Pengidap HIV-AIDS Gorontalo Capai 754 Orang, Didominasi Laki-Laki
HIV adalah singkatan (human immunodeficiency virus). Sebuah virus yang menular lewat kontak dengan darah ataupun air mani dan cairan lainnya dari seor
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Jumlah pengidap penyakit HIV-AIDS di Gorontalo setiap tahun meningkat. Kini jumlah pengidap HIV-AIDS di Gorontalo nyaris seribu orang.
Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo mencatat, jumlah pengidap HIV-AIDs di Gorontalo tahun 2022 mencapai angka 754.
Sebelumnya pada tahun 2021, jumlah pengidap HIV-AIDS di Gorontalo hanya ada di angka 721 orang.
Artinya, terjadi penambahan 33 orang pengidap. Dari angka 754, terbagi atas 384 HIV dan 370 orang sudah kategori AIDS.
HIV adalah singkatan (human immunodeficiency virus). Sebuah virus yang menular lewat kontak dengan darah ataupun air mani dan cairan lainnya dari seorang pengidap.
HIV biasanya akan menjadi AIDS atau Acquired Immunodeficiency Syndrome.
Tidak ada obat untuk AIDS, tetapi kepatuhan yang ketat untuk mengonsumsi rejimen anti-retroviral (ARV) dapat secara dramatis memperlambat bertambah parahnya penyakit ini.
Reyke Uloli, Kabid P2P Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo menjelaskan, dari ratusan pengidap HIV-AIDS di Gorontalo, terbanyak adalah laki-laki atau pria.
Jumlahnya pria pengidap HIV-AIDS di Gorontalo mencapai 570 orang. Sementara wanita hanya di angka 184 orang saja.
“Ya jadi pengidap penyakit HIV-AIDS ini di Gorontalo lebih banyak pria dibanding wanita. Sangat jauh perbedaanya. Apalagi ini kasusnya setiap tahun bertambah,” ungkap Reyke saat dihubungi, Rabu (14/9/2022).
Jika mencermati data yang dipaparkan Reyke, wilayah tertinggi warganya pengidap HIV-AIDS adalah Kota Gorontalo. Urutan ke-2 ada Kabupaten Gorontalo, ke-3 Pohuwato, ke-4 Bone Bolango, ke-5 Boalemo, dan ke-6 Gorontalo Utara.
“Jadi memang di Gorontalo ini tidak ada lagi daerah yang bebas HIV-AIDS. Semua daerah sudah ada pengidap HIV-AIDS.” tegas dia.
Angka ini tentunya mengkhawatirkan. Sebab paling banyak virus ini menular melalui hubungan seks bebas. Pihaknya pun kerap berupaya menekan angka ini.
Ada yang namanya program STOP, singkatan dari Suluh, Temukan, Obati, dan Pertahankan. Artinya, melakukan penyuluhan berupa edukasi, lalu menemukan pengidap.
Ketemu pengidap, dilakukan pengobatan, serta dipertahankan capaian pengobatan yang dilakukan.
“Kami selalu melakukan strategi STOP ini untuk menekan angka HIV-AIDS di Gorontalo,” tutup Reyke. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/14092022HIV.jpg)