Nasib Suwarno Pedagang Nasi Campur yang Hampir Gulung Tikar Selama Renovasi Pasar Sentral Gorontalo
Walau terhalang pagar seng, dirinya terus menatap anak tangga pasar sentral, yang diketahui sebagai akses menuju lantai dua bangunan putih tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/16122022_pasar-sentral-kota-gorontalo.jpg)
Ia mendapat kabar, saat pasar kembali beroperasi, dirinya hanya mendapat satu petak lapak, sementara di lantai dua petak petak yang dimilikinya itu tiga petak.
“Saya mendapat kabar, setiap orang yang memiliki tiga lapak itu nantinya tinggal mendapat satu, isu itu hadir karena saya menunggak pembayaran, saya akui saya nunggak, tapi baru kali ini, namun apalah daya hanya perihal tunggakan setahun, dua lapak saya harus hilang,” tuturnya dengan penuh kesedihan.
Setiap tahunnya, ia mengaku sering membayar pajak lapak itu dengan jumlah Rp 3 juta untuk tiga lapaknya.
Suwarno pedagang pasar sentral sedari tahun 1970 itu mengungkapkan petak jualan yang dimilikinya itu dibeli dari pemilik petak sebelumnya.
Petak pertama dibeli sejak tahun 2002, petak kedua dibeli tahun 2004 dan petak ketiga pada tahun 2007.
“Satu petak itu saya beli dari pemilik sebelumnya itu dengan jumlah Rp 10 juta per petaknya, mereka menjual itu ke saya karena bagi mereka pendapatan sehari-hari sudah tidak sebaik dulu, sehingga dijual petak ini ke saya, kurang lebih ada 30 juta,” ungkap dia.
Kata dia, jika memang benar adanya tiga petak yang dimilikinya itu harus tak kunjung didapatkan, dirinya akan terus berupaya, walau harus membayar lebih. (*)