Senin, 9 Maret 2026

Segitiga Bermuda

Misteri Segitiga Bermuda di Perairan Indonesia, Kapal Tenggelam hingga Pesawat Jatuh, Ini Lokasinya

Lokasi Segitiga Bermuda ini berada di Masalembo, sebuah perairan yang berada di tengah Laut Jawa, tepatnya sebelah utara Kabupaten Sumenep, Jawa Timur

Tayang:
Editor: Aldi Ponge
zoom-inlihat foto Misteri Segitiga Bermuda di Perairan Indonesia, Kapal Tenggelam hingga Pesawat Jatuh, Ini Lokasinya
Dok Kompas
Lokasi tenggelamnya Tampomas, di Perairan Masalembo. Lokasi ini disebut Segitiga Bermuda versi Indonesia 

TRIBUNGORONTALO.COM - Selama ini kita mengenal Segitiga Bermuda adalah salah satu wilayah paling misterius di dunia yang terkenal dengan kejadian hilangnya kapal dan pesawat yang tidak dapat dijelaskan.

Dikatakan lebih dari 50 kapal dan 20 pesawat telah menghilang secara misterius di sana. Beberapa berspekulasi bahwa ada misterius yang bertanggung jawab atas penghilangan tersebut.

Bahkan dikaitkan dengan makhluk luar angkasa, pengaruh benua Atlantis yang hilang, atau pusaran yang menyedot benda ke dimensi lain.

Wilayah Segitiga Bermuda termasuk dalam kawasan Samudra Atlantik di lepas pantai Amerika Utara.

Daerah tersebut, memiliki bentuk segitiga samar-samar yang ditandai dari titik wilayah pantai Atlantik menjulur Florida (di Amerika Serikat), Bermuda, dan kepulauan Antillen Besar.

Segitiga Bermuda Indonesia

Nah di Indonesia ternyata punya Segitiga Bermuda. Lokasi Segitiga Bermuda ini berada di Masalembo, sebuah perairan yang berada di tengah Laut Jawa, tepatnya sebelah utara Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.

Perairan Masalembo juga merupakan daerah pertigaan yang merupakan pertemuan antara Laut Jawa dengan Selat Makasar.

Julukan Segitiga Bermuda Indonesia disematkan ke Perairan Masalembo karena banyaknya kejadian kecelakaan kapal atau pesawat di wilayah ini.

Dilansir dari laman sumenepkab.go.id, nama Masalembo diambil dari nama kepulauan yang ada di perairan tersebut yaitu Kepulauan Masalembu.

Pulau yang semula masih tanpa nama tersebut dahulu penuh dengan hewan jenis sapi atau lembu.

Oleh karenanya, orang-orang Bugis kemudian menyebut pulau tersebut dengan sebutan Nusa Lembu (pulau sapi).

Namun, lama kelamaan penyebutan Nusa Lembu berubah menjadi Masalembu, dari kata masa yang berarti banyak dan lembu yang bermakna sapi.

Sehingga nama Masalembu berarti banyak lembu yang merujuk populasi hewan mamalia yang ada di pulau tersebut.

Sedangkan wilayah perairan di sekitar kepulauan tersebut lebih dikenal dengan nama Masalembo.

Perairan Masalembo fffgfg
Perairan Masalembo yang disebut sebagai Segitiga Bermuda Indonesia

Mitos di Perairan Masalembo

Dilansir dari laman news.unair.ac.id, Albar, salah satu warga di Masalembu mengungkap mitos yang ada di perairan ini.

Albar mengatakan bahwa Masalembu mempunyai misteri tentang kekuasaan Ratu Malaka.

Konon pada masa lalu, perairan Masalembu dikuasai oleh makhluk halus dan siluman yang berkumpul.

Sehingga ketika melewati tempat tersebut, nenek moyang memerlukan sesajen dan sesembahan agar bisa selamat.

”Jadi pantang bagi siapa saja (nenek moyang) yang ingin selamat melewati perairan itu tanpa membawa sesajen dan sesembahan. Kalau itu dilanggar itu bisa memakan tumbal,” ungkap Albar.

Penjelasan Ilmiah Tentang Perairan Masalembo

Kondisi yang unik di Perairan Masalembo pernah dijelaskan dalam penelitian LIPI berjudul Menguak Mitos Segitiga Masalembo dalam Perspektif Oseanografi (2016) yang ditulis Adi Purwandana S.Si. M.Si.

Dalam penelitian tersebut dijelaskan adanya fenomena turbulensi di udara yang mengancam keselamatan penerbanga, serta pusaran yang mengancam keselamatan pelayaran.

Hal ini berawal dari perbedaan kondisi Laut Jawa yang merupakan merupakan perairan dangkal di sebelah barat kepulauan Masalembo, dengan Laut Flores yang merupakan perairan laut dalam di sebelah timur.

Fenomena turbulensi di Perairan Masalembo disebabkan oleh perairan Laut Jawa yang lebih cepat hangat dengan menghangatnya lapisan atmosfer di atasnya dibandingkan Laut Flores.

Hal Ini menyebabkan perbedaan tekanan udara karena tutupan awan sebagai dampak dari penguapan

 Perbedaan tekanan udara yang secara tiba-tiba inilah yang menghasilkan fenomena turbulensi yang dapat mengancam keselamatan ketika pesawat udara melintasinya.

Selanjutnya, fenomena pusaran air di Perairan Masalembo disebabkan oleh adanya Arus lintas Indonesia (Arlindo) yang mengalirkan massa air dari Samudera Pasifik menuju Samudera Hindia.

Selain mengalir melalui Selat Makassar, Arlindo juga mengalir melalui perairan laut dangkal yaitu Laut Jawa, yang dibawa dari Laut China Selatan.

Kedua arus ini selanjutnya bertemu di wilayah segitiga Masalembo, sehingga menimbulkan pengacakan arus dan turbulensi yang disinyalir tidak hanya menghasilkan pusaran/eddy secara horizontal namun juga secara vertikal.

Fenomena pusaran inilah yang dapat mengancam keselamatan moda transportasi laut, terutama untuk kapal-kapal bertonase kecil ketika melintasinya.

Tragedi Kecelakaan di Perairan Masalembo

Dari banyaknya kecelakaan yang terjadi di Perairan Masalembo, berikut adalah dua kecelakaan yang paling membekas dalam sejarah.

1. Tenggelamnya Kapal Tampomas II

Tenggelamnya Kapal Tampomas II di perairan Masalembo, Laut Jawa pada Selasa, 27 Januari 1981.

Kapal Tampomas II berlayar dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta menuju Teluk Bayur, Ujung Pandang, pada Sabtu, 24 Januari 1981 sekitar pukul 19.00 WIB.

Tenggelamnya kapal yang dinahkodai oleh Abdul Rivai (44) ini menelan ribuan korban. Beberapa di antaranya berhasil selamat, sisanya meninggal dunia dan ratusan penumpang belum diketahui nasibnya.

Dilansir dari Kompas.com (2022), Sekditjen Perhubungan Laut saat itu, Fanny Habibie, dalam keadaan cuaca yang jelek itu penumpang mengalami kepanikan sehingga beberapa orang terjun ke laut.

 
Pada Selasa (27/1/1981) pukul 13.42 WITA, Kapal Tampomas II dilaporkan tenggelam di Selat Makassar dekat Pulau Masalembo, sekitar 220 mil laut menjelang Pelabuhan Telukbayur, Ujung Pandang.

Posisi tenggelamnya Kapal Tampomas II berada pada 05 derajat 36 menit Lintang Selatan dan 115 derajat 50 menit Bujur Timur.

2. Jatuhnya Pesawat Adam Air 574

Pesawat Adam Air dengan nomor penerbangan 574 jatuh di Perairan Masalembo, tepatnya di Selat Makassar pada tanggal 1 Januari 2007.

Melansir Kompas.id, 11 Januari 2021, pesawat itu membawa 96 penumpang dan 6 orang awak pesawat yang semuanya dinyatakan meninggal dunia.

Adam Air KI 574 tujuan Manado, Sulawesi Utara lepas landas dari Bandara Juanda pada pukul 12.59 WIB dan dijadwalkan mendarat di Manado pukul 16.14 WITA. Sayangnya, pesawat itu tak pernah tiba di Manado.

Diberitakan Harian Kompas, 2 Januari 2007, Adam Air KI 574 putus kontak dengan radar Air Traffic Centre (ATC) Bandara Makassar, Sulawesi Selatan sekitar 1 jam 7 menit setelah terbang.

Pada saat putus kontak, posisi pesawat berada pada 85 mil laut (157,42 kilometer) sebelah barat laut Makassar dengan ketinggian 35.000 kaki (10.668 meter).

Sampai hari itu, pukul 00.00, posisi pesawat Adam Air KI 574 belum diketahui. Namun, radar milik Singapura menangkap pancaran emergency locator beacon (elba) di Rantepao, Tanatoraja, Sulawesi Selatan, dengan titik koordinat 3.135.257 Lintang Selatan/119.917 Bujur Timur.

Pencarian sempat menunjukkan titik terang saat ekor pesawat Adam Air ditemukan seorang nelayan Majene pada 11 Januari 2007.

Kotak hitam pesawat Adam Air KI 574 baru ditemukan pada hari ke-25 pencarian, dan setelah itu pencarian pun dihentikan.

Mengenal Misteri segitiga bermuda Dunia

Salah satu laporan kejadian di Segitiga Bermuda yang tidak dapat dijelaskan berasal dari pertengahan abad ke-19.

Dilansir Britannica, saat itu diketahui beberapa kapal ditemukan benar-benar ditinggalkan tanpa alasan yang jelas.

Bahkan yang lain tidak mengirimkan sinyal bahaya dan tidak pernah terlihat atau terdengar lagi.

 Selain itu, pesawat telah dilaporkan dan kemudian menghilang, kemudian misi penyelamatan dikatakan menghilang saat terbang di daerah tersebut.

Meski begitu, puing-puingnya belum ditemukan, dan beberapa teori yang dikemukakan untuk menjelaskan misteri yang terjadi berulang-ulang itu hanyalah khayalan.


Meskipun banyak teori supranatural tentang penyebab kejadian tersebut, faktor geofisika dan lingkungan kemungkinan besar bertanggung jawab.

Salah satu hipotesisnya, pilot gagal memperhitungkan garis agonis, tempat di mana tidak perlu mengkompensasi variasi kompas magnetik, saat mereka mendekati Segitiga Bermuda.

Kondisi tersebut mengakibatkan kesalahan navigasi dan bencana yang signifikan.

Teori populer lainnya adalah bahwa kapal-kapal yang hilang ditumbangkan oleh apa yang disebut "rogue waves", yaitu gelombang besar yang dapat mencapai ketinggian hingga 30,5 meter.

Secara teoritis, gelombang tersebut cukup kuat untuk menghancurkan semua bukti keberadaan kapal atau pesawat terbang.

Apalagi Segitiga Bermuda terletak di area Samudra Atlantik, di mana badai dari berbagai arah dapat bertemu, membuat gelombang besar lebih mungkin terjadi.

Sejalan dengan itu, dilansir National Ocean Service, beberapa penjelasan terkait misteri tersebut lebih didasarkan pada sains.

 Ini termasuk gas samudera, yakni gas metana yang meletus dari sedimen laut, dan gangguan pada garis aliran geomagnetik.

Selain itu, pertimbangan lingkungan dapat menjelaskan banyak hal terkait penyebab penghilangan kapal dan pesawat di Segitiga Bermuda.

Sebagian besar badai dan angin topan tropis Atlantik melewati kawasan Segitiga Bermuda, dan pada hari-hari sebelum prakiraan cuaca membaik, badai berbahaya ini bisa “menelan” banyak kapal.

Selain itu, arus teluk juga dapat menyebabkan perubahan cuaca yang cepat, dan terkadang ganas.

Apalagi banyaknya pulau di Laut Karibia yang menciptakan wilayah perairan dangkal yang berbahaya bagi navigasi kapal.

Dan ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa Segitiga Bermuda adalah tempat di mana kompas "magnetik" kadang-kadang mengarah ke arah utara yang "sebenarnya", berlawanan dengan utara "magnetik".

SUMBER: Kompas.com

BACA JUGA BERITA MENARIK TRIBUNGORONTALO.COM di GOOGLE

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved