Senang Tiada Tara, Lansia di Kelurahan Tenda-Gorontalo Ini Senang Diberi Bantuan Jamban
Sari yang bermukim di wilayah itu sejak 1975 sudah kerap dihantui pelbagai bencana. Longsor misalnya. Belum lagi air limpahan dari gunung.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/07122022_Sari-Moonti.jpg)
TRIBUNGORINTALO.COM - Kesialan kerap menimpa Sari Moonti, wanita usia lanjut (lansia) yang tinggal di lereng gunung Kelurahan Tenda, Kecamatan Hulonthalangi, Kota Gorontalo sejak tahun 1975.
Sari yang bermukim di wilayah itu sejak 1975 sudah kerap dihantui pelbagai bencana. Longsor misalnya. Belum lagi air limpahan dari gunung.
Sari tinggal bersama lima anggota keluarga di bangunan berukuran 12 meter persegi tersebut.
Sari mengaku setiap kali musim hujan, ia bersama anak-anaknya harus siaga menghadapi limpahan air dari gunung. Belum lagi batu dan material longsor yang dibawa air.
Kadang, semua perkakas rumahnya roboh, hingga rumah dipenuhi lumpur.
Seperti halnya kata dia, saat longsor terjadi pada tahun 2016 silam, segala perabot rumahnya harus hancur berantakan akibat banyaknya lumpur hingga batu yang masuk ke dalam rumah .
Setiap kali terjadi bencana longsor, banyak aparat pemerintah datang mengunjungi rumahnya untuk mengambil dokumentasi. Hanya saja tidak ada sama sekali bantuan yang datang.
"Mau diapa setiap tahun kami tak menerima dan merasakan bantuan," tuturnya.
Selain kerap ditimpa musibah bencana, ia juga mengeluhkan tidak memiliki jamban. Bahkan, akses air bersih ia kesulitan.
Dirinya mengaku sejak 45 tahun silam tinggal di Kelurahan Tenda, nanti di tahun 2011 mendapat bantuan mahyani dari Wali Kota Marten Taha, dan di tahun 2022 baru mendapat bantuan Jamban dari Pokmas Kelurahan Tenda, Kota Gorontalo.
Wajah berseri-seri, dirinya mengungkapkan, tidak ada lagi lahan untuk pembangunan misal jamban, sebab rumah ini dikelilingi kuburan, dibelakang juga kaki gunung, di depan sudah bangunan dapur warga lainnya.
"Sejauh ini jika mau BAB, kami harus meminjam jamban tetangga, " ungkap dia.
Karena tidak mau selamanya meminjam, ia mengaku, “tidak apa jamban itu harus dibangun di belakang rumah, memang berbahaya jika adanya longsor lagi. Tapi mau di bangun di mana lagi sebab sudah tidak ada lahan.” katanya.
Sambil meneteskan air mata, ia mengaku dari sekian masyarakat yang bermukim di Kelurahan Tenda, harusnya ia menjadi sasaran untuk dibantu pemerintah, sebab dengan kondisi lanjut usia, dirinya harus menanggung tiga anak dan sepuluh orang cucu.
"Saya itu harap sekali dibantu pemerintah, apalagi hidup di bawah kaki gunung yang mudah longsor," tuturnya sembari meneteskan air mata.(*)