Kamis, 12 Maret 2026

Pilpres 2024

Anies Baswedan Belum Punya Tiket Maju Pilpres 2024: Begini Penjelasan Partai Demokrat

Jajak pendapat Poltracking Indonesia menunjukkan elektabilitas capres di Jakarta dan Banten dikuasai Anies Baswedan.

Tayang:
Editor: Lodie Tombeg
zoom-inlihat foto Anies Baswedan Belum Punya Tiket Maju Pilpres 2024: Begini Penjelasan Partai Demokrat
TribunGorontalo.com/@aniesbaswedan
Anies Baswedan (kiri) saat mengikuti acara talk show belum lama ini. Jajak pendapat Poltracking Indonesia menunjukkan elektabilitas capres di Jakarta dan Banten dikuasai Anies Baswedan. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Jajak pendapat Poltracking Indonesia menunjukkan elektabilitas capres di Jakarta dan Banten dikuasai Anies Baswedan.

Kemudian di Jawa Barat, Anies relatif kompetitif, hanya terpaut 6 persen dengan Prabowo Subianto.

Di Jawa Timur Ganjar Pranowo terpaut 11 persen dengan Prabowo Subianto.

Sementara di Jawa Tengah, Ganjar Pranowo sangat signifikan perolehan elektbilitasnya, terpaut 60 persen dibandingkan kandidat lainnya.

Hasil survei elektabilitas 3 capres terkuat.

DKI Jakarta:

Anies Baswedan 49,6 persen

Ganjar Pranowo 27,5 persen

Prabowo Subianto 15,7 persen

Banten:

Anies Baswedan 47,6 persen

Prabowo Subianto 28,5 persen

Ganjar Pranowo 16,1 persen

Jawa Barat

Anies Baswedan 36,3 persen

Prabowo Subianto 30,8 persen

Ganjar Pranowo 18,7 persen

Jawa Tengah

Ganjar Pranowo 71,4 persen

Prabowo Subianto 10,8 persen

Anies Baswedan 9,0 persen

Jawa Timur

Ganjar Pranowo 36,1 persen

Prabowo Subianto 25,5 persen

Anies Baswedan 19,6 persen

Isu pencapresan Anies pun diwarnai dengan analisis, publik butuh kepastikan dengan figur capres dari Partai Nasdem ini.

Partai Demokrat cukup memahami bila publik merasa bosan dengan narasi perubahan. Termasuk, bila ada pandangan yang menyebut kenaikan elektabilitas Anes Baswedan sebagai capres terjadi sesaat sebagai efek euforia pencalonan oleh Nasdem beberapa waktu lalu.

Menurut Deputi Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Partai Demokrat Kamhar Lakumani, kedua hal itu mahfum terjadi lantaran narasi yang saat ini disampaikan Anies masih terbatas.

"Yang utama adalah karena tiket yang belum utuh dan belum deklarasinya Partai Demokrat dan PKS," ucap Kamhar kepada Kompas.com, Minggu (18/12/2022).

Diketahui, sejauh ini baru Nasdem yang sudah secara resmi mengusung mantan Gubernur DKI Jakarta itu sebagai capres.

Sementara itu, rencana pembentukan koalisi perubahan oleh Demokrat, Nasdem dan PKS, tak kunjung terealisasi.
Kamhar meyakini bahwa narasi yang disampaikan Anies akan semakin berkembang bila koalisi tersebut resmi terbentuk.

"Termasuk untuk menegaskan sebagai antitesis pemerintahan Jokowi," jelasnya.

Meski begitu, Kamhar menyatakan, Demokrat hingga kini masih terus mendorong Ketua Umumnya, Agus Harimurti Yudhoyono untuk mendampingi Anies sebagai calon wakil presiden (cawapres).

Menurut dia, bila keduanya dideklarasikan sebagai pasangan calon, akan semakin menambah penegasan antitesis pemerintahan Jokowi.

"Karenanya deklarasi Koalisi Perubahan dan berpasangannya Mas Anies dan Mas Ketum AHY pada saatnya nanti, akan menjadi game changer. Semakin cepat, semakin baik," ujar Kamhar.

Sebelumnya diberitakan, pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Adi Prayitno menilai, naiknya elektabilitas Anies Baswedan menurut survei berbagai lembaga merupakan imbas deklarasi pencalonan presiden yang diumumkan Nasdem pada awal Oktober lalu.

Momentum deklarasi pencapresan Anies dinilai tepat karena berdekatan dengan lengsernya dia dari kursi Gubernur DKI Jakarta.

"Memang elektabilitas Anies naik. Itu kan efek deklarasi. Momentum Anies ini kan desainnya luar biasa, sebulan sebelum lengser kan momentumnya mengarah ke Anies," kata Adi kepada Kompas.com, Jumat (16/12/2022).

Namun demikian, Adi menduga, naiknya elektabilitas Anies merupakan euforia sesaat.

Kini, publik mulai bosan dengan sosok mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) itu.

Sebabnya, narasi yang disampaikan Anies dalam setiap safari politiknya itu-itu saja. Anies juga tak melakukan manuver politik apa pun.

Sebagai figur yang lekat dengan citra oposisi, Anies hampir tidak pernah menentang atau mengkritisi kebijakan Presiden Joko Widodo secara terbuka.

Padahal, basis massa Anies datang dari kalangan yang kontra terhadap Jokowi.

(*)

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved