Serangan Mematikan ISIS di Gurun Deir Az-Zor: 20 Tentara Tewas dan Lebih Banyak Terluka
Laporan terbaru dari Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia di Inggris, Jumat (11/8/2023) mengungkapkan bahwa jumlah korban tewas akibat seranga
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/1282023_ISIS.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM -- Kelompok bersenjata ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) menggempur sebuah konvoi militer Suriah dalam serangan mendadak di Provinsi Deir Az-Zor, yang berbatasan dengan Irak.
Akibat serangan tersebut, sedikitnya 20 tentara Suriah dinyatakan tewas dan sejumlah lainnya mengalami luka-luka serius.
Laporan terbaru dari Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia di Inggris, Jumat (11/8/2023) mengungkapkan bahwa jumlah korban tewas akibat serangan ini mencapai 26 tentara, dengan 10 tentara lainnya mengalami luka-luka.
Serangan yang terjadi di jalan melintasi gurun dekat kota Mayadeen ini memunculkan kebingungan terkait jumlah pasti korban.
Pihak Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia menggambarkan serangan ini sebagai yang paling mematikan sepanjang tahun oleh ISIS.
"Puluhan tentara hilang setelah orang-orang bersenjata mengepung bus dan melepaskan tembakan dalam serangan paling mematikan sepanjang tahun ini oleh ISIS," ungkap Observatorium.
Munculnya serangan semacam ini menunjukkan pergeseran taktik dari pihak ISIS.
Menurut Kepala Observatorium, Rami Abdurrahman, ISIS telah menunjukkan keberanian dan ketangguhan yang lebih besar dalam beberapa bulan terakhir.
"Mereka kini meningkatkan serangan militernya yang mematikan, dengan tujuan untuk menciptakan korban sebanyak mungkin," ucap Abdurrahman.
Dalam pernyataan resmi yang disebarluaskan melalui saluran Telegram, ISIS mengakui bertanggung jawab atas serangan brutal ini.
Meskipun demikian, belum ada komentar resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah atau tentara Suriah terkait insiden ini.
Serangan ini menandai peningkatan aktivitas ISIS di wilayah gurun Deir Az-Zor, yang dahulu merupakan wilayah kuat kelompok tersebut.
Meskipun ISIS telah kehilangan sebagian besar wilayahnya di Suriah dan Irak, serangan ini menjadi bukti bahwa kelompok tersebut masih mempertahankan keberadaan dan potensi bahayanya.
Selama beberapa tahun terakhir, pasukan pimpinan Kurdi yang didukung oleh Amerika Serikat telah berhasil mengusir ISIS dari wilayah-wilayah yang pernah dikuasainya.
Namun, pemberontak ISIS terus mencari celah untuk melancarkan serangan-serangan mematikan, seperti yang terjadi dalam serangan terbaru ini.