Rempah Gorontalo
Kisah Ibu Warni Penjual Daun Bawang di Pasar Senin Gorontalo: Makin Semangat saat Ramadhan
Kisah Ibu Warni 'Penjual Daun Bawang' di Pasar Senin, Moodu, Kota Gorontalo sudah selama 12 tahun berjualan. Senin (3/4/2023).
Penulis: Redaksi | Editor: Lodie Tombeg
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/030423-ibu-warni.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Kisah Ibu Warni 'Penjual Daun Bawang' di Pasar Senin, Moodu, Kota Gorontalo sudah selama 12 tahun berjualan. Senin (3/4/2023).
Warni merupakan pedagang daun bawang di pasar-pasar tradisional yang ada di kota Gorontalo.
Rumah Warni berada di Kecamatan Telaga, Kabupaten Gorontalo. Berangkat dari subuh hari hingga siang hari saat pasar tutup.
Walaupun begitu, Warni tetap semangat dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan.
Warni kepada TribunGorontalo.com mengatakan daun bawang ini bukan dari kebun milik dia.
"Ini cuma ada beli dari tukang sayur yang di depan jalan itu," ungkap warni.
Warni pun mengungkapkan bahwa harga yang dia beli dari pedagang lain adalah Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu.
Dengan harga Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu bisa memperoleh omzet kotor sebesar Rp 100 ribu perharinya.
Ibu lima orang anak ini ke pasar tradisional selalu menggunakan bentor.
"Cuma selalu naik bentor saya. Rp 25 ribu biasanya, jadi kalau pulang pergi Rp 50 ribu," ujar Warni.
Selain uang bentor yang dikeluarkan Warni, ternyata ibu ini mempunyai pinjaman di salah satu Bank BUMN.
"Satu bulan sekitar Rp 1.550.000. tapi torang (kami) bukan pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR)," ujar Warni.
Menurut Warni, KUR ini tidak memiliki asuransi yang men-cover dirinya jika terjadi hal buruk yang menimpa dirinya.
Warni juga mengatakan, pinjaman KUR ini adalah pinjaman dengan uang angsuran paling rendah.
"Torang (kami) tidak mengambil pinjaman KUR. Memang uang angsurannya ringan, namun tidak ada asuransi jiwa yang bisa meng-cover diri saya jika sewaktu-waktu terjadi hal buruk," jelas Warni.