Provinsi Gorontalo mengoptimalkan program khususnya yang terkait dengan pendidikan anak dan perempuan. 

"Isu perdagangan org bisa dimasukan dalam konten literasi digital di sekolahan misalnya khususnya dikelompok yg rentan, seperti remaja," ujarnya.

Selain itu, agenda pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi juga seharusnya bisa merata disemua masyarakat sehingga mengurangi ketimpangan sosial yg membuka peluang terjadinya TPPO.

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved