Minggu, 8 Maret 2026

Pilpres 2024

Jokowi Isyaratkan PDIP Gabung Gerindra-PKB? Prabowo-Puan Menguat di Pilpres 2024

Dukungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) kepada Prabowo Subianto maju Pilpres 2024 menimbulkan beragam spekulasi politik.

Tayang:
Editor: Lodie Tombeg
zoom-inlihat foto Jokowi Isyaratkan PDIP Gabung Gerindra-PKB? Prabowo-Puan Menguat di Pilpres 2024
Kolase TribunGorontalo.com
Jokowi - Prabowo - Puan Maharani. Dukungan Presiden Jokowi kepada Prabowo Subianto maju Pilpres 2024 menimbulkan beragam spekulasi politik. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Jakarta - Dukungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) kepada Prabowo Subianto maju Pilpres 2024 menimbulkan beragam spekulasi politik.

Pernyaaan Jokowi dapat dimaknai sebagai isyarat PDIP segera bergabung ke koalisi Partai Gerindra - Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Koalisi tiga partai ini selanjutnya mengusung Prabowo - Puan Maharani maju pesta demokrasi 14 Februari 2024.

Indikasinya, Gerindra - PKB belum juga secara resmi mengusung Prabowo - Muhaimin Iskandar. Sempat direncanakan namun tertunda.

Sekjen PDIP Harto Kristiyanto sempat mengakui partainya sedang membangun komunikasi dengan Gerindra dan PKB.

Sementara Puan sebagai kandidat capres PDIP masih perlu menggenjot tingkat keterpilihannya.

Berbagai survei capres, baru menempatkan Puan di posisi 5 besar dengan elektabilitas di bawah 4 persen.

Kemudian mengencang isu perjanjian Batu Tulis Jilid II. Formasi 'terbalik' Prabowo - Puan untuk melunasi 'utang' Batu Tulis Jilid I. Pada Pilpres 2009, PDIP - Gerindra mengusung Megawati Soekarnoputri - Prabowo.

Pasangan ini kalah dari Susilo Bambang Yudhoyono - Boediono.

Direktur Eksekutif Institute for Democracy and Strategic Affairs (Indostrategic) Ahmad Khoirul Umam menilai, pernyataan Presiden Joko Widodo soal peluang kemenangan Prabowo Subianto pada Pemilu Presiden (Pilpres) 2024 membuka banyak sinyal politik.

Salah satunya, menguatnya kembali wacana duet Prabowo dengan Puan Maharani sebagai calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) pada pemilu mendatang.

"Sinyal positif merapatnya PDI-P ke Gerindra-PKB akan menghidupkan kembali skema capres-cawapres Prabowo-Puan sebagai pasangan yang layak dipertimbangkan," kata Umam kepada Kompas.com, Senin (7/11/2022).

Umam menduga, pernyataan Jokowi ini mengisyaratkan keterbukaan PDI-P untuk bergabung dengan koalisi Partai Gerindra dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Sejak Agustus lalu, Gerindra telah mendeklarasikan kesiapan ketua umumnya, Prabowo Subianto, untuk maju sebagai capres.

Sementara, kursi calon RI-2 pendamping Prabowo masih kosong. Menurut Umam, tak menutup kemungkinan PDI-P bakal menyodorkan nama putri mahkotanya, Puan Maharani, untuk mendampingi Prabowo.

"Statement Jokowi itu menguatkan sinyal politik bagu merapatnya PDI-P ke koalisi Gerindra-PKB," ujarnya. Umam berpandangan, pernyataan Jokowi soal peluang kemenangan Prabowo sebagai capres bukan sekadar basa-basi politik.

Sebabnya, tak sekali saja orang nomor satu di RI itu melempar kode sinyal dukungannya. Sebelumnya, Jokowi juga pernah menyebut bahwa dirinya sejak awal mendukung Menteri Pertahanan tersebut.

Umam menilai, pernyataan demi pernyataan Jokowi itu mempertegas dukungan presiden buat Prabowo maju sebagai capres.

"Dua kali statement dukungan Jokowi kepada Prabowo secara berturut-turut jelas mempertegas positioning tersebut," kata Umam.

"Jika statement itu hanya basa-basi politik, jelas tidak produktif dan justru akan memantik sentimen negatif pendukung Prabowo terhadap Jokowi yang dianggap memberikan harapan palsu," lanjut dosen Universitas Paramadina itu.

Sebelumnya, Jokowi menyinggung soal peluang kemenangan Prabowo Subianto sebagai capres. Dalam sebuah acara yang juga dihadiri oleh Prabowo, Jokowi berkata bahwa dirinya sudah memenangkan dua kali pemilu presiden. Dia menduga, pilpres berikutnya bakal dimenangkan oleh Prabowo.

"Saya ini dua kali Wali Kota di Solo menang. Kemudian, ditarik ke Jakarta, gubernur sekali menang. Kemudian, dua kali di pemilu presiden juga menang. Mohon maaf, Pak Prabowo," kata Jokowi dalam sambutannya di acara HUT Partai Perindo di kawasan Kebon Sirih, Jakarta, Senin (7/11/2022).

"Kelihatannya setelah ini jatahnya Pak Prabowo," lanjutnya.

Pernyataan Jokowi itu disambut riuh tawa dan tepuk tangan hadirin. Sementara, Prabowo yang semula duduk di barisan tamu terdepan beranjak dari kursinya dan memberi hormat ke Jokowi.

Usai acara, Jokowi ditanya oleh awak media soal dukungannya ke Prabowo. Presiden bilang, tak masalah jika ucapannya dianggap sebagai sinyal dukungan ke Menteri Pertahanan itu sebagai capres.

"Ya diartikan sinyal ya boleh, tapi saya kan ngomongnya juga enggak apa-apalah," kata dia.

Jokowi Ingin Garansi

Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis Agung Baskoro menilai Jokowi ingin terlibat dalam menentukan dan memenangkan capres. Hal tersebut dilakukan agar program yang Jokowi kerjakan selama ini terus berlanjut ke depannya.

"Presiden Jokowi ingin siapapun yang mendapat restunya maju dalam Pilpres 2024, memberikan garansi bahwa program atau kebijakan pemerintahannya tetap dilanjutkan agar terealisasi dan memberikan efek keberlanjutan yang signifikan," ujar Agung dalam keterangannya, Selasa (8/11/2022).

Agung menjelaskan, jika program atau kebijakan terbengkalai, maka itu bisa menjadi noda politik capaian Presiden Jokowi selama 2 periode ini.

Selain itu, Agung semakin yakin Jokowi ingin berperan sebagai salah satu King Maker dalam Pilpres 2024 karena pengalamannya yang belum tersentuh kekalahan saat terlibat dalam pemilihan dalam berbagai tingkat pemerintahan mulai kota, provinsi, hingga negara.

Artinya, Jokowi ingin terlibat dalam penentuan capres-cawapres dan memenangkannya, baik bagi koalisi pemerintahan saat ini maupun PDI-P.

Adapun, analisa Agung itu berkaitan dengan pernyataan Jokowi yang melempar kode mendukung Prabowo Subianto untuk menjadi Presiden 2024.

Kode yang dimaksud adalah saat Jokowi mempertegas dukungannya kepada Prabowo dengan mengungkit kemenangannya sejak menjadi Wali Kota Solo, Gubernur DKI Jakarta, dan Presiden selama dua dua periode.
Jokowi menyebut kini Pilpres 2024 adalah giliran Prabowo untuk menang.

"Ia mengakui peluang Prabowo bersama Koalisi Indonesia Raya (KIR) yang digagas Gerindra dan PKB sementara ini unggul dibanding koalisi lainnya yang masih tarik ulur di internal partai atau koalisi dalam menentukan nama capres atau cawapres," tutur dia.

Selanjutnya, Agung menilai pernyataan Jokowi yang meminta agar partai politik berhati-hati dalam menentukan capres-cawapres lebih ditujukan kepada Gerindra dan Nasdem.

Diketahui, Gerindra menjagokan Prabowo Subianto sebagai capres, sementara Nasdem mengusung Anies Baswedan.

"Sementara, ketika bahasannya, 'jangan kelamaan mendeklarasikan', lebih ditujukan kepada PDI-P maupun Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yang digagas oleh Golkar, PAN, dan PPP, yang keduanya, baik PDIP dan KIB tampak saling menunggu," ucap Agung.

"Padahal, dalam konteks KIB, menanti putusan PDI-P menjadi kontraproduktif. Karena selain menunda persiapan pilpres yang membutuhkan rencana matang, juga mereduksi coattail effect yang bisa didapat. Karena baik Puan Maharani atau Ganjar Pranowo keduanya merupakan kader senior partai berlambang banteng," sambungnya.

Sementara itu, Agung mengatakan dinamika koalisi saat ini lebih dipengaruhi oleh pergerakan elektabilitas figur selain faktor presidential threshold.

Pasalnya, hampir semua partai telah mengerucut dalam poros-poros koalisi pra-pilpres yang telah memenuhi presidential threshold.

Terlebih, koalisi-koalisi yang ada juga ingin menang, bukan sekadar menjadi penggembira semata.

Agung menduga para partai politik akan mengerahkan semua mesin politik dan mencari figur capres-cawapres yang tepat demi mengejar coattail effect.

"Partai-partai yang duduk dalam koalisi pemerintahan saat ini juga berupaya melekatkan restu Istana agar kemenangan politik bisa semakin dipastikan," imbuh Agung.

Hasil survei Y-Publica periode 27 Oktober - 1 November 2022:

Ganjar Pranowo 23,1 persen

Prabowo Subianto 20,2 persen

Anies Baswedan 16,3 persen

Ridwan Kamil 5,8 persen

Agus Harimurti Yudhoyono 5,0 persen

Sandiaga Uno 4,6 persen

Puan Maharani 3,4 persen

Khofidah Indar Parawansa 2,6 persen

Ercik Thohir 2,4 persen

Andika Perkasa 2,0 persen

Airlangga Hartarto 1,4 persen

Tri Rismaharini 1,2 persen

Yenny Wahid 1,1 persen

Lainnya di bwah 1 persen

(*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Jokowi Lempar Sinyal Dukungan Capres, Wacana Duet Prabowo-Puan Menguat Lagi?"

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved