Universitas Negeri Gorontalo
Antisipasi Krisis Pangan, Universitas Negeri Gorontalo Kembangkan Sorgum Pengganti Beras
Universitas Negeri Gorontalo (UNG) melalui Pusat Inovasi UNG (PIU), kembangkan tanaman sorgum di kawasan teluk Tomini dalam upaya ketahanan pangan.
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Sorgum.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Dalam mengatasi Universitas Negeri Gorontalo (UNG) melalui Pusat Inovasi UNG (PIU) mengembangkan tanaman sorgum di kawasan Teluk Tomini.
Sorgum atau tanaman serealia merupakan salah satu tanaman pangan yang dikembangkan di negara-negara bagian utara Afrika.
Tanaman pangan yang kaya akan kandungan karbohidrat ini dinilai memiliki nilai gizi yang tinggi, bahkan lebih tinggi dari beras.
Di Indonesia, sorgum pertama kali masuk di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) sekitar tahun 1960-an.
Setelah meledaknya perang antara Ukraina dan Rusia tahun 2022, Presiden RI Jokowi Dodo melalui Kementerian Pertanian memprioritaskan sorgum sebagai alternatif ketahanan pangan.
Jauh sebelum itu, Rektor Universitas Negeri Gorontalo (UNG) Eduart Wolok memiliki target penguatan ketahanan pangan di pesisir Teluk Tomini dengan pengembangan budidaya sorgum.
Semenjak periode pertama kepemimpinannya, UNG telah menjadi kerjasama dengan Lembaga penelitian Jepang yaitu RIHN.
Salah satu kegiatan dalam kerjasama tersebut adalah kegiatan SRIREP Project tahun 2020-2023.
Di mana salah satu project tersebut adalah mengenai sorgum.
Perkembangan terkait penelitian sorgum saat ini sudah sampai pada proses hilirisasi produk.
Hal ini dikuatkan oleh Pusat Inovasi UNG (PIU) yang dipimpin oleh Funco Tanipu.
Ketua tim project Sorghum SRIREP UNG, Agus Bahar Rachman menjelaskan bahwa dirinya saat ini saat ini sementara melakukan studi banding.
"Benar, saya sementara mengembangkan data ke Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Playen, Gunung Kidul," ungkap Agus kepada tribungorontalo.com melalui panggilan telefon, Rabu (27/9/2023).
Dirinya menjelaskan bahwa itu dilakukan sebagai salah satu penguatan proses hilirasasi sorghum yang sedang dikembangkan oleh PIU UNG.
Baca juga: Kekerasan Anak di Gorontalo Capai 268 Kasus, Mayoritas Pelaku Masih Anggota Keluarga
Agus mengungkapkan bahwa dirinya bersama dengan PIU UNG telah melakukan upaya percobaan dan pengembangan di dua kabupaten di provinsi Gorontalo.
"Kita sudah coba tanam setengah hektar masing-masing di Kabupaten Gorontalo dan Kabupaten Bone Bolango," jelas Agus.
Tanaman yang memiliki produktivitas tinggi ini dinilai mampu tumbuh dan dapat dikembangkan secara besar-besaran di kawasan teluk Tomini, termasuk di Gorontalo.
"Ini ditanam satu kali, panen selama tiga kali dengan interval waktu panen yakni tiga bulan," ungkapnya.
Lebih lanjut, Agus menyebut bahwa ada beberapa pemerintah daerah (Pemda) yang telah mengalokasikan sejumlah anggaran untuk pengembangan tanaman sorgum.
Meski begitu, yang masih menjadi kendala utamanya dalam pengembangan ini adalah meyakinkan masyarakat.
"Ini tanaman baru di Provinsi Gorontalo, sehingga untuk masuk ke semua level lapisan masyarakat perlu edukasi dan sosialisasi yang maksimal bersama dengan Pemda setempat," tandasnya.
(TribunGorontalo.com/Herjianto)