Rabu, 4 Maret 2026

Kematian Anggota TNI Makassar Janggal? Disebut Akhiri Hidup tapi Badan Berdarah hingga Penuh Lebam

Kematian Serda MHF (20) di asrama Yon Arhanud 16/Makassar masih menjadi teka-teki dan menyisakan tanda tanya.

Editor: Ananda Putri Octaviani
zoom-inlihat foto Kematian Anggota TNI Makassar Janggal? Disebut Akhiri Hidup tapi Badan Berdarah hingga Penuh Lebam
TribunKaltim.com/Miftah Aulia Anggraini
Jenazah Serda Muhammad Herdi Fitriansyah sudah berada di rumah duka di Jalan Mawar, Desa Perjiwa, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. 

TRIBUNGORONTALO.COM - Kematian Serda MHF (20) di asrama Yon Arhanud 16/Makassar masih menjadi teka-teki dan menyisakan tanda tanya.

Sebagaimana diketahui, Serda MHF ditemukan tewas dalam posisi tergantung, Jumat (14/4/2023).

Namun ada hal yang dinilai janggal dalam kematian Serda MHF itu.

Meski disebut mengakhiri hidup, rupanya ada sejumlah bekas luka di sekujur tubuhnya.

 

 

Baca juga: Prajurit TNI Gugur Ditembak KKB Papua saat Operasi Selamatkan Pilot Susi Air, Jasad Jatuh ke Jurang

Setelah ditemukan, jenazah korban kemudian diterbangkan dari Makassar ke rumah duka di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur pada Sabtu (15/4/2023).

Juru bicara keluarga korban, Muhibin Ali mengatakan, pihak keluarga mengetahui informasi korban meninggal dari Danton Yon Arhanud 16/Makassar yang menghubungi lewat sambungan telepon.

Berdasarkan keterangan dari pihak batalyon, korban sempat melakukan ibadah salat Jumat dan menghilang sekitar pukul 14.00 Wita.

Korban kemudian ditemukan tergantung di sekitar asrama pada pukul 15.00 Wita.

Pihak keluarga tidak 100 persen percaya dengan penjelasan pihak batalyon karena menemukan sejumlah kejanggalan pada jasad korban.

"Setelah dilakukan pembukaan peti, diduga ada bekas lebam atau luka fisik hasil kekerasan," paparnya, Sabtu (15/4/2023).

Baca juga: TNI Bebaskan Pilot Susi Air, Panglima: Tidak Mau Cara Perang

Sebelum korban meninggal, pihak keluarga berulang kali mendapat curhatan dari korban yang sudah tidak ingin melanjutkan dinasnya.

"Mengapa otopsi ulang, karena ada kronologi sebelumnya yang bermuasal dari chat antara almarhum dengan keluarga," jelasnya.

Tekanan yang dirasakan korban sudah sejak lama dan diduga berasal dari senior.

"Menyampaikan kondisi sangat tertekan ada tindkan senioritas. Ada chat almarhum ke keluarga yang menyatakan sangat tertekan secara psikis dan kekerasan fisik," sambungnya.

Sumber: TribunWow.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved