Pilpres 2024
Survei Pilpres 2024: Elektabilitas Ganjar - Prabowo Turun, Anies Naik 1,6 Persen
Indonesia butuh capres alternatif? Jajak pendapat atau survei dua bulan terakhir, elektabilitas tiga figur capres menurun.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/202122-anies-prabowo-ganjar.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Indonesia butuh capres alternatif? Jajak pendapat atau survei dua bulan terakhir, elektabilitas tiga figur capres menurun.
Ganjar Pranowo masih di urutan pertama. Saat survei November 2022 elektabilitas Ganjar 26,7 persen, pada jajak pendapat Desember 2022, Gubernur Jawa Tengah itu masih unggul 26,5 persen.
Elektabilitas Prabowo Subianto turun paling dalam. Pada November 18,8 persen menjadi 16,8 persen atau turun 2 persen.
Selanjutnya Anies Baswedan dengan elektabilitas 18,6 persen dari sebelumnya 17,0 persen atau 1,6 persen.
Demikian hasil temuan lembaga Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC).
Survei 3 - 11 Desember 2022:
Ganjar Pranowo 26,5 persen
Anies Baswedan 18,6 persen
Prabowo Subianto 16,8 persen
November 2022
Ganjar Pranowo 26,7 persen
Prabowo Subianto 18,8 persen
Anies Baswedan 17,0 persen
Ganjar teratas sementara Anies kedua menggeser Prabowo di survei sebelumnya.
Jajak pendapat SMRC pada periode 3-11 Desember 2022. Total sampel 1.029 responden. Margin of error +-3,1 persen, tingkat kepercayaan 95 persen.
Anies - AHY Berpotensi
Direktur Lembaga Kajian Politik Nusakom Pratama Ari Junaedi menilai, Anies Baswedan berpeluang memenangi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 jika berpasangan dengan Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
Menurut dia, peluang itu cukup besar jika dua figur calon presiden (capres) pesaing Anies, yakni Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto mendapatkan ganjalan.
“Potensi kemenangan itu akan semakin besar jika Ganjar masih menjomlo, alias belum dapat dukungan,” ujar Ari pada Kompas.com, Senin (19/12/2022).
“Atau koalisi Gerindra masih mengandalkan pasangan Prabowo-Muhaimin,” ujar dia.
Menurut dia, jika Anies dan AHY jadi berpasangan, keduanya bakal kian memperkuat representasi calon pemimpin dari kelompok oposisi.
Sebab, saat ini masyarakat yang tak puas dengan kinerja pemerintah hanya berharap pada dua sosok tersebut.
Apalagi, Anies dan AHY sama-sama masif melakukan safari politik untuk menyapa masyarakat.
“Jika Anies sudah intensif melakukan kampanye di berbagai daerah, kemudian ditopang oleh kuatnya elektoral cawapres, maka tentu saja bisa membuka peluang munculnya poros Anies-AHY yang berpotensi menang di Pilpres 2024,” papar dia.
Ari menyampaikan, tak bisa dimungkiri bahwa AHY punya tingkat elektoral lebih tinggi ketimbang mantan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan yang diusulkan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebagai pendamping Anies.
Kelebihan anak sulung Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu terletak pada jabatannya sebagai Ketua Umum Partai Demokrat.
“Membuat (AHY) kerap menyapa calon pemilih karena kunjungannya yang intens ke daerah-daerah,” kata dia.
Belum lagi, kata Ari, publik melihat bahwa Demokrat, SBY, dan AHY merupakan pihak yang menjadi musuh partai politik (parpol) koalisi pemerintah.
“(Publik) menganggap Demokrat hanyalah korban politik. Publik masih larut dengan mellow politics, yakni jatuh kasihan terhadap victim atau korban,” kata Ari.
Adapun survei Poltracking Indonesia pada Desember 2022 memperlihatkan bahwa elektabilitas AHY sebagai cawapres cukup dominan di Pulau Jawa.
Tingkat elektoralnya unggul di dua dari lima provinsi di Jawa, yakni DKI Jakarta dan Banten.
Elektabilitas AHY bersaing ketat dengan dua figur cawapres lain, yakni Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir.
Namun, hingga kini Koalisi Perubahan yang tengah dijajaki Nasdem, Demokrat, dan PKS tak kunjung dideklarasikan.
Salah satu hambatannya, ketiga parpol belum sepakat soal cawapres yang bakal dipasangkan dengan Anies Baswedan.
(*)