Cerita Martinus Towalu Merantau 6 Tahun di Manado, Pulang Gorontalo Jadi Juragan
Selama enam tahun merantau, ia akhirnya memutuskan pulang ke Gorontalo dan berjualan pakaian.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/2332023_Martinus-Towalu_juragan-daster.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Limboto - Martinus Towalu (31), warga Taludaa berbagi cerita tentang pengalamannya menjadi pedagang pakaian.
Martinus awalnya bekerja sebagai karyawan toko di dua perusahaan swasta Kota Manado, Sulawesi Utara (Sulut).
Selama enam tahun merantau, ia akhirnya memutuskan pulang ke Gorontalo dan berjualan pakaian.
Menurutnya, keputusan itu sudah dipikirkan secara matang. Ia ingin berbisnis sendiri tanpa bergantung gaji dari orang lain.
"Empat tahun saya itu kerja di Hypermart. Saya rasa cukup untuk buka usaha sendiri," kata Martinus kepada TribunGorontalo.com, Kamis (23/3/2023).
Ia mulai merintis usaha dagang pakaian sejak tahun 2018. Sebab, ia jenuh dan ingin mengubah hidupnya.
Kala itu, Martinus mengakui hanya memiliki modal Rp 3 juta. Dari modal tersebut ia membeli beberapa pakaian.
Belum setahun berdagang, ia diterpa cobaan badai Covid-19. Namun, pria kelahiran 1991 ini tidak menyerah.
Ia mencari pekerjaan sampingan seperti mengemudi becak motor (bentor) dan bekerja di tempat orang lain guna mempertahankan usahanya.
Walaupun pandemi mereda, rupanya Martinus sempat merasakan sangat minim pendapatan di tahun 2022.
"Tahun kemarin itu memang sepi pembeli. Pedagang rata-rata gelisah," ucap Martinus.
Ia mengungkapkan beberapa pedagang terpaksa gulung tikar.
Pendapatan Martinus meningkat saat Ramadhan tiba. Bahkan ia meraih keuntungan belasan juta di malam takbiran.
Ramadhan tahun ini, Martinus memberanikan diri menyiapkan stok pakaian senilai Rp 10 juta.
Pada tahun-tahun sebelumnya, ia hanya mengalokasikan modal sebesar Rp 3-5 juta
"Torang sesuai permintaan yang ada itu torang belanja," jelasnya.
Semua dagangannya itu dijual di Pasar Limboto Kabupaten Gorontalo.
Martinus menyewa tempat dagangan per hari ke petugas pasar.
Ia menjual celana pendek seharga Rp 15-35 ribu. Adapun satu set kain sprei Rp 100 ribu. Sementara daster dijual Rp 100 ribu per 3 pasang.
Kini Martinus telah menikah dengan wanita asal Pentadio dan memiliki dua orang anak.
Lima tahun berdagang, Martinus sudah merasakan perbedaan signifikan antara berdagang sendiri dan menjadi karyawan.
Baginya memiliki usaha sendiri lebih baik. Karena selain menjadi bos sendiri, pendapatan didapatkan lebih banyak.
Ia juga tak lupa berbagi tips cara ingin menjadi pengusaha, antara lain kurangi pengeluaran, belanja sesuai kebutuhan, pandai mengelola keuangan dan kurangi kebiasaan cicilan atau berhutang. (*)