Pemkab Bone Bolango
Banting Stir Jadi Petani Cabai, Para Buruh di Bone Bolango Panen 3 Ton per Tahun
Para buruh atau kuli bangunan di Desa Bulontala Timur, Kecamatan Suwawa Selatan, Bone Bolango ini misalnya. Para buruh ini membentuk kelompok tani.
TRIBUNGORONTALO.COM, Suwawa - Budidaya tanaman cabai rawit rupanya tidak hanya mampu dikembangkan petani profesional saja.
Para buruh atau kuli bangunan di Desa Bulontala Timur, Kecamatan Suwawa Selatan, Bone Bolango ini misalnya. Para buruh ini membentuk kelompok tani.
Yusuf Datau, anggota Balai Penyuluhan Pertanian mengatakan, para buruh ini diberikan pemahaman tentang menanam cabai.
"Kami dari BPP melihat potensi dari lahan-lahan tidur," ucap Yusuf kepada TribunGorontalo.com, Rabu (5/4/2023).
Para buruh ini dikumpulkan oleh BPP di Masjid Alhidayah, lalu terbentuklah kelompok tani.
Awalnya di tahun 2018, belasan warga ini mulai menanam cabai rawit.
Berkat kerja sama dengan pihak pertanian, peternakan dan perikanan, tanaman cabai ini akhirnya mulai membuahkan hasil.
Mereka menerapkan metode mulsa. Sistem ini, kata Yusuf, menggunakan plastik khusus untuk mencegah pertumbuhan gulma serta menjaga kelembaban tanah.
Namun karena perawatan cabai rawit membutuhkan waktu tiga minggu, pihaknya berinisiatif menanam komoditi lain seperti sayuran.
Akhirnya ditanamlah terong, kangkung, dan tomat. Kemudian penanaman labu madu mulai dikembangkan.
"Jadi selama tiga minggu rawat cabai, sudah bisa panen kangkung. Nah itu bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari," jelas Yusuf.
Sementara tomat dan labu madu, kata dia, membutuhkan waktu dua bulan sekali panen.
Menurut Kasim, pembina kelompok tani, tidak mudah menggerakkan warga.
Sedari awal dibentuk, hanya beberapa orang saja yang serius bertani cabai.
Pasalnya, mereka hanya mahir dalam menanam jagung saja. Sehingga mereka menanam cabai dengan metode konservatif.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/542023_Tim-Sekmil-Presiden-RI.jpg)