Selasa, 24 Maret 2026

Pilpres 2024

Wacana Presiden Perempuan Jelang Pilpres 2024: Puan Maharani Kalahkan Sri Mulyani

Puan Maharani dinilai layak menjadi Presiden RI 2024. Dari jajak pendapat tokoh perempuan kandidat capres, Ketua DPR RI itu unggul.

Tayang:
Editor: Lodie Tombeg
zoom-inlihat foto Wacana Presiden Perempuan Jelang Pilpres 2024: Puan Maharani Kalahkan Sri Mulyani
Kolase TribunGorontalo.com
Puan Maharani dan Megawati. Puan Maharani dinilai layak menjadi Presiden RI 2024. Dari jajak pendapat tokoh perempuan kandidat capres, Ketua DPR RI itu unggul. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Jakarta - Puan Maharani dinilai layak menjadi Presiden RI 2024. Dari jajak pendapat tokoh perempuan kandidat capres, Ketua DPR RI itu unggul.

Bahkan Puan Maharani mengalahkan tokoh PDIP Megawati Soekarnoputri, mantan Meteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.

Tingkat keterpilihan Puan juga mengungguli Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Menteri Sosial Tri Rismaharini dan Menteri Keuangan Sri Mulyani.

Putri Megawati itu memang digadang maju Pilpres 2024. Di internal PDIP, Puan harus bersaing dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Puan mendapat dukungan kuat dari kader PDIP di berbagai daerah. Tak hanya itu, relawan Puan Maharani sudah mulai menjamur di berbagai daerah.

Ketua DPP PDIP Said Abdullah mengatakan pemilihan presiden (pilpres) 2024 merupakan momentum yang tepat untuk menghadirkan pemimpin perempuan.

Awalnya, Said Abdullah mengutip hasil survei Akar Rumput Strategic Consulting (ARSC) 21 September 2021 melalui pertanyaan top of mind menemukan bahwa kandidasi capres perempuan masih jauh di bawah laki laki.

Selain itu, hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) juga menunjukkan capres perempuan dari sepuluh daftar kandidasi capres 2024 berada di urutan ke tujuh.

"Artinya, dalam realitas politik di Indonesia kepemimpinan perempuan dalam kandidasi capres 2024 masih menyisakan problem akseptabilitas atau hambatan penerimaan publik," kata Said Abdullah dalam keterangannya, Senin (24/10/2022).

Dari hasil survei tersebut, Said menilai kandidasi capres perempuan masih sulit bersaing dengan capres laki laki pada sisi akseptabilitas untuk di terima dan dipilih pemilih di Indonesia.

Baca juga: Berpeluang Maju di Pilpres 2024, Sandiaga Uno Kandidat Cawapres Terkuat

Said pun mengutip pernyataan Bung Karno dalam bukunya "Sarinah: Kewajiban wanita dalam perdjuangan repoeblik Indonesia" (cet I, 1947) posisi perempuan dalam perjuangan republik Indonesia bukan sekedar urusan emansipasi".

"Pengalamannya dirawat oleh Sarinah sebagai pembantunya, Bung Karno menemukan humanisme dalam praktik hidup," ujarnya.

Geneologi pemikiran Bung Karno yang Marhaenis, kata dia, kental dengan kritik terhadap modernisme barat sebagai semang imperialisme.

"Jadi kita pahami bila Bung Karno bukan sekedar menempatkan perempuan dalam pemajuan bangsa dan negaranya, lebih spesifik, perempuan menjadi bagian kekuatan yang harus turut serta melawan feodalisme, kolonialisme dan imperialisme," ucap Said.

Lebih lanjut, ia menuturkan dalam buku Sarinah Bung Karno diungkapkan betapa pentingnya peran perempuan dalam sebuah bangsa.

"Bahkan lebih jauh Bung Karno menggaris bawahi "djikalau tidak dengan mereka (wanita) kemenangan tak mungkin kita tjapai". Terlihat betapa keadaan perempuan pada masanya terdomestifikasi, tak kuasa keluar dari kultur feodal yang patriarki," ungkapnya.

Karenanya, Said menegaskan dari pandangan Bung Karno tersebut menunjukkan mengapa tokoh perempuan menjadi penting untuk tampil dalam kepemimpinan nasional melalui ajang kandidasi capres 2024.

Pertama, kandidasi perempuan dalam kepemimpinan nasional bukan sekedar dukungan terhadap figur, tetapi secara otentik bisa membuktikan bangsa Indonesia keluar dari feodalisme patriarkis sebagai syarat kemajuan sosial.

Kedua, kata Said, kepemimpinan perempuan sudah sewajarnya bila mengacu agregat sosial-demografis kita menempati kedudukan yang strategis.

"Kenapa? aspek keadilan. Artinya mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020 jumlah penduduk perempuan di Indonesia mencapai 49,76 persen. Ini menunjukkan bahwa secara kuantitatif prosentase kandidasi capres perempuan seharusnya berbanding sama dengan jumlah kandidasi capres laki laki," ungkap dia.

Ketiga, aspek demokrasi bahwa kandidasi capres perempuan dalam kontestasi pilpres 2024 akan mewarnai gagasan-gagasan tentang kesejahteraan perempuan, proteksi atas kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), pengentasan kemiskinan perempuan akibat dominasi kultur patriarki dan dampak struktural turunannya.

"Kaum perempuan juga terbukti sebagai pilar ketahanan pangan, di saat banyak urbanisasi yang dilakukan kaum laki laki, perlahan lahan pertanian kita cenderung feminim. Kekuatan perempuan sebagai kekuatan produksi sangat terlihat begitu diasporisnya para tenaga kerja wanita kita di berbagai belahan negara. Mereka mandiri, namun minim perlindungan atas hak-haknya, terutama di negara-negara yang penghormatan hak asasinya rendah," ujar Said.

Baca juga: Peluang PDIP Usung Ganjar Pranowo Maju Pilpres 2024: Megawati Unjuk Kekuatan

Said menjelaskan kehadiran pemimpin perempuan bukan sekedar gerakan emansipasi, bukan kepentingan perjuangan gender, bukan kepentingan personal dan kelompok melainkan kepentingan kehidupan berbangsa dan bernegara ke depan dalam menghadapi tantangan global.

"Yakni peran kepemimpinan perempuan yang visioner dan berperspektif gender, termasuk pada panggung internasional yang kental kebijakan-kebijakan maskulinitas," tuturnya.

Dalam kondisi demikian, Said menegaskan penguatan dan peneguhan afirmatif atas kepemimpinan perempuan di level nasional dan internasional haruslah menjadi agenda bersama.

"Kewajiban kita bersama untuk memperjuangkan kesadaran baru secara massif untuk meminimalisasi aspek hambatan akseptabilitas dan penerimaan publik terhadap kepemimpinan perempuan sebagaimana tercermin dalam data survei di atas," jelasnya.

Karena itu, Said menambahkannya pilpres 2024 merupakan momentum yang tepat bagi bangsa Indonesia dalam menghadirkan pemimpin perempuan.

"Di sinilah momentum pilpres 2024 adalah waktu yang tepat bagi kita untuk menghadirkan kebutuhan bangsa ke depan dalam menghadirkan kepemimpinan perempuan di level nasional," imbuhnya.

Survei Capres Perempuan

Lembaga Survei KedaiKOPI memaparkan hasil riset terkait calon presiden dari kalangan wanita.

Hasilnya, ditemukan ada 6 calon presiden perempuan yang disebutkan oleh pemilih dalam pertanyaan terbuka tentang elektabilitas.

Hal itu disampaikan Direktur Eksekutif Lembaga Survei KedaiKOPI Kunto Adi Wibowo dalam diskusi virtual Polemik MNC Trijaya bertajuk ‘Elektabilitas Capres dalam Bingkai Survei, Sabtu (3/9/2022).

Puan Maharani 9,6 persen, 

Megawati Soekarnoputri 0,7 persen, 

Susi Pudjiastuti 0,6 persen, 

Khofifah Indar Parawansa 0,6 persen, 

Tri Rismaharini 0,5 persen dan 

Sri Mulyani 0,2 persen.

Keenam nama tersebut di antaranya Puan Maharani dengan 9,6 persen, Megawati Soekarnoputri 0,7 persen, Susi Pudjiastuti 0,6 persen, Khofifah Indar Parawansa 0,6 persen, Tri Rismaharini 0,5 persen dan Sri Mulyani 0,2 persen.

“Jadi paling tidak ada enam nama pwrempuan yang muncul dari responden itu sendiri. ini pertamyaan terbuka,” kata Kunto Adi Wibowo.

“Dan di sini, kelihatan efek atau rembesan dari persetujuan presiden perempuan tadi,” ujarnya menambahkan.

Ia melanjutkan, alasan para responde memilih presiden perempuan lantaran dianggap berani, tegas hingga cerdas. Sementara 11,6 persen responden memilih perempuan karena memiliki gender serupa.

Selain simulasi terbuka, Kunto mengatakan suvei juga menyajikan pertanyaan tertutup 19 tokoh, nama-nama capres perempuan.

Hasilnya capres perempuan memiliki tren penguatan dengan Puan Maharani mendapatkan keterpilihan sebesar 11,3 persen, Susi Pudjiastuti 1,6 persen, Tri Rismaharini 1,4 persen, Khofifah Indar Parawansa 1,3 persen dan Sri Mulyani Indrawati 0,6 persen.

Baca juga: PDIP Tegur Lisan Ganjar Pranowo Terkait Pilpres 2024, Begini Kata Pengamat Politik Gorontalo

"Peluang perempuan di pilpres 2024 semakin terbuka lebar dengan konsistensi angka keterpilihan capres perempuan di dalam simulasi sepuluh nama sampai dengan empat nama," kata Kunto. 

Sementara itu, ia mengatakan figur perempuan dalam calon wakil presiden pun punya elektabilitas yang cukup tinggi pula.

Hal itu terlihat dari Puan Maharani yang mendapat 6,4 persen, Tri Rismaharini 2,2 persen, Sri Mulyani 1,2 persen, dan Susi Pudjiastuti 1,1 persen.

“Salah satu temuan penting dalam survei ini adalah 53,8 persen pemilih mengatakan bahwa pilihan presiden mereka akan berubah,” ujarnya.

Kunto merinci, dari mereka yang pilihannya akan berubah, 43,2 persen mengatakan akan mengubah pilihannya setelah penetapan capres dan cawapres.

Kemudian sebanyak 22,4 persen akan mengubah setelah kampanye dimulai, 19,4 persen di hari pemilu dilaksanakan, dan 11,9 persen pada saat masa tenang kampanye.

Kunto menambahkan bahwa tingginya kecenderungan perubahan pilihan ini disebabkan ketidakpastian capres-cawapres yang belum ditetapkan oleh partai maupun koalisi partai. 

Selain itu terdapat tendensi untuk menunggu masa kampanye hingga hari tenang untuk mengumpulkan informasi tentang calon-calon presiden yang telah ditetapkan secara lebih serius.

“Angka keterpilihan ini masih dinamis dan masih terbuka peluang bagi tokoh-tokoh calon pemimpin bangsa untuk lebih mengarus-utamakan pendidikan politik dengan isu dan program yang nyata," ucapnya.

Survei Opini Publik Pada Pemimpin Perempuan diselenggarakan oleh Lembaga Survei KedaiKOPI pada 3-18 Agustus 2022 di 34 provinsi di Indonesia.

Sebanyak 1197 responden dipilih secara acak dengan menggunakan metode multistage random sampling dengan margin of error ±2,89 peersen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Adapun wawancara dilakukan secara tatap muka dengan menggunakan Computer Assisted Personal Interviewing (CAPI).

(*)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Ketua DPP PDIP: Pilpres 2024 Momentum Tepat Hadirkan Pemimpin Perempuan

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved