Kamis, 23 April 2026

Perang Rusia Ukraina

Beri Pidato 'Suram', Sekjen PBB Peringatkan Dunia soal Meluasnya Perang Rusia-Ukraina

Sekjen PBB Antonio Guterres memperingatkan bahwa eskalasi konflik Rusia-Ukraina dapat berarti dunia sedang menuju perang yang lebih luas.

Tayang:
Penulis: Nina Yuniar | Editor: Ananda Putri Octaviani
zoom-inlihat foto Beri Pidato 'Suram', Sekjen PBB Peringatkan Dunia soal Meluasnya Perang Rusia-Ukraina
AFP/TANG CHHIN SOTHY
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres khawatir perang Rusia vs Ukraina meluas ke skala dunia. 

TRIBUNGORONTALO.COM - Perang yang sedang terjadi antara Rusia dengan Ukraina tampaknya tak henti-hentinya memicu kekhawatrian dunia.

Terbaru, kekhawatiran atas perang Rusia vs Ukraina, datang dari Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (Sekjen PBB) Antonio Guterres.

Dilansir TribunGorontalo.com dari The Guardian pada Selasa (7/2/2023), Guterres memperingatkan bahwa eskalasi lebih lanjut dalam konflik Rusia-Ukraina bisa saja berarti pada dunia sedang menuju "perang yang lebih luas".

Hal itu diungkapkan Guterres saat memaparkan prioritasnya untuk tahun ini dalam pidatonya yang suram di hadapan Majelis Umum PBB.

Baca juga: Update Perang Rusia Vs Ukraina Hari Ke-349: Pertempuran Sengit di Kota Bakhmut Masih Berlanjut

Prioritas Guterres berfokus pada invasi Rusia, krisis iklim, dan kemiskinan ekstrem.

“Kita telah memulai tahun 2023 dengan menatap ke bawah ke berbagai tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam hidup kita,” kata Guterres kepada para diplomat di New York, Senin (6/2/2023).

Guterres mencatat bahwa para ilmuwan top dan pakar keamanan telah memindahkan Jam Kiamat menjadi hanya 90 detik hingga tengah malam bulan lalu, yang paling dekat dengan menandakan pemusnahan umat manusia.

Baca juga: Update Perang Rusia Vs Ukraina Hari Ke-348: Israel Sebut Putin Pernah Janji Tak akan Bunuh Zelensky

Guterres mengaku bahwa dia menganggapnya sebagai tanda peringatan.

“Kita harus bangun dan mulai bekerja,” pinta Guterres sembari membacakan daftar masalah mendesak untuk tahun 2023.

Daftar teratas adalah perang Rusia di Ukraina yang mendekati peringatan satu tahunnya sejak dimulai pada 24 Februari 2022 lalu.

Baca juga: Update Perang Rusia Vs Ukraina Hari Ke-346: Zelensky Bersumpah Tak Bakal Menyerah soal Kota Bakhmut

“Prospek perdamaian terus berkurang. Peluang eskalasi lebih lanjut dan pertumpahan darah terus meningkat,” jelas Guterres.

Guterres mengungkapkan kekhawatirannya bahwa perang Rusia vs Ukraina akan meluas.

“Saya khawatir dunia tidak berjalan sambil tidur menuju perang yang lebih luas. Saya khawatir dia melakukannya dengan mata terbuka lebar." sebut Guterres.

Baca juga: Update Perang Rusia Vs Ukraina Hari Ke-345: Janji Menang, Putin Bangkitkan Semangat Perang Dunia II

Guterres juga merujuk ancaman lain terhadap perdamaian, dari konflik Israel-Palestina hingga Afghanistan, Myanmar, Sahel, dan Haiti.

“Jika setiap negara memenuhi kewajibannya berdasarkan piagam (PBB), hak atas perdamaian akan terjamin,” ungkap Guterres.

Guterres menambahkan ini adalah “waktu untuk mengubah pendekatan kita terhadap perdamaian dengan berkomitmen kembali pada piagam, mengutamakan hak asasi manusia dan martabat, dengan pencegahan di hati”.

Baca juga: Update Perang Rusia-Ukraina Hari Ke-344: Inggris Masih Ogah Kirim Jet Tempur ke Kyiv, Ini Alasannya

Secara lebih luas, Guterres mengecam kurangnya “visi strategis” dan “bias” pembuat keputusan politik dan bisnis terhadap jangka pendek.

“Polling berikutnya. Manuver politik taktis berikutnya untuk mempertahankan kekuasaan. Tetapi juga siklus bisnis berikutnya atau bahkan harga saham hari berikutnya." papar Guterres.

“Pemikiran jangka pendek ini tidak hanya sangat tidak bertanggung jawab, tetapi juga tidak bermoral," imbuhnya.

Baca juga: Update Perang Rusia-Ukraina Hari Ke-343: AS Siapkan Paket Bantuan Senilai 2 Miliar Dolar untuk Kyiv

Menekankan perlunya bertindak dengan mempertimbangkan generasi mendatang, Guterres mengulangi seruannya untuk “transformasi radikal” keuangan global.

“Ada yang salah secara fundamental dengan sistem ekonomi dan keuangan kita,” ujar Guterres.

Guterres pun menyalahkannya atas meningkatnya kemiskinan dan kelaparan, meningkatnya kesenjangan antara kaya dan miskin, dan beban utang negara berkembang.

“Tanpa reformasi mendasar, negara dan individu terkaya akan terus menimbun kekayaan, meninggalkan remah-remah bagi masyarakat dan negara-negara belahan dunia selatan,” lanjutnya.

(TribunGorontalo.com/Nina Yuniar)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved