Segitiga Bermuda
Misteri Segitiga Bermuda di Perairan Indonesia, Kapal Tenggelam hingga Pesawat Jatuh, Ini Lokasinya
Lokasi Segitiga Bermuda ini berada di Masalembo, sebuah perairan yang berada di tengah Laut Jawa, tepatnya sebelah utara Kabupaten Sumenep, Jawa Timur
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Perairan-Masalembo-ffffddd.jpg)
Diberitakan Harian Kompas, 2 Januari 2007, Adam Air KI 574 putus kontak dengan radar Air Traffic Centre (ATC) Bandara Makassar, Sulawesi Selatan sekitar 1 jam 7 menit setelah terbang.
Pada saat putus kontak, posisi pesawat berada pada 85 mil laut (157,42 kilometer) sebelah barat laut Makassar dengan ketinggian 35.000 kaki (10.668 meter).
Sampai hari itu, pukul 00.00, posisi pesawat Adam Air KI 574 belum diketahui. Namun, radar milik Singapura menangkap pancaran emergency locator beacon (elba) di Rantepao, Tanatoraja, Sulawesi Selatan, dengan titik koordinat 3.135.257 Lintang Selatan/119.917 Bujur Timur.
Pencarian sempat menunjukkan titik terang saat ekor pesawat Adam Air ditemukan seorang nelayan Majene pada 11 Januari 2007.
Kotak hitam pesawat Adam Air KI 574 baru ditemukan pada hari ke-25 pencarian, dan setelah itu pencarian pun dihentikan.
Mengenal Misteri segitiga bermuda Dunia
Salah satu laporan kejadian di Segitiga Bermuda yang tidak dapat dijelaskan berasal dari pertengahan abad ke-19.
Dilansir Britannica, saat itu diketahui beberapa kapal ditemukan benar-benar ditinggalkan tanpa alasan yang jelas.
Bahkan yang lain tidak mengirimkan sinyal bahaya dan tidak pernah terlihat atau terdengar lagi.
Selain itu, pesawat telah dilaporkan dan kemudian menghilang, kemudian misi penyelamatan dikatakan menghilang saat terbang di daerah tersebut.
Meski begitu, puing-puingnya belum ditemukan, dan beberapa teori yang dikemukakan untuk menjelaskan misteri yang terjadi berulang-ulang itu hanyalah khayalan.
Meskipun banyak teori supranatural tentang penyebab kejadian tersebut, faktor geofisika dan lingkungan kemungkinan besar bertanggung jawab.
Salah satu hipotesisnya, pilot gagal memperhitungkan garis agonis, tempat di mana tidak perlu mengkompensasi variasi kompas magnetik, saat mereka mendekati Segitiga Bermuda.
Kondisi tersebut mengakibatkan kesalahan navigasi dan bencana yang signifikan.
Teori populer lainnya adalah bahwa kapal-kapal yang hilang ditumbangkan oleh apa yang disebut "rogue waves", yaitu gelombang besar yang dapat mencapai ketinggian hingga 30,5 meter.
Secara teoritis, gelombang tersebut cukup kuat untuk menghancurkan semua bukti keberadaan kapal atau pesawat terbang.
Apalagi Segitiga Bermuda terletak di area Samudra Atlantik, di mana badai dari berbagai arah dapat bertemu, membuat gelombang besar lebih mungkin terjadi.
Sejalan dengan itu, dilansir National Ocean Service, beberapa penjelasan terkait misteri tersebut lebih didasarkan pada sains.
Ini termasuk gas samudera, yakni gas metana yang meletus dari sedimen laut, dan gangguan pada garis aliran geomagnetik.
Selain itu, pertimbangan lingkungan dapat menjelaskan banyak hal terkait penyebab penghilangan kapal dan pesawat di Segitiga Bermuda.
Sebagian besar badai dan angin topan tropis Atlantik melewati kawasan Segitiga Bermuda, dan pada hari-hari sebelum prakiraan cuaca membaik, badai berbahaya ini bisa “menelan” banyak kapal.
Selain itu, arus teluk juga dapat menyebabkan perubahan cuaca yang cepat, dan terkadang ganas.
Apalagi banyaknya pulau di Laut Karibia yang menciptakan wilayah perairan dangkal yang berbahaya bagi navigasi kapal.
Dan ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa Segitiga Bermuda adalah tempat di mana kompas "magnetik" kadang-kadang mengarah ke arah utara yang "sebenarnya", berlawanan dengan utara "magnetik".
SUMBER: Kompas.com
BACA JUGA BERITA MENARIK TRIBUNGORONTALO.COM di GOOGLE