Rabu, 11 Maret 2026

Pemilu

368 Menuju Pemilu - Pilpres 2024: Rincian 30 Kursi DPRD di 4 Dapil Kota Gorontalo

Pemilu - Pilpres 2024 tinggal 368 hari lagi. Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah mengumumkan pembagian daerah pemilihan dan jumlah kursi legislatif.

Tayang:
Editor: Lodie Tombeg
zoom-inlihat foto 368 Menuju Pemilu - Pilpres 2024: Rincian 30 Kursi DPRD di 4 Dapil Kota Gorontalo
TribunGorontalo.com
Bawaslu Kecamatan Kota Tengah, Kota Gorontalo. Pemilu - Pilpres 2024 tinggal 368 hari lagi. Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah mengumumkan pembagian daerah pemilihan dan jumlah kursi legislatif. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Pemilu - Pilpres 2024 tinggal 368 hari lagi. Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah mengumumkan pembagian daerah pemilihan dan jumlah kursi legislatif.

Kota Gorontalo memenuhi syarat 30 kursi legislatif yang tersebar di 4 dapil. Berikut rincian 30 kursi di 4 Dapil Kota Gorontalo:

Kota Gorontalo 1
(8 kursi)

Kota Selatan

Dumbo Raya

Hulonthalangi

Kota Gorontalo 2
(8 kursi)

Kota Barat

Dungingi

Kota Gorontalo 3
(7 kursi)

Kota Tengah

Sipatana

Kota Gorontalo 4
(7 kursi)

Kota Utara

Kota Timur

Profil singkat Kota Gorontalo dikutip dari wikipedia.org. Kota Gorontalo merupakan Ibu Kota Provinsi Gorontalo, sekaligus menjadi ibu kota Kawasan Teluk Tomini di Semenanjung Utara Pulau Sulawesi.

Kota Gorontalo merupakan kota terbesar dan terpadat penduduknya di wilayah Teluk Tomini (Teluk Gorontalo), sehingga menjadikan Kota Gorontalo sebagai pusat ekonomi, jasa dan perdagangan, pendidikan, hingga pusat penyebaran agama Islam di Kawasan Indonesia Timur.

Dalam catatan manuskrip sejarah Kesultanan Gorontalo, Kota Gorontalo yang lebih tertata dan memadai terbentuk secara resmi pada hari Kamis, 18 Maret 1728 (06 Syakban 1140 Hijriah).

Kota ini memiliki luas wilayah 79,03 km⊃2; (0,65 persen dari luas Provinsi Gorontalo) dan pada tahun 2019, Kota Gorontalo memiliki penduduk sebanyak 219,399,00 jiwa.

Perkembangan Kota dan Julukannya

Kota Gorontalo merupakan salah satu kota tua di Sulawesi selain Kota Makassar dan Manado, serta merupakan kota terbesar di kawasan Teluk Tomini.

Dalam catatan sejarah, Semenanjung Gorontalo secara umum dan Kota Gorontalo secara khusus merupakan salah satu pusat penyebaran agama Islam di Kawasan Indonesia Timur yaitu selain Ternate dan Bone.

Pada perkembangannya, pengaruh besar Kota Gorontalo sebagai pusat pendidikan, jasa dan perdagangan pun dirasakan masyarakat luas mulai dari wilayah Bolaang Mongondow, Buol, Toli-Toli, Luwuk Banggai, Donggala, Palu bahkan sampai ke Sulawesi Tenggara dan Timur Indonesia (Ambon, Maluku).

Julukan Serambi Madinah

Jika Aceh terkenal dengan julukan "Serambi Mekah", maka Gorontalo terkenal dengan julukan "Serambi Madinah". Asal muasal mengenai julukan ini memiliki banyak versi, diantaranya adalah versi Buya Hamka yaitu:

Gorontalo layaknya "Serambi Madinah" yang hiruk pikuk masyarakatnya ramai beribadah, memenuhi masjid-masjid, dan juga lantunan ayat suci terdengar menggema di setiap pelosok masjid.

Orang Gorontalo layaknya kaum Anshar (penduduk asli Madinah) yang begitu terbuka menerima Islam sebagai agama kerajaan-kerajaan di Gorontalo, serta begitu ramah menyambut para pendatang yang merantau atau hijrah ke Gorontalo. Para pendatang ini diantaranya berasal dari tanah Arab (Hadramaut), Melayu (Sumatera), Tiongkok (Cina), Minahasa (Sulawesi Utara), dan Bugis (Sulawesi Selatan).

Selain itu, Gorontalo memiliki falsafah "Adati hula-hula'a to Sara'a, Sara'a hula-hula'a to Kuru'ani" yang dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan menjadi "Adat Bersendikan Syara', dan Syara' Bersendikan Kitabullah". Falsafah ini menjadi pandangan hidup masyarakat Gorontalo yang memadukan antara agama, adat istiadat dan alam sekitarnya.

Asal Usul Nama Gorontalo

Menurut catatan "Hikayat Gorontalo", daerah yang selama ini kita kenal dengan istilah "Semenanjung Gorontalo" yang ada sekarang ini berasal dari sebuah pulau.

Lama-kelamaan, air laut di sekitar pulau itu pun surut dan pada akhirnya muncul tiga gunung, yang salah satunya adalah gunung Tilongkabila. Adapun sebuah lembah di sebelah selatan Gunung Tilongkabila tersebut dicatat dalam sejarah sebagai wilayah yang bernama Hulontalangi, sebuah lembah yang kemudian hari dikenal sebagai daerah Hulontalo atau Gorontalo, yang juga merupakan cikal bakal wilayah Kota Gorontalo.

Kata Gorontalo pada dasarnya berasal dari kata Hulontalo dalam bahasa Gorontalo. Hulontalo itu sendiri berasal dari kata dasar Hulontalangi, sebuah nama salah satu Kerajaan di Gorontalo. Selain itu, terdapat beberapa catatan sejarah mengenai asal muasal dari nama Gorontalo, diantaranya:

a. Gorontalo berasal dari kata "Hulontalangi", yang bermakna "Lembah Mulia".

Hulontalangi berasal dari dua suku kata, yaitu "Huluntu" yang berarti "Lembah" dan "Langi" yang berarti "Mulia".

b. Gorontalo berasal dari kata "Hulontalangi", yang bermakna "Daratan yang Tergenang".

Kata "Hulontalangi" dalam penerjemahan lain berasal dari dua suku kata, yaitu "Huntu" yang berarti "Onggokan Tanah" atau "Daratan", dan "Langi-Langi" yang berarti "Tergenang". Maka kata "Hulontalangi" dapat pula diartikan sebagai "Daratan yang Tergenang Air" sesuai dengan cerita turun temurun masyarakat Gorontalo.

c. Gorontalo berasal dari kata "Huidu Totolu", yang bermakna "Tiga Gunung".

Jika ditelusuri sejarahnya, terdapat tiga gunung purba di semenanjung Gorontalo yaitu Gunung Malenggalila, Gunung Tilonggabila (berubah menjadi Tilongkabila) dan satu Gunung lagi yang tidak bernama.

d. Gorontalo berasal dari kata "Pogulatalo", yang bermakna "Tempat Menunggu".

Kata "Pogulatalo" lambat laun berubah dalam ucapan masyarakat menjadi "Hulatalo"

e. Gorontalo berasal dari kata "Hulontalo".

Namun, karena kesulitan dalam pengucapannya maka para penjajah Belanda menyebut "Hulontalo" menjadi "Gorontalo".

Sejarah Kerajaan Hulontalo

Wilayah Kota Gorontalo sekarang merupakan perubahan dari wilayah Pohala'a Kerajaan Gorontalo.

Kerajaan Gorontalo merupakan persekutuan dari 17 Linula (Kelompok Kerajaan kecil yang berorientasi pada ikatan genealogis (kekeluargaan/ikatan darah) serta ikatan teritoris di wilayah Hulontalo (Gorontalo).

Kedudukan Kerajaan Gorontalo mulanya berada di Kelurahan Hulawa, Kecamatan Telaga sekarang, tepatnya di pinggiran sungai Bolango.

Menurut Penelitian, pada tahun 1024 H, kota Kerajaan ini kemudian dipindahkan ke Kelurahan Tuladenggi Kecamatan Dungingi.

Kemudian dimasa Pemerintahan Sultan Botutihe kota Kerajaan ini dipindahkan lagi ke satu lokasi yang terletak antara dua kelurahan yaitu Kelurahan Biawao dan Kelurahan Limba B. Kerajaan Gorontalo merupakan salah satu dari lima daerah yang membentuk ikatan kekeluargaan yang disebut U Duluwo Limo Lo Pohala'a.

Pada tahun 1824 seluruh daerah U Duluwo Limo Lo Pohala'a berada di bawah kekusaan seorang asisten Residen. Kemudian tahun 1889 sistem pemerintahan kerajaan dialihkan ke pemerintahan langsung yang dikenal dengan istilah "Rechtatreeks Bestur".

Pada tahun 1911 terjadi lagi perubahan dalam struktur pemerintahan dan daerah Kota Gorontalo berada di daerah Onder Afdeling Gorontalo.

Selanjutnya pada tahun 1920 berubah lagi menjadi Distrik Gorontalo. Dan pada tahun 1922 Wilayah Kota Gorontalo ditetapkan menjadi daerah Afdeling Gorontalo.

(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved