Rabu, 4 Maret 2026

Kemenkes Turun ke Gorontalo, Cek Bebas Frambusia di Tiga Kabupaten

Regina Tiolina, Ketua Tim Kerja NTD (Neglected Tropical Disease) atau Penyakit Tropis Terabaikan Kemenkes RI mengatakan

zoom-inlihat foto Kemenkes Turun ke Gorontalo, Cek Bebas Frambusia di Tiga Kabupaten
TribunGorontalo.com
Ilustrasi frambusia. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) melakukan penilaian bebas Frambusia di tiga kabupaten di Gorontalo. 

Kegiatan penilaian itu dilakukan dua hari sejak 23 hingga 24 November 2022 lalu. Adapun 3 (tiga) Kabupaten yang dinilai yaitu Kabupaten Boalemo dan Gorontalo Utara yang dikunjungi langsung oleh tim penilai dan kabupaten Bone Bolango yang dilakukan penilaian secara daring.

Regina Tiolina, Ketua Tim Kerja NTD (Neglected Tropical Disease) atau Penyakit Tropis Terabaikan Kemenkes RI mengatakan, proses penilaian telah dimulai dari tingkat kabupaten kemudian diusulkan untuk dinilai ditingkat provinsi dengan nilai baik hingga penilaian dan assessment oleh Kemenkes.

“Setiap daerah yang akan diberikan sertifikat bebas Frambusia harus dipastikan memang tidak ada kasus minimal 6 bulan terakhir dan surveilansnya berkinerja baik jadi tetap harus dilakukan surveilans dan report ke pusat,” ungkap Regina.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, Yana Yanti Suleman mengatakan, penilaian dan assessment sertifikasi bebas Frambusia sesuai dengan Permenkes nomor 8 tahun 2017 tentang eradikasi Frambusia.

“Kemarin sudah dikunjungi oleh Kementerian Kesehatan, berharap tiga daerah di Provinsi Gorontalo yang Insya Allah akan eradikasi Frambusia bisa memperoleh sertifikat tersebut,” ucap Yana.

Yana mengungkapkan sertifikasi Frambusia dapat meningkatkan kesadaran perilaku hidup bersih dan sehat, mencegah penularan secara langsung dan membiasakan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat.

“Intinya adalah eliminasi Malaria, eradikasi Frambusia dan lain-lain itu merupakan target pembangunan dibidang kesehatan, insya Allah secara bertahap pemerintah provinsi Gorontalo dibidang kesehatan menuju ke arah Indonesia sehat tahun 2030,” pungkas dia.

Tim assessment terdiri dari tim kerja NTD Kemenkes, Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) dan dokter spesialis kulit kelamin.

Penilaian diawali dengan paparan penilaian oleh kabupaten dan dilanjutkan oleh dinas kesehatan provinsi. 

Lalu dilakukan wawancara untuk penilaian kompetensi dasar klinis Frambusia dan kinerja surveilans dengan sasaran kepala puskesmas, dokter, pengelola program Frambusia dan tenaga kesehatan lainnya.

Apa itu Frambusia?

Infeksi bakteri kronis yang memengaruhi kulit, tulang, dan tulang rawan.

Frambusia paling sering memengaruhi anak-anak di daerah tropis Afrika, Asia, dan Amerika Latin. Frambusia menyebar melalui kontak langsung dengan kulit orang yang terinfeksi.

Luka tunggal mirip buah berry pada kulit adalah tanda awal dari frambusia. Jika tidak ditangani, luka akan menyebar. Frambusia akhirnya dapat menyebabkan kerusakan dan cacat. Kondisi ini diobati dengan antibiotik.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved