Masjid Raya Gorontalo

Masjid Raya Gorontalo Akan Dibangun di Danau Limboto, BWS: Perlu Kajian Mendalam

Kata Roland, hal yang perlu diperhatikan oleh pemerintah adalah, bahwa Danau Limboto berstatus kritis.

TribunGorontalo.com/Wawan Akuba
Seorang nelayan tengah melintas di tengah Eceng gondok Danau Limboto, Gorontalo. Eceng gondok sebagai tanaman invasif, dianggap hama oleh nelayan. Pemerintah bahkan mengucurkan dana miliaran untuk menyingirkannya dari danau kritis tersebut. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Balai Wilayah Sungai (BWS) Gorontalo meminta pemerintah tak buru-buru melakukan pembangunan Masjid Raya Gorontalo di Danau Limboto

“Perlu ada kajian-kajian mendalam baik itu teknis dan lainnya untuk menentukan bahwa masjid itu memang layak atau tidaknya dibangun di lokasi tersebut,” ungkap Roland Kasim, kepala seksi di BWS Gorontalo.

Kata Roland, hal yang perlu diperhatikan oleh pemerintah adalah, bahwa Danau Limboto berstatus kritis.

“Sekiranya informasi ini menjadi pertimbangan bagi panitia masjid untuk menentukan pengkajian masjid ini secara teknis, kesesuaian lingkungan serta kesesuaian tata ruang, sehingga ini layak ini dilaksanakan pembangunan masjid di situ.” katanya. 

Sebetulnya kata Roland, pihaknya mendukung sekadar kebutuhan untuk tempat ibadah dan tujuan wisata. 

Namun dalam konteks lingkungan, tentu pihaknya akan lebih hati-hati. Apalagi kini tengah melakukan aktivitas penyelamatan danau tersebut. 

“Jika ini memang benar-benar secara teknis layak, sekiranya bisa menjadikan Danau Limboto ini dari segi wisata merubah tampilan danau itu menjadi lebih baik dan menjadi tujuan selain tempat ibadah juga menjadi destinasi wisata.” katanya. 

Pemerintah Gorontalo terpaksa memindahkan lokasi pembangunan Masjid Raya Gorontalo dan Islamic Center ke Danau Limboto

Alasannya, pembebasan lahan di lokasi sebelumnya terlalu ‘ribet’, juga mahal. 

Hal itu menyebabkan proyek yang direncanakan sejak 7 tahun lalu, tidak kunjung selesai. 

Apalagi pembebasan lahan di Kelurahan Moodu, ditaksir memakan biaya hingga Rp 51 miliar. 

Ketua panitia pembangunan Masjid Raya dan Islamic Center, Rusliyanto Monoarfa mengaku, pihaknya tentu tidak ingin lagi menunggu terlalu lama. Lima tahun saja sudah cukup.

Jika saja pembebasan lahan selesai sejak dulu, tentu Masjid Raya sudah terlihat wujudnya. 

Karena itu, melalui lokakarya atau seminar, para pihak bertemu; Pemerintah Gorontalo, Dewan Masjid Indonesia (DMI), DPRD, serta tokoh-tokoh masyarakat. 

Lokakarya dilaksanakan Sabtu (19/11/2022) kemarin di aula rumah jabatan Gubernur Gorontalo. Mencuat dalam lokakarya, Danau Limboto sebagai alternatif. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved