Rayakan Hari Ibu, Idah Syahidah Pakai Pakaian Pemberian Alm Ibunda 32 Tahun Lalu
Anggota DPR RI Dapil Gorontalo ini menggunakan pakaian batik pemberian almarhum ibunya 32 tahun lalu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/22122022_idah-syahidah_jilbab.jpg)
TRIBUNGORONTALO. COM, Gorontalo - Idah Syahidah, istri eks dua periode Rusli Habibie ikut merayakan Hari Ibu (mother’s day), Kamis (22/12/2022).
Anggota DPR RI Dapil Gorontalo ini menggunakan pakaian batik pemberian almarhum ibunya 32 tahun lalu.
Pakaian itu bercorak batik tulis berwarna keemasan dengan motif parang. Pakaian itu spesial, karena diberi alm ibunya.
Uniknya, karena kini Idah lama di Gorontalo, sehingga pakaian asal Solo, Jawa Tengah itu dipadukan dengan jilbab karawo.
"Karena saya lama tinggal di Gorontalo sehingga pakaian dari Ibunda tercinta ini saya padukan dengan pakaian khas Gorontalo Karawo." tuturnya.
Kata Idah, kain Khas Gorontalo Karawo jika dipadukan dengan kain Khas Solo sangat indah.
Diketahui, pakaian itu dikenakan Idah Syahidah saat merayakan 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (HAKTP) yang dirangkaian dengan Hari Ibu, Kamis (22/12/2022) di Hotel Damhil, Kota Gorontalo.
Apa itu batik motif Parang?
Batik Parang merupakan motif batik yang paling tua di Indonesia. Parang berasal dari kata Pereng yang berarti lereng. Perengan menggambarkan sebuah garis menurun dari tinggi ke rendah secara diagonal.
Susunan motif S jalin-menjalin tidak terputus melambangkan kesinambungan. Bentuk dasar huruf S diambil dari ombak samudra yang menggambarkan semangat yang tidak pernah padam.
Batik ini merupakan batik asli Indonesia yang sudah ada sejak zaman keraton Mataram Kartasura (Solo).
Batik parang memiliki makna yang tinggi dan mempunyai nilai yang besar dalam filosofinya. Batik motif dari Jawa ini adalah batik motif dasar yang paling tua.
Batik parang ini memiliki makna petuah untuk tidak pernah menyerah, ibarat ombak laut yang tak pernah berhenti bergerak.
Batik parang juga menggambarkan jalinan yang tidak pernah putus, baik dalam arti upaya untuk memperbaiki diri, upaya memperjuangkan kesejahteraan, maupun bentuk pertalian keluarga.
Batik parang bahkan menggambarkan kain yang belum rusak, baik dalam arti memperbaiki diri, kesejahteraan upaya mereka, serta bentuk hubungan di mana batik parang pada masa lalu adalah hadiah yang mulia untuk anak-anaknya.