Hari Patriotik Gorontalo
Nani Wartabone Memiliki 9 Anak dan Ratusan Cucu serta Cicit, Berikut Nama-namanya
Nani Wartabone lahir pada 30 April 1907. Ia meninggal di usia 79 tahun atau pada 3 Januari 1986.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/2312023_anak-anak-nani-wartabone_hari-patriotik.jpg)
Tokoh utama dalam pengusiran kolonial di bumi Gorontalo tersebut adalah Nani Wartabone.
Ia bersama Kusno Danupoyo membacakan teks kemerdekaan atau proklamasi di lapangan yang kini bernama Taruna Remaja.
Kemerdekaan Gorontalo ini menarik karena tiga tahun lebih dulu dari kemerdekaan Indonesia pada 1945.
Teks proklamasi dengan lantas dibacakan Nani Wartabone di depan rakyat Gorontalo tepat pukul 10.00 Wita.
Jika dirunut, Hari Patriotik Gorontalo adalah puncak perjuangan masyarakat untuk lepas dari penjajahan Belanda.
Gerakan Nani Wartabone dan sejumlah pejuang lainnya dipantik oleh kemarahan terhadap rencana Belanda. Bangsa yang sudah menjajah Indonesia berpuluh-puluh tahun itu berencana membumihanguskan Gorontalo.
Belanda yang sudah mencium kekalahan berencana menghilangkan aset-aset hasil jajahannya di Gorontalo.
Beruntung, sebelum rencana itu dilancarkan, Saripa Rahman Hala, seorang penyidik di Pemerintahan Belanda membocorkan informasi kepada para pejuang Gorontalo.
Dari Saripa, informasi diketahui Kaharu dan Ahmad Hippy, lalu sampai ke telinga Kusno Danupoyo, hingga akhirnya terdengar juga oleh Nani Wartabone.
Sebagai masyarakat Gorontalo yang sudah lama menyaksikan kekejaman Belanda ini, lantas bergerak untuk berjuang. Ia mengumpulkan rekan-rekannya dan menyusun strategi mengakhiri kekuasaan Belanda di Gorontalo.
Basri Amin dalam tulisannya menyebut, bahwa Nani Wartabone membentuk kumpulan tokoh pejuang bernama “Komite 12”. Pertemuan itu dilakukan di sebuah kediaman Kusno Danupoyo di Ipilo yang posisinya berada persis di depan Gedung Nasional saat ini.
Komite 12 dibentuk sebagai gerakan solid melawan kondisi Gorontalo saat itu.
Baca juga: Hari Patriotik Gorontalo dan Perjuangan Nani Wartabone Mengusir Belanda
“Ketika itu, situasi kota Gorontalo di malam hari mencekam. Karena Pemerintah Hindia Belanda sudah membentuk Vernielings Corps (VC), yaitu bagian kepolisian yang akan membumi hanguskan kota Gorontalo,” tulis Basri Amin dikutip Senin (23/1/2023).
Saat itu menurut Basri, pasukan Belanda panik akan kedatangan Jepang yang sudah menguasai sejumlah titik di Sulawesi.
Saat itu pada Desember 1941, Perang Asia Timur Raya (Daitoa Senso) yang dikobarkan Jepang dengan secara tiba–tiba menyerang Pearl Harbour di Kepulauan Hawai.