Sabtu, 21 Maret 2026

Nasib Suwarno Pedagang Nasi Campur yang Hampir Gulung Tikar Selama Renovasi Pasar Sentral Gorontalo

Walau terhalang pagar seng, dirinya terus menatap anak tangga pasar sentral, yang diketahui sebagai akses menuju lantai dua bangunan putih tersebut.

Tayang:
zoom-inlihat foto Nasib Suwarno Pedagang Nasi Campur yang Hampir Gulung Tikar Selama Renovasi Pasar Sentral Gorontalo
TribunGorontalo.com/RismanTaharuddin
Suasana sore di kawasan Pasar Sentral Kota Gorontalo. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Duduk berpangku tangan di atas beton yang terletak di bahu jalan, pria bercelana pendek berkulit sawo matang itu nampak sangat serius menatap bangunan Pasar Sentral Kota Gorontalo yang baru selesai direnovasi.

Walau terhalang pagar seng, dirinya terus menatap anak tangga pasar sentral, yang diketahui sebagai akses menuju lantai dua bangunan putih tersebut.

Suasana sepi di lokasi itu, membuat ia termenung selama 30 menit, sambil menghela nafas panjang. Dari kejauhan 100 meter, kedua bibirnya tampak sedang berkomat kamit. 

Semakin dekat wajah terlihat keriputnya itu seakan memberi isyarat bahwa ia sedang diterpa banyak masalah.  

Ia adalah Suwarno Tome (63), bertanya-tanya perihal waktu yang tepat Pasar Sentral Kota Gorontalo bisa beraktivitas kembali. 

Kata Pria berambut putih itu, selama pandemic Covid-19 melanda dunia, terlebih Gorontalo kala itu, membuat dagangan kulinernya sepi pengunjung. 

Belum lagi ditambah dengan relokasi pasar sentral di sepanjang ruas jl Budi Utomo.

“Di lantai dua itu saya punya tiga lapak, namun karena pasar direnovasi maka semua pedagang dipindahkan di luar pasar, kami diberi lapak, namun bantuan penambah modal itu tidak ada,” tuturnya.

Bagi Suwarno, rehab pasar sangatlah berdampak bagi perekonomiannya. Terlebih lapak dagangannya jauh dari keramaian pasar. 

“Mau dibilang ada untung juga tidak, tapi mau di apa, kalau tidak jualan terus mau makan apa saya dan keluarga,” tutur Suwarno dengan penuh kesedihan.

Dagangan sepi, bantuan pemerintah pun tak kunjung ia rasakan, mulai dari bantuan langsung tunai dan lainnya. Ibarat kata sudah jatuh tertimpa tangga. 

Sebelum pasar di renovasi, ia kerap mendapatkan keuntungan Rp 1 juta per harinya, namun saat pasar di renovasi, sejuta terasa sulit baginya untuk didapatkan.

Pendapatannya setiap hari semakin menipis, terkadang Rp 200 ribu, kadang pula Rp 300 ribuan pendapatannya per hari

“Nasi bungkus yang biasa saya jual dengan harga Rp 10-15 ribu terkadang ditawar jadi Rp 7 ribu,  ada yang tawar dengan harga begitu, tapi tetap saya kasih, walau tidak ada untung setidaknya terjual daripada basi,” tuturnya kepada Tribungorontalo.com, Kamis (15/12/2022). 

Senja sore itu semakin tenggelam, Suwarno terus bercerita, saat pasar sudah rampung, timbul lagi masalah baru yang membuatnya dilematis.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved