Sosok Tokoh
Sosok Nani Wartabone, Proklamator Kemerdekaan di Gorontalo 1942, Jadi Petani di Akhir Hayat
Saat itu Nani Wartabone juga mengibarkan bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/170822-nani-wartabone-17.jpg)
Pada Jumat 23 Januari 1942, Nani Wartabone memimpin para pemuda Suwawa menuju ke Gorontalo.
Di sepanjang perjalanan, rombongan Nani Wartabone kian besar karena banyak rakyat yang bergabung.
Sesampainya di Gorontalo, mereka lantas menangkapi para pejabat Belanda yang ada di sana.
Nani Wartabone kemudian menurunkan bendera Belanda dan menggantinya dengan pengibaran bendera Merah Putih dan diiringi oleh lagu Indonesia Raya.
Dalam kesempatan tersebut, Nani Wartabone menegaskan bahwa bangsa Indonesia yang ada di Gorontalo sudah merdeka.
Sore harinya Nani memimpin pembentukan Pucuk Pimpinan Pemerintahan Gorontalo yang berfungsi sebagai Badan Perwakilan Rakyat.
Empat hari berikutnya, Nani memobilisasi rakyat untuk rapat raksasa di Tanah Lapang Besar Gorontalo.
Rapat raksasa itu bertujuan untuk mempertahankan kemerdekaan yang sudah diproklamasikan dengan risiko apapun.
Namun saat Jepang masuk ke Gorontalo, Nani Wartabone ditangkap dan dipenjara di Manado.
Meski sempat bebas pada tahun 1944, namun Nani Wartabone baru benar-benar dibebaskan pada Desember 1949.
Deklarasi Kemerdekaan Indonesia di Gorontalo
Deklarasi kemerdekaan Indonesia yang diumumkan di lapangan Kota Gorontalo menjadi pemantik kebangkitan nasionalisme masyarakat.
Pidato deklarasi ini diucapkan oleh Nani Wartabone, tokoh petani Gorontalo yang menjadi ketua Komite 12.
Deklarasi kemerdekaan itu berbunyi: Pada hari ini tanggal 23 Januari 1942, kami Bangsa Indonesia yang berada di sini sudah merdeka bebas, lepas dari penjajahan bangsa manapun juga.
Bender akita Merah Putih, lagu kebangsaan kita adalah Indonesia Raya, Pemerintah Belanda sudah diambil alih Pemerintah Nasional. Atas nama segenap rakyat, Ketua Komite Duabelas, Nani Wartabone.