Kisah Yatno Pedagang Pentolan Asal Kendari yang Berjuang Hidup di Gorontalo

Sebelumnya, saat menjadi mahasiswa di jurusan Sains, ia juga menjadi seorang asisten dosen (Asdos), selama itulah dirinya menaruh harapan menjadi seor

Editor: Wawan Akuba
TribunGorontalo.com
Ilustrasi pentolan. 

TRIBUNGORONTALO.COM - Jatuh bangun perjuangan Yatno (38), pria asal kendari yang kini mengadu nasib di tanah Gorontalo.

Sebelumnya, saat menjadi mahasiswa di jurusan Sains, ia juga menjadi seorang asisten dosen (Asdos), selama itulah dirinya menaruh harapan menjadi seorang dosen kelak.

Namun cita-cita yang digantungkannya sejak kuliah itu, berbanding terbalik saat dirinya mempersunting seorang perempuan asal Sidodadi Pulau Jawa.

“Cita-cita saya jadi pengajar itu putus di tengah jalan, sebab tuntutan ekonomi sangatlah luar biasa kala itu,” ungkapnya.

Berbagai pekerjaan digelutinya saat wisuda. Mulai menjadi developer perumahan, hingga menjadi kuli bangunan. 

Meski berkali-kali gagal, Yatno tidak kapok. Di tahun 2014 silam, ia coba memberanikan diri merantau ke Gorontalo, daerah yang dirasa memiliki peluang bisnis.

Bertahan hidup ditanah rantau memantik dirinya menjadi karyawan pentolan milik pengusaha dari tanah Jawa yang kini berhasil di Gorontalo.

Dua tahun silam ia menjajakan pentolan dari kampus ke kampus. Jika jualan laris ia segera cepat pulang dan berdiskusi dengan bosnya.

“Selama dua tahun itu saya memberikan penjualan yang terbaik dari karyawan lainnya, selepas bekerja, saya pun belajar pengolahan pentol tersebut,” tuturnya.

Merasa sudah cukup modal, hingga mental yang setiap hari dilatihnya, memantik dirinya berhenti menjadi karyawan (resign).

Pada tahun 2016, Yatno memulai usaha pentolan dari kontrakan yang ia tumpangi. Belajar mengolah pentolan, hingga menjajakannya.

Pria Asal Kendari itu menuturkan, sedari terbit fajar, ia mulia mengolah proses pembuatan pentolan. Hingga tepat di pukul 14.00 Wita siap dijual.

“Sebenarnya jualan pagi bagus, namun saya memilih jualan di siang hari karena melihat waktu yang tepat, di siang pasti banyak anak kampus yang lapar, itulah yang menjadi waktu yang pas menurut saya.” tuturnya.

Sembari menyeruput segelas kopi, kepada Tribungorontalo.com, ia bahkan mengungkapkan perjalanan hidupnya.

Halaman
12
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved