Pemilu 2024
Fenomena Sindir Caleg Gorontalo di Sosmed Jelang Pemilu 2024, Akademisi: Mesti Dimaknai Serius
Sindiran ini dikelompokan dalam narasi “Semoga Caleg Dapa Baca” yang berarti “Semoga Dibaca oleh Caleg”.
Penulis: Risman Taharudin | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/372023_SemogaCalegDapaBaca.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Baru-baru ini warganet ramai-ramai sindir bakal calon anggota legislatif (caleg) melalui platform media sosial.
Sindiran ini dikelompokan dalam narasi “Semoga Caleg Dapa Baca” yang berarti “Semoga Dibaca oleh Caleg”.
Seorang akademisi Gorontalo menanggapi fenomena ini. Syam Rizal Abas Alumni Filsafat IAIN Gorontalo itu berpendapat, meski sindiran itu bernada candaan, tetapi mesti dimaknai serius.
Kata Syam Rizal Abas yang juga alumni organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), fenomena tersebut mungkin menyiratkan pesan kepada caleg.
Bisa jadi kata dia, para warganet Gorontalo sedang menguji kemampuan para caleg ini untuk mewujudkan kebutuhan masyarakat.
“Itulah sebabnya, berbagai penggalan opini atau pembicaraan apapun lewat media sosial, mesti dimaknai sebagai suara arus marginal,” kata Syam kepada TribunGorontalo.com, Senin (3/7/2023).
Banyak suara kaum marginal tidak didengar oleh para pejabat ataupun pemerintah. Karena itu, keberadaan media sosial jadi penting.
“Hanya lewat media sosial publik membahasakan perasaan dan pikirannya agar kemudian bisa terdengar,” kata Syam.
Warga Gorontalo melalui media sosial kata Syam, ingin agar para caleg memiliki kepekaan untuk memahami ataupun ikut memikirkan masyarakat.
“Lebih jauh dari itu, fenomena tersebut mungkin sebagai bentuk satire kepada para caleg yang sebentar nanti akan berbondong-bondong datang untuk duduk dan merakyat, serta meminta dukungan agar dipilih pada pemilu mendatang,” katanya.
Sementara di sisi caleg, fenomena tersebut mestinya jadi ajang untuk menangkap kegelisahan rakyat.
Kata Syam, anggota legislatif (aleg) mesti berbenah agar tak justru memanfaatkan suara rakyat untuk sekadar menduduki kursi kekuasaan.
“Kontestasi pemilu mengharuskan caleg menyuguhkan atmosfer persaingan yang lebih sehat dan elegan dengan mengedepankan karakter yang aspiratif, sisi politik yang santun dan bijak, serta memiliki gagasan politik yang terukur, sistematis, dan menunjukkan keberpihakan kepada rakyat,” katanya.
Caleg wajib memaknai arena politik bukan sebagai pertarungan menang dan kalah, namun sebagai sarana pengabdian kepada rakyat.
Lebih jauh dari itu, caleg harus menghadirkan konsep politik dengan definisi yang lebih rendah hati.
"Semoga para caleg akan selalu menaati segala peraturan dan perundangan yang ada, serta apabila terpilih, akan benar-benar amanah terhadap sumpah janji jabatannya," tutup Syam. (*)