Kamis, 19 Maret 2026

Berita Viral

Kakek Ngadenin Terpaksa Lewat Saluran Air, Akses Jalan ke Rumah Ditutup Tembok Hotel, Kini Nyerah

Sudah tiga tahun, akses menuju rumah Ngadenin ditutup tembok hotel, mulai dari depan, samping, hingga belakang.

Tayang:
Editor: Aldi Ponge
zoom-inlihat foto Kakek Ngadenin Terpaksa Lewat Saluran Air, Akses Jalan ke Rumah Ditutup Tembok Hotel, Kini Nyerah
KOMPAS.com/FIRDA JANATI
Rumah Ngadenin (63) di Jalan Raya Jatiwaringin, RT 03 RW 04, Kecamatan Pondok Gede, Kota Bekasi, yang akses keluar masuk rumah telah ditutup tembok hotel setinggi 15 meter. Pada Minggu (9/7/2023), 

TRIBUNGORONTALO.COM - Seorang pria lansia terpaksa harus melewati saluran air saat akan masuk rumahnya.

Hal ini sudah dilaluinya selama 3 tahun terakhir setelag akses jalan tertutup tembok hotel

Pria bernama Ngadenin (63) terpaksa harus mengesampingkan risiko terluka melewati saluran air penuh beling dan kawat tajam untuk menunju rumahnya di Jalan Raya Jatiwaringin, RT 003 RW 004, Kecamatan Pondok Gede, Kota Bekasi.

Sudah tiga tahun, akses menuju rumah Ngadenin ditutup tembok hotel, mulai dari depan, samping, hingga belakang.

Tidak ada pilihan lain bagi Ngadenin untuk pulang ke rumah selain melewati selokan selebar dua meter itu. 

"Akses satu-satunya kalau mau masuk ke rumah ini ya lewatnya got," ujar Ngadenin saat ditemui Kompas.com di Pondok Gede, Minggu (9/7/2023).

Ngadenin dan istrinya, Nur (55), akhirnya mengungsi karena sudah tidak kuat lagi tinggal di rumah tersebut.

Sulitnya akses menjadi penyebabnya. Ngadenin dan Nur yang berjualan tongseng tak jauh dari rumah itu merasa lelah jika pulang ke rumah.

"Sudah kelelahan kalau mau pulang. Got ini kalau menurut saya kan rawan, ada paku, dan beling, kawat nonjol begitu," ucap dia.

Pada akhirnya, Ngadenin, Nur dan kelima anaknya tinggal warung yang berlokasi tak jauh dari rumahnya.

"Takut di got ada ular, memang saya belum temui, tapi saya sudah ngeri. Akhirnya saya memutuskan tidur (tinggal) di warung," kata dia.

Namun, karena kondisi warung yang kecil serta kelima anaknya sudah besar, anak-anak Ngadenin memilih menyewa rumah kos.

 Adapun penutupan akses menuju rumah Ngadenin berlangsung selama tiga tahun.

Semula, Ngadenin tinggal tepat di pinggir jalan raya sejak 1999 atau 24 tahun.

Bagian depan rumah dibuat untuk berdagang sate dan tongseng. Sementara itu, rumahnya berada di bagian belakang, menyatu dengan kedainya.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved