Human Interest Story
Cerita Nasir Minarabi, Warga Gorontalo yang Harus Hidup Tanpa Kaki Kiri
Nasir Minarabi, warga Gorontalo Provinsi Gorontalo menceritakan dirinya harus rela kehilangan kaki kirinya.
Penulis: Prailla Libriana Karauwan | Editor: Aldi Ponge
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Nur-Fitriyani-Minarabi-bersama-ayahnya-6666.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Nasir Minarabi, warga Gorontalo Provinsi Gorontalo menceritakan dirinya harus rela kehilangan kaki kirinya.
Kaki kirinya harus diamputasi karena kecelakaan tunggal yang dialami oleh Nasir bersama rekan kerjanya pada saat itu.
Nasir beserta keluarganya tidak menyangka pada Januari 2021, hidup Nasir berubah total.
Nur Fitriyani Minarabi, anak dari Nasir Minarabi ini menjelaskan kronologinya sampai orang tuanya harus mengalami hal itu.
Pada saat itu, Nasir yang kesehariannya adalah pekerja buruh yang bertugas mengangkut barang material dengan menggunakan mobil dump truck.
Mobil tersebut mengalami kecelakaan di Desa Kasia, Kecamatan Sumalata, Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo.
Kecelakaan tersebut adalah kecelakaan tunggal dimana menurut Fitri, kecelakaan tersebut terjadi akibat kelalaian dari rekan kerja orangtuanya.
"Kecelakaan tunggal itu disebabkan kelalaian teman kerja orang tua saya karena dia yang membawa mobilnya," ujarnya kepada TribumGorontalo.com, Kamis (5/10/2023).
Kata Fitri, ayahnya bersama rekan kerjanya tersebut menabrak batu besar dijalanan. Ayahnya saat itu duduk disamping sopir.
Fitri menduga rekan kerja ayahnya mengendarai mobil tersebut dengan kecepatan tinggi makanya benturan di mobil itu sangat keras dan kaki ayahnya terpeleset masuk lebih dalam ke bagian mobilnya.
Lanjut kata Fitri, setelah kejadian tersebut pimpinan dari tempat ayahnya bekerja datang untuk menjenguk.
"Setelah dari kecelakaan itu, di rumah sakit pimpinan datang untuk menjenguk setelah dapat kabar kecelakaan," lanjutnya.
Tak hanya datang menjenguk saja, namun dari pimpinan tersebut juga memberikan bantuan berupa uang tunai dan kursi roda kepada ayahnya.
Setelah kecelakaan tersebut, kaki ayahnya sudah harus diamputasi. Fitri dan keluarganya pun mengaku syok kala itu.
"Pastinya syok, jalan terbaik dari dokternya yah hanya itu, diamputasi," ujarnya sambil terisak.
Ayahnya pun merasa syok karena harus kehilangan kaki satunya. Fitri mengaku jika ayahnya setelah diamputasi merasa terpuruk.
Sang ayahnya merupakan tulang punggung keluarga, maka setelah kejadian tersebut, ayahnya sempat beberapa kali masuk kerja dengan menggunakan tongkat. Namun karena sulit untuknya bekerja, maka ayahnya mengundurkan diri.
"Saya juga kan anak satu-satunya dan sudah berkeluarga tapi masih tinggal sama-sama. Sekarang orangtua saya hanya di rumah saja," ujar Fitri.
Fitri yang telah bekerja menjadi pegawai kontrak di salah satu universitas pun lantas menjadi tulang punggung keluarganya saat ini.
"Mau tidak mau saya sebagai anak satu-satunya dari mereka, tinggal juga bersama mereka, yah sedikit-sedikit saya bisa membantu kehidupan keluarga saya," jelas Fitri.
Nasir, ayah Fitri pun menjadi sorotan dari beberapa yayasan, namun kata Fitri hanya sebatas mengukur saja tapi sampai sekarang tidak ada. "Cuma PLN ini yang nyata diberi," lanjutnya.
Fitri berharap dengan adanya bantuan kaki palsu tersebut, ayahnya dapat beraktivitas normal kembali dan mentalnya juga kembali sehat.
"Semoga dengan adanya kaki palsu ini orangtua saya bisa beraktifitas normal lagi terutama emosi dari orangtua saya yang beberapa tahun ini kayak terpuruk," tutupnya.(*)