Rabu, 11 Maret 2026

Gorontalo Wiki

Secuil Cerita Stadion 23 Januari, dari Tanah Kuburan Jadi Saksi Pembentukan Provinsi Gorontalo

Stadion 23 Januari berada di Kelurahan Hulawa, Kecamatan Telaga, Kabupaten Gorontalo. Tak jauh dari jalan utama Jalan Ahmad A. Wahab.

Tayang:
Penulis: Husnul Puhi | Editor: Wawan Akuba
Secuil Cerita Stadion 23 Januari, dari Tanah Kuburan Jadi Saksi Pembentukan Provinsi Gorontalo - 1472023_Stadion-23-Januari-Gorontalo.jpg
TribunGorontalo.com
Sudut lapangan di Stadion 23 Januari Gorontalo.
Secuil Cerita Stadion 23 Januari, dari Tanah Kuburan Jadi Saksi Pembentukan Provinsi Gorontalo - 1472023_Stadion-23-Januari-Gorontalo-001.jpg
TribunGorontalo.com
Stadion 23 Januari Gorontalo.

TRIBUNGORONTALO.COM, Telaga -- Stadion 23 Januari menjadi saksi pembentukan Provinsi Gorontalo dan pisah dari Sulawesi Utara (Sulut). 

Stadion yang kurang lebih berjarak 500 meter dari perbatasan antara kota dan kabupaten Gorontalo ini jadi tempat Nelson Pomalingo saat itu Ketua Presnas P2GTR mendeklarasikan pemisahan diri dari Sulut. 

Stadion 23 Januari berada di Kelurahan Hulawa, Kecamatan Telaga, Kabupaten Gorontalo. Tak jauh dari jalan utama Jalan Ahmad A. Wahab.

Kata warga sekitar, Stadion 23 Januari itu dahulunya merupakan tempat pekuburan keluarga.

Efendi Abas (43) yang bermukim tepat di belakang stadion mengatakan, dulunya sebelum dibangun jadi stadion, lahan tersebut merupakan pekuburan.

"Ini cerita dari ayah saya, katanya sebelum jadi stadion, dulunya pekuburan ini," jelas Efendi saat ditemui TribunGorontalo.com di Stadion 23 Januari, Kamis (13/7/2023).

Kata Efendi, dulunya stadion tersebut merupakan tanah milik masyarakat, kemudian dibeli oleh pemerintah untuk dibangun sebuah stadion.

Kata Efendi, Stadion 23 Januari dibangun di saat Martin Liputo menjabat Bupati Gorontalo periode 1981-1989. 

"Kalau tidak salah, ini di jamannya Martin Liputo," kata Efendi.

Efendi masih ingat orang tuanya bercerita, pembangunan Stadion 23 Januari dilakukan dengan sangat baik. 

Saat itu, pembangunnya dengan melapisi bagian dasar pondasi dengan bahan ijuk. Inilah yang diduga jadi alasan Stadion tersebut tak pernah digenangi air.

"Kan saya pernah tanya sama orang tua saya, dia gale dulu ini tanah, baru dia taruh batu, sampe dia meresap itu, baru dia taruh dunula (ijuk), baru tanah dan pasir, kemudian rumput," terangnya.

"Tiap hujan tidak pernah tergenang air, dia (stadion) meresap, di bagian samping lapangan juga ada got kecil untuk pembuangan," tambah Efendi.

Alasan stadion ini dinamakan 23 januari, karena diambil dari hari kemerdekaan Gorontalo.

Gorontalo telah merdeka lebih dulu dibanding Indonesia, yakni pada 23 januari 1942.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved