Korban Jiwa Gempa Turki dan Suriah Capai 20 Ribu Jiwa, WHO Beri Peringatan Bencana Kemanusiaan Kedua
Hingga kini tercatat sudah lebih dari 20 ribu jiwa yang meninggal akibat gempa di Turki dan Suriah pada Senin (6/2/2023).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Penyelamatan-korban-Gempa-Turki-dan-Suriah.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM - Korban jiwa akibat gempa bumi di Turki dan Suriah pada Senin (6/2/2023) jumlahnya terus meningkat.
Bahkan hingga kini tercatat sudah lebih dari 20 ribu jiwa yang meninggal akibat gempa di Turki dan Suriah tersebut.
Dilansir TribunWow.com, hingga saat ini tim penyelamat masih berusaha mengevakuasi korban dari puing-puing bangunan.
Di sisi lain, kondisi beku mengancam nyawa ribuan orang yang selamat yang kini harus bertahan tanpa tempat berlindung, air dan makanan.
Baca juga: Penyintas Gempa Turki dan Suriah Berusaha Tetap Makan dan Hangat di Tengah Cuaca Beku
Menurut data terbaru pada Kamis (9/2/2023) yang dikutip dari BBC, tercatat 17.600 orang tewas di Turki dan jumlah korban tewas sedikitnya 3.377 di Suriah.
Diketahui, korban tewas melampaui lebih dari 17 ribu orang ketika gempa serupa melanda Turki barat laut pada tahun 1999.
Presiden Turki Recep Tayyib Erdogan menyebut gempa itu sebagai 'bencana abad ini'.
Baca juga: Bak Keajaiban, Bayi Tertimbun Reruntuhan saat Gempa Turki Selamat, Terjebak Selama 68 Jam
Pada hari Kamis, Bank Dunia menjanjikan 1,78 miliar USD bantuan ke Turki termasuk pembiayaan segera untuk membangun kembali infrastruktur dasar dan untuk mendukung mereka yang terkena dampak gempa bumi.
Namun upaya 100 ribu atau lebih personel penyelamat di lapangan terhambat oleh sejumlah rintangan logistik termasuk kekurangan kendaraan dan jalan yang rusak.
Sekjen PBB Antonio Guterres memperingatkan seluruh bencana itu masih terbentang di depan mata.
Terutama di Suriah, di mana perang saudara yang berkepanjangan telah menghancurkan negara itu.
Puluhan ribu orang di seluruh Turki dan Suriah terpaksa menghabiskan malam keempat berlindung dari suhu dingin di tempat penampungan darurat.
Resat Gozlu, seorang penyintas di tenggara Turki yang sekarang tinggal di lantai kompleks olahraga bersama keluarganya, mengatakan petugas penyelamat baru datang tiga hari setelah gempa.