Mengintip Keunikan Tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Bongo-Gorontalo
Tradisi ini disebut sudah ada sejak abad ke-17 saat Islam masuk ke Bumi Hulondalo. Ditandai dengan dikili atau tradisi zikir di masjid At-takwa
Penulis: Redaksi |
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/20102022_tolangga_dikili_walima.jpg)
Rasa kolombengi yang manis dengan tekstur yang lembut menjadi kudapan yang pas dipasangkan dengan teh atau kopi panas.
Selain melestarikan tradisi walima dengan baik, Desa Bongo punya tiga daya tarik destinasi wisata.
Di bagian timur ada Pantai Dulanga, di atas bukit desa dibangun masjid Walima Emas serta Taman Bubohu di tengah desa.
Penggagasnya adalah almarhum Yosef Tahir Ma’ruf atau lebih dikenal dengan Yotama. Tokoh setempat yang peduli terhadap pelestarian agama dan budaya.
Bersama warga desa setempat, Taman Bubohu dijadikan sebagai pesantren alam dengan empat buah wombohe atau pondok berbentuk walima. Empat wombohe sebagai simbol empat sahabat Nabi.
Di sisi tengahnya ada kolam berbentuk seperti janin manusia dalam kandungan. Kelahiran Nabi Muhammad SAW menjadi filosofi dari kolam itu. Ada juga ratusan burung merpati yang senantiasa menyambut wisatan yang berkunjung ke tempat tersebut.
Masjid Walima Emas melengkapi simbol religi desa Bongo. Bentuknya unik, menyerupai seperti tolangga raksasa yang berdiri di atas bukit.
Selain sebagai tempat ibadah, pemandangan pantai desa Bongo dan sebagian Kota Gorontalo terlihat dari sana.
Tahun 2021 Desa Bongo mendapatkan Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) dari Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Bongo menjadi juara dua kategori Desa Wisata Berkembang.
Tidak hanya itu, keindahan alam dan warganya yang religi membuat Desa Bongo ditetapkan Pemerintah Provinsi Gorontalo sebagai Desa Wisata Religi.(*)