Minggu, 8 Maret 2026

Bone Bolango

Kisah Pilu Penyintas Aids Gorontalo, Pernah Dijauhi Keluarga Hingga Jadi Mitra LSM

Kurniawan mengaku diidentifikasi HIV di Rumah Sakit Umum Bekasi, Jawa Barat. Saat pertama kali diperiksa, Kurniawan dinyatakan telah stadium Aids.

Tayang:
Editor: Dinie S Awwali
zoom-inlihat foto Kisah Pilu Penyintas Aids Gorontalo, Pernah Dijauhi Keluarga Hingga Jadi Mitra LSM
TribunGorontalo.com/Fajri Kidjab
Kurniawan, Penyintas Aids berbagi testimoni dalam Peringatan Hari Aids Sedunia dan HUT Dharmawanita di Kantor Bupati Bone Bolango, Jumat (2/11/2022). 

TRIBUNGORONTALO.COM, Bone Bolango - Penyintas Aids, Kurniawan mengisahkan bagaimana dirinya berjuang melawan penyakit dideritanya.

Kurniawan mengaku diidentifikasi HIV di Rumah Sakit Umum Bekasi, Jawa Barat. Saat pertama kali diperiksa, Kurniawan dinyatakan telah stadium Aids.

"Pada waktu itu HB saya tinggal 2, ditambah lagi infeksi TBC," kata Kurniawan.

Namun, pria yang akrab disapa Wawan ini mengungkapkan, dirinya jauh lebih sehat sekarang. Dia juga sudah sembuh dari penyakit TBC.

Wawan terinfeksi virus HIV lewat jarum suntik. Kala itu, Ia mengatakan sempat jadi pecandu narkoba.

"Jarum suntik itu dipakai bergantian dan saya terpapar," ucap dia.

Wawan memiliki lima orang teman sesama pemakai narkoba, dan mereka telah meninggal dunia.

"Jadi yang tersisa hidup itu tinggal saya," imbuh dia.

Kurniawan harus berjuang dari stigma negatif keluarganya. Di mana, satu per satu keluarga mulai menjauhinya.

"Saya mendapat perlakuan diskriminatif dengan cara dipisahkan alat makan, bahkan tempat tidur," lanjut dia.

Akhirnya dia memutuskan pergi ke satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) khusus mendampingi para penderita HIV. Di sana Wawan diberikan penguatan informasi dan cara hidup setelah menderita Aids.

Kemudian, Dia berobat ke Rumah Sakit (RS) Aloei Saboe untuk melanjutkan pengobatan.

"Dan di situ saya dilayani dengan baik," akunya.

Bahkan dirinya kini telah bertugas sebagai mitra LSM di RS Aloei Saboe.

Tugasnya mendampingi para orbit (penderita HIV-AIDS) untuk dukungan psikososial dan moral.

"Jadi kalau ada orbit baru mengetahui statusnya, saya memberikan motivasi kepada orbit itu," jelas dia.

Dia berpesan agar semua orang harus menerapkan triple eliminasi.

Pertama, 90 persen orang yang belum mengetahui status kesehatannya agar segera memeriksa status HIV nya.

Kedua, 90 persen orang yang sudah mengetahui status HIV agar segera mendapatkan pengobatan.

Selanjutnya, 90 persen orang yang sudah mendapatkan pengobatan HIV agar melakukan pemeriksaan secara mendalam.

Hal itu bertujuan mengetahui seberapa besar keberhasilan pengobatannya.

Baca juga: Pengidap HIV-AIDS Gorontalo Capai 754 Orang, Didominasi Laki-Laki

Sebagai informasi, HIV atau Aids tidak menular melalui sentuhan atau jabat tangan, batuk/bersin, berpelukan/ciuman, berbagi alat makan, menggunakan kolam renang atau toilet yang sama, maupun gigitan nyamuk atau hewan lainnya.

Melansir dari Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Gorontalo dan Dinas Kesehatan Gorontalo, pengidap HIV/AIDS di Gorontalo tahun 2022 mencapai 788 orang. 

Dari 788 pengidap HIV/AIDS di Gorontalo tersebut, sebanyak 388 orang berstatus stadium HIV, sedangkan 400 lainnya telah menderita AIDS.  (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved