Kamis, 5 Maret 2026

Bank Indonesia Memprediksi Inflasi Inti Akan Kembali ke Level 4 Persen

BI memprediksi Laju inflasi, terutama inflasi inti, diyakini akan kembali ke level 2 hingga 4 persen pada kuartal ketiga 2022. 

Tayang:
zoom-inlihat foto Bank Indonesia Memprediksi Inflasi Inti Akan Kembali ke Level 4 Persen
TribunGorontalo.com
BI memprediksi Laju inflasi, terutama inflasi inti, diyakini akan kembali ke level 2 hingga 4 persen pada kuartal ketiga 2022. 

TRIBUNGORONTALO.COMDirektur Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter BI, Wahyu Agung Nugroho, menyampaikan kenaikan harga BBM akan menambah tingkat inflasi sebesar 1,8 hingga 1,9 persen.

BI memprediksi Laju inflasi, terutama inflasi inti, diyakini akan kembali ke level 2 hingga 4 persen pada kuartal ketiga 2022. 

Kendati demikian, BI memperkirakan ekonomi pada kuartal III/2022 akan tumbuh lebih tinggi dari kuartal sebelumnya. Hal itu, terutama didorong oleh membaiknya konsumsi domestik.

Perekonomian Indonesia saat ini ada dalam tren melanjutkan pemulihan yang kuat sejak kuartal pertama 2022.  Berdasarkan data terakhir, pertumbuhan ekonomi pada kuartal II/2022 tumbuh sebesar 5,4 persen secara tahunan. 

Pada kuartal ketiga 2022, ekonomi diperkirakan tumbuh sebesar 5,5 persen secara tahunan.

Sementara itu Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati, menyebutkan inflasi tinggi di sejumlah negara di dunia diakibatkan adanya kenaikan harga komoditas. 

Hal itu didorong oleh meningkatnya permintaan barang yang tinggi, sejalan dengan adanya  pemulihan ekonomi pasca pandemi.

Kondisi tersebut itu diperburuk dengan beberapa pasokan bahan pangan dan bahan energi yang tidak mulus karena adanya kondisi geopolitik Rusia-Ukraina. 

“Kenaikan komoditas itu mendorong inflasi tinggi di berbagai negara. Kenaikannya adalah the worst in 40 years,” ungkap Menkeu saat menjadi narasumber Program Pelatihan Kepemimpinan IA ITB di Jakarta, Selasa (25/10/2022).

Inflasi yang terjadi saat ini, kata Menkeu, merupakan terburuk yang dialami sejumlah negara. 

Kondisi itu terjadi di Amerika, Eropa, dan Jepang yang selama berdekade-dekade berjuang dengan deflasi. 

“Suddenly, mereka punya inflasi. Itu adalah di satu sisi tadinya para policy maker di negara-negara maju itu mikir, oh ini inflasi sementara karena tadi demandnya lari duluan (sementara) supply-nya telat di belakang,” jelas Menkeu.

Data yang dihimpun Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menunjukkan tren inflasi yang meningkat. 

Hal itu menyebabkan negara-negara maju tersebut menaikkan suku bunga dengan tajam. Kalau bisanya bank sentral menaikkan suku bunga 25 basis poin atau 0,25 persen, saat ini bank sentral bisa menaikkan 50 basis sampai 75 basis sekali naik.

Langkah bank sentral seperti itu, tentu bukanlah sesuatu yang bisa dianggap sepele. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved