Pilpres 2024
Nasdem Guncang usai Capreskan Anies, 'Restu Jokowi' Muluskan Prabowo ke Pilpres 2024
Beda dengan Partai Nasdem, Partai Gerindra cenderung lebih mulus saat mengusung Prabowo Subianto menuju Pilpres 2024.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/261022-surya-prabowo.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Jakarta - Beda dengan Partai Nasdem, Partai Gerindra cenderung lebih mulus saat mengusung Prabowo Subianto menuju Pilpres 2024.
Analis berpendapat, 'restu' Presiden Joko Widodo melapangkan langkah Gerinda dan Prabowo menuju panggung demokrasi 2024.
Beda dengan Nasdem yang mendeklrasikan capres Anies Baswedan.
Partai besutan Surya Paloh ini 'digoyang' usai mendeklarasikan Anies.
Dari internal partai, beberapa kader mengundurkan diri dari kepengurusan.
Bahkan jajak pendapat terakhir, suara Nasdem 'lari' ke Ganjar Pranowo dan Prabowo jika pilpres dilaksanakan saat ini.
Gubernur Jawa Tengah ini dipilih 21,6 persen responden pemilih dari Nasdem.
Diurutan berikutnya, Prabowo kedua terbanyak dipilih massa Nasdem jika Pilpres 2024 dilaksanakan saat ini.
Demikian hasil jajak pendapat Pilpres 2024 oleh Litbang Kompas yang berlangsung 24 September hingga 7 Oktober 2022.
Berikut hasil jajak pendapat elektabilitas figur capres oleh Litbang Kompas:
Ganjar Pranowo
- 26,9 persen
Prabowo Subianto
- 17,3 persen
Anies Baswedan
- 15,4 persen
Peneliti Litbang Kompas Yohan Wahyu mengungkapkan, hasil itu menunjukkan bahwa relasi antara Partai Nasdem dan Anies Baswedan belum cukup kuat.
Pasalnya, Anies adalah capres yang telah diusung oleh Partai Nasdem. Tetapi, keputusan itu nampak belum diikuti oleh para kader di bawah.
“Dari sisi responden Partai Nasdem, nama Anies Baswedan justru berada di urutan ketiga yang paling banyak dipilih oleh pemilih partai ini dengan raihan elektoral mencapai 15,4 persen,” ungkap Yohan dikutip dari Harian Kompas, Selasa (25/10/2022).
Dari eksternal, Nasdem yang butuh mitra partai politik supaya bisa mengusung Anies belum juga dapatkan koalisi.
Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis Agung Baskoro membeberkan alasan kenapa Gerindra tidak disudutkan seperti yang dialami Nasdem usai mendeklarasikan calon presiden (capres).
Nasdem diketahui mendapat 'serangan' bertubi-tubi dari sejumlah pihak usai mendeklarasikan Anies Baswedan sebagai capres. Padahal, Gerindra sudah lebih dulu mendeklarasikan capres mereka, yaitu Prabowo Subianto.
"Pertama, secara personal, walaupun Pak Prabowo baru mendukung Presiden Jokowi di periode kedua, tapi kehadiran Gerindra dalam kabinet setidaknya bisa meminimalkan konflik yang mungkin mengemuka pasca pertarungan dua pilpres," ujar Agung saat dihubungi Kompas.com, Selasa (25/10/2022).
Kemudian, Agung menyinggung status Prabowo sebagai Menteri Pertahanan (Menhan). Menurutnya, posisi inilah yang membedakan Prabowo dengan Surya Paloh.
Baca juga: Pemilih Nasdem Lari ke Ganjar dan Prabowo: Begini Hasil Survei Pilpres 2024 Litbang Kompas
Surya Paloh, menurutnya, berada di level yang setara dengan Jokowi. Sementara Prabowo sebagai menteri merupakan pembantu presiden. Maka posisi Prabowo sebagai "orangnya Jokowi" sangatlah melekat.
"Apalagi Pak Prabowo terlibat langsung sebagai menteri, yang berarti semakin menguatkan dirinya sebagai "menteri Jokowi" atau "orangnya Jokowi".
Ini berbeda dengan Surya Paloh yang selama ini relasi yang terbentuk setara, karena baik Presiden Jokowi dan Nasdem sama saling membutuhkan," tuturnya.
Agung menjelaskan, hubungan Prabowo dengan Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri juga baik, di mana Jokowi tergabung ke dalam partai berlambang banteng ini.
Menurutnya, relasi antara Prabowo dan Megawati harmonis, meski sudah banyak pasang surut yang dilalui antara keduanya.
"Ini berbeda dengan relasi PDI-P dan Nasdem, yang dalam beberapa waktu terakhir sebelum sudah muncul riak-riak di akar rumput soal keterbukaan Nasdem membangun komunikasi dengan Demokrat dan PKS. Padahal, di saat yang sama, Nasdem masih menempatkan kader-kadernya di kabinet," jelas Agung.
Selanjutnya, Agung melihat dari sisi institusional. Saat ini, Gerindra fokus membangun koalisi Pemilu 2024 dengan sesama mitra koalisi di pemerintahan, yakni Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Sehingga, apa yang dilakukan Gerindra ini memungkinkan Jokowi atau PDI-P menjalin relasi dengan keduanya.
Agung menilai Jokowi atau PDI-P bakal lebih sulit menjalin relasi dengan partai oposisi seperti Demokrat, dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di dalamnya, dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
"Ketiga, secara elektoral, Prabowo masih menempatkan diri bahwa restu Jokowi menjadi parameter yang menentukan kesuksesan pilpres," paparnya.
Agung merasa Jokowi yang menjabat Presiden dua periode memiliki infrastruktur kekuasaan solid yang bisa mempengaruhi siapapun.
Artinya, kata Agung, majunya Prabowo yang sejauh ini berlangsung mulus, pertanda 'restu Jokowi' sudah turun.
"Dan ini berbanding terbalik ketika Anies dicapreskan oleh Nasdem. Karena tiba-tiba dan mengejutkan banyak pihak," imbuh Agung.
(*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Gerindra Tak Disudutkan seperti Nasdem Usai Deklarasi Capres, Pengamat: Prabowo "Orangnya Jokowi", Beda dengan Paloh"